Diplomasi Santun untuk Jihad yang Keras

(Catatan Ringan Atas Wawancara Al-Jaulani)

Dinamika jihad yang dialami umat Islam menampakkan perkembangan positif. Setidaknya dalam hal kedewasaan punggawanya dalam berkomunikasi. Jihad bisa dikomunikasikan dengan sangat humanis, melalui saluran informasi mainstream, TV Al-Jazera, bukan melalui website ‘gelap’ yang biasanya menjadi pakem jihadis.

Setidaknya itulah garis besar kesimpulan yang bisa ditangkap dari wawancara TV Al-Jazera bersama Abu Muhammad al-Jaulani, komandan Jabhah Nusrah, faksi jihad Suriah paling menonjol saat ini. Seorang komandan lapangan yang berhadapan langsung dengan dunia keras, tapi bisa mengkomunikasikan pikirannya dengan santun dan humanis layaknya politisi.

Meski tampil dengan wajah membelakangi kamera, tapi tak kehilangan sisi wajar dan alami dalam wawancara tersebut. Wajah tak tampak tapi tidak menciptakan efek horor. Penonton dibuat sadar, bahwa ini hanya sebuah tuntutan keadaan karena sosok pemimpin jihad saat ini merupakan makhluq paling dicari di muka bumi. Harganya juga melambung tinggi, mengikuti hukum suply and demand. Barang langka dan dicari banyak orang, jadinya mahal.

Ketrampilan semacam ini termasuk langka dan sangat tidak mudah dilakukan. Seorang jihadis murni yang dalam kesehariannya bergelut dengan darah, kematian, luka dan kadang pengkhianatan kawan, akan cenderung berwatak keras dan kasar karena bahasa tunggal yang dipahami hanya senapan. Semua masalah hanya tuntas dan memberikan kepuasan batin jika diselesaikan dengan senapan.

Karakter ini akan menghiasi sikap, ucapan dan bahasa tubuhnya. Baginya, diplomasi adalah banci. Lu jual gua beli. Lu yang mati atau gua yang mati. Simpel dan memuaskan adrenalin.

Tapi tidak dengan Abu Muhammad Al-Jaulani. Kehidupan keras itu tak membuatnya kehilangan karakter asasi seorang mujahid yang matang; santun, humanis tapi bisa sangat mematikan.

Memenangkan Hati dan Pikiran vs Tangan Besi

Diplomasi yang ditampilkan Al-Jaulani bercorak bassyiru wala tunaffiru; memberi pernyataan sejuk dan bernada merangkul bukan menebar ancaman untuk menciptakan horor. Ini sejalan dengan misi yang dibawa Islam: rahmatan lil alamin.

Umat Islam, wa bil khusus di Timur Tengah, sekian lama kehidupan mereka terpola dalam nasionalisme dan loyalitasnya dibangun dengan paradigma jahiliyah. Sementara mujahidin mencoba menawarkan pola pikir baru dan konsep loyalitas baru; bersumbu pada Islam.

Tentu tidak mudah merubah relasi sosial yang sudah mapan. Loyalitas sudah terbentuk. Ada yang loyalitasnya kepada partai, nasionalisme dan agama. Mujahidin menawarkan model loyalitas tunggal yang baru, hanya untuk Islam.

Nah, dalam merubah loyalitas masyarakat bisa dengan dua pilihan. Pertama, dengan besi, seperti yang dilakukan Korut. Kedua, pendekatan lembut dan diplomasi santun dengan cara mengambil hati dan pikiran masyarakat secara halus dan maanusiawi.

Cara pertama cepat dan instan tapi dangkal karena tak dibarengi hati yang tulus. Sementara cara kedua lambat, tapi punya pijakan jangka panjang yang lebih baik karena yang direbut adalah hati dan pikiran masyarakat.

Tampaknya Abu Muhammad Al-Jaulani lebih memilih pendekatan kedua. Sementara di saat bersamaan, ISIS mengambil cara pertama; keras tanpa kompromi. Al-Jaulani, sebagaimana yang kini menjadi doktrin jaringan Al-Qaida, mencoba mengambil hati dan pikiran masyarakat agar tidak kian bertambah musuh yang tidak perlu. Bagi mereka, dukungan sekecil apapun dan muncul pada momentum kapanpun secara tak terduga, adalah simpanan kekuatan yang sangat berarti bagi perjalanan jihad ke depan.

Karenanya sikap bersahabat kepada pihak-pihak yang masih mungkin diberikan sikap itu oleh syariat perlu ditempuh. Seperti bagaimana Al-Jaulani yang menempatkan diri sebagai mitra bagi seluruh kelompok jihad yang ada di lapangan. Bukan datang laksana penakluk kejam; semua masyarakat harus tunduk patuh kepadanya bila tidak belati solusinya. Al-Jaulani dan JN menempatkan diri sebagai sahabat karib bagi masyarakat, sepanjang tak dilarang syariat.

Mengurangi Jumlah Musuh vs Memperbanyak Musuh

Semangat untuk mengurangi jumlah musuh tanpa melanggar syariat sangat terasa dalam diplomasi Al-Jaulani. Dalam menyikapi kaum Alawi pengikut Bashar Asad, asal mereka mau dilucuti dan tidak membantu Bashar Asad, akan diampuni oleh JN untuk kemudian didakwahi dan diluruskan aqidahnya. Tentu saja menjadi iming-iming menyejukkan bagi kaum Alawi. Mereka digoda loyalitasnya agar putus dari komunitas Alawinya lalu berpindah menjadi pro Sunni.

Dengan kalkulasi senjakala Bashar akan segera tiba, tawaran ini sangat potensial akan menggeser pijakan kaki loyalitas mereka, atau sekurangnya menggoyahkannya. Ini adalah perang, keberhasilan menggoyahkan pijakan loyalitas bisa menjadi bagian dari modal kemenangan jangka panjang.

Dalam menyikapi kaum Kristen Suriah juga menarik. Mereka tak akan dijadikan obyek pembalasan untuk kezaliman yang dilakukan oleh kaum Kristen Koptik, Mesir. Al-Jaulani ingin memberi pesan kuat, bahwa jihad bukan angin badai yang menyapu apa saja tanpa pandang bulu. Tetapi jihad justru konsep perang yang paling manusiawi sepanjang sejarah manusia. Saat menang tak menggunakan kekuasaan itu untuk menumpahkan darah demi kepuasan dendam.

Sikap ini juga menjadi godaan loyalitas bagi kaum Kristen. Al-Jaulani paham bahwa jumlah Kristen di Suriah sedikit karenanya pasti akan memberikan dukungan kepada salah satu pihak yang bertikai; Bashar vs Mujahidin. Diplomasi Al-Jaulani bertujuan memutus tali loyalitas kaum Kristen terhadap Bashar. Jika ini berhasil, setidaknya dukungan unsur masyarakat terhadap Bashar akan berkurang. Dan yang paling penting, Diplomasi Al-Jaulani tidak melewati garis syar’i.

Berseteru tapi Santun

Termasuk gaya diplomasi santun Al-Jaulani adalah saat menjelaskan sikap JN terhadap rivalnya; ISIS. Sebagaimana diketahui, antara ISIS dan JN seperti musuh bebuyutan. Al-Jaulani tak menjawab secara langsung saat ditanya sikapnya terhadap  ISIS.  Ia menggunakan cara halus, bahwa ISIS dikategorikan Khawarij oleh para ulama dan pemerhati jihad kontemporer. Bahwa sikap JN terhadap ISIS bukan sikap emosional dan dendam, tapi sekedar mengikuti kesimpulan para ulama. Al-Jaulani ingin meredam konflik, bukan menambah besar skala konflik.

Ini merupakan pelajaran berseteru yang bagus. Banyak aktifis yang tak mampu mengendalikan sumpah serapahnya saat mengekspresikan kebencian kepada ISIS atau kebalikannya, pengikut ISIS kepada kelompok-kelompok jihad lain. Al-Jaulani tak menihilkan adanya perseteruan dengan ISIS, tapi membahasakannya dengan santun dan tak arogan.

Menyimak wawancara Al-Jaulani pikiran jadi terkenang dengan syekh Usamah bin Ladin yang juga tutur bahasanya lebut dan santun. Kedalaman wawasan politiknya, seni diplomasi, kehati-hatian dalam merangkai pernyataan dan hormatnya yang tinggi kepada para ulama, yang dirangkai dengan ketajaman pedang dalam meruntuhkan bangunan kafir dan zalim, jelas mengingatkan kepada sosok Usamah bin Ladin, penghulu mujahidin modern.

Akankah Al-Jaulani menjadi the next Osama ? Wallahua’lam.

Jakarta, Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s