Mencari Tamkin Siyasi di Turki


Tiba-tiba muncul nama Fethullah Gulen setelah upaya kudeta gagal di Turki 15 Juli 2016 silam. Seorang tokoh Turki yang punya banyak pengikut dari kalangan akar rumput hingga loyalis di pemerintahan dan militer. Dia punya banyak sekolah dan lembaga usaha, bukan hanya di dalam bahkan di luar negeri. Konon beberapa sekolah Turki di Indonesia adalah jaringannya.

Ia pernah berkawan dalam agenda politik Turki dengan sosok yang kini menjadi seteru; Erdogan. Entah apa penyebab pecahnya kongsi. Hal yang pasti, ia seorang Islamis, dan mengawali pengaruhnya di tengah masyarakat Turki melalui ceramah dan pendidikan keislaman. Ia mengawalinya sebagai seorang dai atau ustadz sekitar tahun 70-an. Baca lebih lanjut

Bercerai Untuk Menang (Catatan atas Spin-off JN dari Al-Qaeda)


Entah sisi mana yang harus dikomentari. Semua bagiannya menarik. Sosok yang selama ini misterius, tiba-tiba muncul wajahnya. Ya, wajahnya. Ini yang paling ditunggu. Soalnya tahun lalu ia baru nyicil; punggungnya. Laksana satrio piningit dalam mitologi Jawa yang ditunggu kehadirannya sebagai juru selamat. Baru beberapa jam ditayangkan Youtube, ribuan pasang mata dengan antusias melihatnya. Ada yang penasaran sekedar ingin tahu wajahnya, karena dalam wawancara tahun lalu ia membelakangi kamera. Ada yang ngebet ingin tahu untuk kemudian mengulik sisi negatifnya lalu melakukan jurus bully sebisanya. Agaknya tipe ini mewakili anak-anak ISIS yang tak akan lekang dendam mereka kepada JN meski berubah nama. Untuk AS, mereka senang bukan kepalang karena bisa mengidentifikasi wajahnya gratis tanpa repot, untuk kemudian memburunya dengan drone. Baca lebih lanjut

Tauhid dan Diplomasi Jihad


 Pertarungan yang terjadi antara al-haqq melawan al-batil semestinya berangkat dari idea. Berangkat dari pembelaan terhadap konsepsi utuh al-haqq dari serangan sporadis al-batil. Bila berangkat dari konsepsi, pemantik perseteruan yang paling afdhal adalah jika inti konsepsi diserang oleh al-batil; yakni konsepsi Tauhid. Baca lebih lanjut

Suriah dan Kebangkitan Salafi Jihadi


Suriah kini menjelma bagai gadis molek “kembang kawasan” Timur Tengah. Semua aktifis jihad berebut meminangnya. Suriah menjadi tanah paling ideal baik secara geopolitik maupun geo-ideologis sebagai habitat jihad pasca revolusi Arab. Bahkan daya tarik ini dirasakan hingga luar kawasan. Tak ada aktifis jihad yang beraliran salafi di belahan bumi manapun kecuali tertarik untuk datang meminang. Baca lebih lanjut

Reputasi, Senjata Melawan Stigma


Mengikuti perkembangan Suriah, banyak pelajaran yang bisa dipetik seiring makin diakuinya kiprah mujahidin baik lokal maupun asing yang turut meramaikan kekuatan oposisi. Dampak positifnya, nafas Islam kian mendapat tempat sebaliknya nasionalisme makin terpinggirkan. Memang rakyat Suriah sudah sejak awal memekikkan takbir, tapi takbir yang masih dibingkai nasionalisme. Celupan interaksi dengan mujahidin pelan-pelan membuat pekikan takbir itu makin ikhlas:  demi memenangkan Allah, meninggikan kalimat-Nya dan mengentaskan umat Islam dari kezaliman. Baca lebih lanjut

Salafi Jihadi, Momok Musuh Islam


Istilah Salafi Jihadi kini makin populer, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Entah siapa yang pertama mempopulerkan dan sejak kapan. Tapi yang pasti, kombinasi manhaj Salaf dan gerakan jihad menjadi momok yang menakutkan bagi banyak kalangan, karena dua kosa kata ini menjadi duet maut yang amat sulit ditaklukkan. Baca lebih lanjut

Jihad, Subordinat Dakwah


Salah satu yang sangat kurang dipahami dan dihayati para aktifis muslim adalah bahwa dakwah harus menjadi warna dominan dalam gerakan kemerdekaan Islam yang mereka usung. Jika bicara soal gerakan kemerdekaan Islam, yang menonjol terlihat baik oleh kawan atau lawan biasanya nuansa perlawanan fisik atau jihad bersenjata. Mereka umumnya terlalu tercelup dengan paradigma bahwa cara yang paling mujarab untuk memerdekakan Islam adalah jalan senjata alias jihad. Jalan paling pintas untuk memerdekakan Islam adalah jihad. Dakwah? Terlalu lama. Begitulah umumnya persepsi yang ada di benak aktifis yang kadung terobsesi jihad. Baca lebih lanjut

ANTARA JIHAD, IBADAH DAN MENUNTUT ILMU


Mukadimah

Beberapa saat yang lalu ada segelintir orang yang menyatakan bahwa berjihad dengan mengangkat senjata dalam rangka menentang penjajahan yang dipelopori kaum kafir seperti yang terjadi di Irak, Palestina, Checnya dan negara-negara lainnya adalah Khawarij, teroris, matinya konyol, ruwaibidhah, dungu, anak ingusan dan berbagai label negatif lainnya.

Ironisnya, kata-kata itu justru keluar dari kalangan yang menisbatkan dirinya kepada ‘Ahli Sunnah’. Salah seorang dari kalangan tersebut dengan terang-terangan menyatakan bahwa Ibnu Ladin lebih berbahaya dari pada Binyamin Netanyaho seorang tokoh Yahudi. Hal ini diucapkan ketika Netanyaho menjadi PM Israil. Baca lebih lanjut

Pergolakan Arab dalam Perspektif Muqawamah


Pergolakan sosial sejak awal 2011 di Afrika Utara dan Timur Tengah memberi banyak inspirasi kepada dunia, tak terkecuali umat Islam. Kejadiannya mengalir, disulut oleh suatu peristiwa yang tampak biasa. Bermula dari perlawanan seorang pemuda tukang buah yang membakar diri akibat gejolak kemarahan yang membuncah di dadanya dan tertahankan lagi, sementara salurannya tak ada.  Ia merasa membentur tembok kokoh yang membuat semua jeritan dan tuntutan keadilan yang ia teriakkan menguap terbawa angin. Baca lebih lanjut

Do’a, Ranah Antiteror di Tanah Suci


Perjalanan Umrah Ramadhan 1431 H membawa kesan menarik. Meski hanya sebentar, sedikit banyak bisa merasakan aura pertarungan ideologi di Arab Saudi antara kaum militan dengan kerajaan. Negara ini memiliki posisi unik di tengah kancah pertarungan ideologi global.

Arab Saudi menjadi penyumbang terbesar dari 19 orang yang melakukan serangan istisyhadiyah pada peristiwa ambruknya WTC. Dari 19 orang pelaku, 12 di antaranya adalah warga Saudi. Demikian pula tokoh sentral isu terorisme global, Usamah bin Ladin, juga warga Saudi meski kemudian dibatalkan kewarganegaraannya oleh Kerajaan. Baca lebih lanjut