Mencari Tamkin Siyasi di Turki


Tiba-tiba muncul nama Fethullah Gulen setelah upaya kudeta gagal di Turki 15 Juli 2016 silam. Seorang tokoh Turki yang punya banyak pengikut dari kalangan akar rumput hingga loyalis di pemerintahan dan militer. Dia punya banyak sekolah dan lembaga usaha, bukan hanya di dalam bahkan di luar negeri. Konon beberapa sekolah Turki di Indonesia adalah jaringannya.

Ia pernah berkawan dalam agenda politik Turki dengan sosok yang kini menjadi seteru; Erdogan. Entah apa penyebab pecahnya kongsi. Hal yang pasti, ia seorang Islamis, dan mengawali pengaruhnya di tengah masyarakat Turki melalui ceramah dan pendidikan keislaman. Ia mengawalinya sebagai seorang dai atau ustadz sekitar tahun 70-an.

Maknanya ia dengan Erdogan dipersatukan oleh nafas keislaman. Jika benar kudeta didalangi oleh Gulen, kita berhak berkesimpulan, ini tak lebih persaingan dua Islamis dalam memperebutkan kekuasaan di Turki. Tak ada jaminan bahwa seandainya kudeta berhasil maka kondisi Turki akan kembali seperti era Kemal Ataturk dengan semangat anti Islam yang kental. Sebaliknya tak ada jaminan keberhasilan Erdogan bertahan dari kudeta maka Turki akan menjadi lebih Islami seperti era khilafah Usmani yang menjadikan Islam sebagai acuan tunggal dalam menyelenggarakan negara.

Euforia Tanda Tanya

Turki pernah menjadi kiblat kekuasaan umat Islam di seluruh dunia sebelum kejatuhannya pada 1924. Bukan hanya aliansi besar negara-negara Islam, tapi bahkan negara-negara Islam menjadi semacam propinsi dengan kekuasaan terpusat di Turki. Saat itu Turki sangat berwibawa, dan satu hal yang paling penting dicatat: undang-undang, sistem hukum, sistem politik dan ekonomi berlandaskan Islam.

Tapi Turki juga pernah menjadi negara paling sekuler dengan semangat membuang Islam yang demikian kentara. Bahkan syiar-syiar keislaman diberangus habis. Tak pernah terbayang sebelumnya, lafadz adzan saja diatur oleh negara, tak boleh berbahasa Arab, tapi berbahasa Turki. Islam benar-benar dicampakkan hingga urusan privat seorang muslim.

Namun kini, setelah berlalu hampir satu abad sejak runtuhnya sistem ideal (Islami) menjadi sistem paling brutal (puncak sekularisme), dialektika dua kondisi ini menghasilkan banyak perubahan positif menjadi lebih Islami. Secara prinsip sekularisme belum pergi dari Turki, namun beberapa nilai keislaman sudah diperkenankan untuk hidup. Pemilik panggung masih sekuler ditandai dengan sistem tata negaranya menggunakan Demokrasi, tapi beberapa pertunjukannya sudah lebih Islami, begitulah perumpamaannya.

Ini bukan salah Erdogan atau Gulen ketika khilafah belum kembali tegak. Keduanya sudah melakukan upaya perbaikan sesuai kreatifitas masing-masing. Persoalan seserius khilafah tak mungkin hanya menyandarkan pada upaya satu atau dua orang. Belum lagi jika melihat pada medium perbaikan; memanfaatkan celah Demokrasi. Siapapun yang melakukan perbaikan keadaan yang sebelumnya kurang Islami menjadi lebih Islami di dalam ruang besar sistem Demokrasi, ia tak akan pernah merubah sistem Demokrasi menjadi sistem Islam.

Keberhasilan Erdogan memperbaiki keadaan masyarakat Turki menjadi lebih relijius melalui Demokrasi, membawa negara lebih makmur, menunjukkan keberanian seorang pemimpin di hadapan pemimpin-pemimpin negara besar, lalu yang terakhir kehebatannya menahan gempuran kudeta, membuat para aktifis muslim pro Demokrasi di sini ikut euforia. Erdogan dielu-elukan sedemikian rupa, sebagai sosok pemimpin Muslim impian. Mereka lantas menitipkan masa depan umat Islam kepada Erdogan.

Kegembiraan dan dukungan kita kepada Erdogan tidak salah. Ia telah melakukan pekerjaan hebat dalam posisinya yang lemah (terkurung sistem Demokrasi adalah kelemahan bawaan). Ia dengan lugas membantu ribuan pengungsi Suriah dari kezaliman rejim Bashar dan kebrutalan perang. Bagi mereka, Turki di bawah nahkoda Erdogan adalah negeri yang sigap membela kaum lemah. Prestasi ini tak patut untuk dikesampingkan oleh siapapun yang membahas Erdogan.

Tapi menitipkan masa depan Islam kepada Erdogan itu berlebihan. Erdogan sendiri lemah karena terpasung oleh sistem Demokrasi dan belitan-belitan politik internasional lain sebagai dampak dari kekalahan khilafah Usmani dari koalisi Barat yang kini punya “khilafah” sendiri bernama PBB. Erdogan menggunakan Demokrasi sebagai medium dan kendaraan perubahan, tak mungkin bisa menentukan hari H titik balik yaitu hari ia membuang Demokrasi dan memeluk sistem Islam. Ini alasan mendasar mengapa kita tak bisa menitipkan Islam yang sempurna kepada Erdogan dan Turki selagi masih menyatu dengan Demokrasi. Kalau yang dititipkan adalah semarak syiar Islam masih bisa, tapi jika yang dititipkan adalah Islam yang sempurna, sangat jauh kemungkinannya, untuk tidak mengatakan mustahil.

Menuju Tamkin Siyasi

Islam yang sempurna ditandai dengan pengakuan politis diplomatis dari negara lain atas kedaulatan Islam di sebuah wilayah. Gambaran sederhananya, Islam berdaulat penuh di suatu wilayah dengan menerapkan semua hukum Islam dari A sampai Z tapi kedaulatannya diakui oleh negara lain tak ada yang mencoba intervensi. Negara Islam tersebut bisa mengeluarkan pasport dan bisa menjadi dokumen resmi perjalanan ke negara lain.

Pada zaman Nabi saw, pengakuan diplomatik itu terjadi secara eksplisit saat kaum kafir Mekah melakukan perjanjian damai dengan Nabi saw di Hudaibiyah. Al-Qur’an menyebutnya dengan fathan mubina, kemenangan besar. Sebabnya sederhana, perjanjian damai mengandung implifikasi pengakuan diplomatik terhadap eksistensi dan kedaulatan kekuasaan Islam. Inilah yang kemudian populer dengan istilah tamkin siyasi, yakni pengakuan eksistensi dan kedaulatan secara politik-diplomatik.

Pasca runtuhnya khilafah Islamiyah Turki Usmani pada 1924, tak ada satupun negara Islam yang berdaulat penuh mendapat tamkin siyasi. Pengakuan diplomatik harus dilandasi syarat tak tertulis; bergabung dalam PBB (khilafahnya Barat) dan Islam yang diterapkan bukan Islam yang  garang terhadap Barat tapi Islam yang lunak (baca: nurut) terhadap Barat. Arab Saudi adalah negeri Islam dengan warna Islam paling pekat, dan ia mendapat pengakuan diplomatik untuk menjadi negara merdeka. Alasannya simpel, Saudi memenuhi dua syarat tak tertulis tersebut.

Memang Turki negara merdeka berdaulat, tapi kedaulatannya tidak dibangun di atas landasan Islam yang sempurna. Turki dibangun di atas Demokrasi. Karenanya pengakuan diplomatik untuk Turki tidak masuk dalam istilah tamkin siyasi yang kita maksud. Pengakuan diplomatik atas negeri Demokratis itu biasa. Sesama pemeluk Demokrasi pasti saling mengakui.

Masa depan Islam dengan demikian tak bisa dititipkan kepada Turki. Terlalu berat beban Turki untuk merdeka dengan Islam yang sempurna. Ia pernah menjadi momok Barat saat menjadi khilafah, karenanya Barat akan dengan sekuat tenaga menghadang langkah Turki untuk merebut tamkin siyasi.

Saat ini yang menempuh langkah pelan nan terjal tapi pasti menuju tamkin siyasi adalah wilayah-wilayah yang sedang bergolak dengan jihad. Terdepan, Taliban. Lalu kekuatan oposisi Suriah. Lalu mujahidin Somalia. Lalu mujahidin Yaman, dan seterusnya. Jika kekuatan mereka makin mengancam Barat, mau tak mau Barat duduk di meja perundingan. Saat itulah tamkin siyasi dalam makna hakiki berhasil diraih umat Islam, persis mengulang fathan mubina saat perjanjian Hudaibiyah.

Contoh kecil, Taliban pernah membuka kantor diplomatik di Qatar atas permintaan AS. Sebabnya, AS ingin melakukan pertukaran tawanan, sementara perjanjian pertukaran tawanan harus dilakukan secara resmi G to G di wilayah netral melalui kantor perwakilan diplomatik. Memang skalanya masih kecil, tapi ini sudah bermakna terbukanya jalan menuju pengakuan diplomatik secara lebih permanen dan resmi. Dan Taliban yakin, ini hanya soal waktu menunggu terkurasnya kekuatan AS hingga mereka sendiri yang minta dilakukan perjanjian damai sehingga saling mengakui kedaulatan masing-masing.

Itulah mengapa AS selalu mengulang pernyataan, “kami tak akan bernegosiasi dengan teroris”. Sebab AS paham, negosiasi bermakna mengakui eksistensi dan kedaulatan. AS ingin mengulur waktu selama mungkin terhadap kalangan jihadis agar tak mendapat pengakuan eksistensi diplomatik. Sebaliknya kaum jihadis seluruh dunia sadar, satu-satunya cara untuk membuat AS dan Barat memberi pengakuan diplomatik adalah dengan meningkatkan pukulan hingga AS dan Barat terhuyung bahkan pingsan, lalu terpaksa memberi pengakuan. Rasanya tak mungkin Barat akan memberikan hadiah gratis pengakuan diplomatik. Sebab pengakuan bermakna simbol kekalahan. Mereka tak mau kalah, meski Allah niscaya akan membuat mereka kalah.

Para Islamis pengibar panji Demokrasi tak pernah serius mencari legitimasi tamkin siyasi untuk Islam. Mereka mencari untuk dirinya, dan kalaupun mereka memperolehnya, bukan dipersembahkan untuk Islam, tapi persembahan terbesar mereka adalah untuk menjunjung tinggi Demokrasi dan menuju negara yang lebih Demokratis. Bahkan kalau mau jujur, niat untuk memberi persembahan tamkin siyasi kepada Islam saja belum pernah hadir di benak mereka. Jika demikian, layakkan mereka ditunggu untuk memberi kedaulatan kepada Islam ?

Kepada para ksatria yang memperjuangkan tamkin siyasi dengan harta dan nyawa mereka kami harus percaya. Usaha mereka terjal dan penuh duri, tapi karena pilihan jalan itu adalah sunnah Rasulullah saw, maka mereka menyusurinya dengan sabar, yakin dan tawakkal. Dan kepada mereka masa depan Islam lebih layak kita titipkan sambil kita ikut kontribusi sebisanya dan sekecil apapun. Lebih baik berkontribusi meski kecil di jalan yang benar untuk sebuah kemenangan yang sulit daripada sebuah hingar-bingar ramai di jalan yang tidak jelas untuk meraih sesuatu yang absurd. Perkara absurd yang seolah tampak gamblang adalah perjuangan melalui parlemen. Sebaliknya, perkara gamblang tapi tampak absurd oleh mata rabun adalah perjuangan menuju kedaulatan Islam melalui dakwah, tarbiyah dan jihad fi sabilillah. Hanya karena terjal dan sulit jadi tampak absurd. Hanya ilmu, yakin, sabar dan tawakkal yang bisa mengusir absurditas tersebut. Wallahu a’lam bis shawab.

Bekasi, 31 Agustus 2016

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s