Ahok No, System No, Islam Yes


Realita umat Islam lebih banyak yang pahit. Tak hanya di Timur Tengah sana yang belum juga surut dari pertumpahan darah masal. Kendati bukan saling bunuh, persoalan kaum muslimin di sini tak kalah rumit. Di balik situasi damai dan makmur secara lahir sejatinya menyimpan banyak problema di belakang layar.

Ahok memperoleh peruntungan setelah karir Jokowi yang moncer, menjadi pucuk pimpinan negeri ini. Jakarta yang kental warna Islamnya kini dipimpin seorang non muslim keturunan Tionghoa pula. Sebagian menganggap biasa, sebagian lain merasa luar biasa. Bagaimana mungkin daerah mayoritas muslim justru dipimpin gubernur non muslim? Emangnya gak ada muslim yang layak memimpin? 

Jika fase sebelumnya jabatan gubernur Ahok sebuah keberuntungan, tapi kini ia akan maju lagi sebagai dirinya sendiri apa adanya menjadi calon gubernur Jakarta. Dan sejauh ini berbagai prediksi menyebut ia memang punya kans untuk menang. Agaknya faktor terbesar karena umat Islam banyak yang tersihir oleh kelugasannya selama memimpin Jakarta, tak peduli agamanya. Faktor ‘hoki’ terpenting Ahok adalah ia sosok pragmatis berada di tengah habitat pragmatis; klop. Tak ayal fenomena ini membuat tokoh-tokoh muslim Jakarta gelisah.

Dan ngomongin soal gelisah, kegelisahan terbaik adalah kegelisahan untuk hal prinsip, bukan kegelisahan untuk hal sekunder. Kegelisahan terbaik adalah yang menggerakkan energi perlawanan dan kreatifitas, bukan kegelisahan yang berujung bingung lalu angkat tangan.

Mekanisme Demokrasi vs Etika Demokrasi

Banyak masyarakat muslim Jakarta yang kesal karena tanah tumpah darah mereka yang kental warna Islamnya dipimpin seorang China keturunan yang non muslim. Kesadaran ini merupakan refleksi kecintaan mereka kepada Islam. Mereka mayoritas merasa berhak menuntut agar pemimpin mereka sesuai dengan agama mayoritas. Logis secara pertimbangan apapun, termasuk logika Demokrasi.

Tapi kekecewaan mereka juga bisa dimentahkan oleh realita Demokrasi. Setiap warga negara Indonesia punya hak dan peluang yang sama untuk menjadi pemimpin karena syarat kepemimpinan tak dikaitkan pada agama yang dianut.

Karenanya dapat dikatakan, mereka yang menolak Ahok menggunakan logika Demokrasi yang bertumpu pada keinginan mayoritas. Tapi fakta Ahok menjadi pemimpin Jakarta juga tak melanggar apapun dari diktum Demokrasi. Ahok tak melakukan kecurangan dalam meniti karir melalui mekanisme Demokrasi hingga bernasib mujur menjadi pemimpin Jakarta yang mayoritas muslim.

Fakta ini sungguh dilematis bagi muslim Jakarta. Menggunakan mekanisme Demokrasi untuk melengserkan Ahok terbukti sulit karena Ahok kuat secara aturan main Demokrasi. Satu-satunya cara tinggal menggunakan logika kepantasan alias atika politik yang bersifat melas atau – kemungkinan lain – maksa, jika punya cukup kekuatan.

Senjata melas berupa seruan agar Ahok mundur karena ia tak pantas memimpin kota yang mayoritas muslim. Cara ini sangat bergantung pada Ahok apakah ia akan tetap pada posisinya atau mau menuruti pertimbangan etika politik tersebut.

Sementara senjata maksa, berupa penggalangan opini, kampanye penolakan, demo besar-besaran bahkan kalo perlu anarkis. Sangat tidak mudah memang menggulirkan agenda keislaman melalui mekanisme Demokrasi yang kian matang. Dilema ini kian rumit jika Ahok kelak menang pilkada dengan cara yang demokratis.

Back To Basic: Anti Sistem

Gerakan menolak Ahok hanya karena agamanya jikapun berhasil belum tentu kegelisahan umat selesai. Sebab tak ada jaminan pengganti Ahok yang muslim prestasi dan kinerjanya lebih baik dibanding Ahok. Bila ini terjadi, maka akan menjadi tabungan skeptisisme yang menjalar di tengah umat: yang muslim malah lebih parah dibanding Ahok yang kafir ! Walhasil di masa depan umat kian sulit diajak bergerak dengan landasan sentimen agama. Dan umat kian memasrahkan nasib kehidupannya kepada Demokrasi: pokoknya kami persetan dengan agama, kami dukung siapapun yang penting membawa kesejahteraan rakyat. Demokrasi kian berjaya dan Islam kian merana !

Tapi bukan berarti gerakan menolak Ahok karena agamanya tak bermanfaat. Sekurangnya bisa mengingatkan umat bahwa keislaman itu bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial. Banyak kerugian jika suatu daerah dipimpin non muslim. Regulasi, anggaran dan keberpihakan kepada umat Islam yang mayoritas akan berkurang. Pada sisi lain, loby-loby non muslim akan lebih mulus karena pemimpinnya kafir. Mata telanjang mungkin tak bisa dengan mudah melihat kerugian itu, tapi bila diteliti dengan seksama niscaya nyata dan tak terbantahkan.

Namun tak boleh berhenti di situ. Umat perlu diajari pokok aqidah yang lebih mendasar, tak cuma sentimen agama. Bahwa sistem bernama Demokrasi yang menjadi akar masalah mengapa seorang Ahok yang non muslim bisa memimpin Jakarta yang mayoritas muslim. Penolakan kepada Ahok hanyalah cabang dari penolakan terhadap sistem politik tata negara yang memungkinkan Ahok memimpin umat Islam.

Dalam ungkapan lebih sederhana, penolakan terhadap sistem bersifat mendasar, mengakar dan menghunjam di sanubari aqidah seorang muslim. Sementara penolakan terhadap Ahok hanya buah dari sekian banyak buah lain. Sebab penolakan terhadap sistem bisa membuahkan juga penolakan terhadap produk hukumnya, sentimen nasionalisme-jahiliyahnya, pembiaran terhadap aliran sesat dan seterusnya. Buahnya mudah dipetik jika akar aqidahnya sudah benar.

Peta Sikap Politik Umat

Betapa menyedihkan keadaan umat bila diteropong dari sisi siyasah syar’iyyah (konsep politik Islam). Jika sikap mereka terhadap Ahok sebagai studi kasus, maka peta sikap umat akan sebagai berikut;

Jumlah mayoritas agaknya yang skeptis dengan agama Ahok. Mau muslim mau kafir gak urusan, yang penting dia meniti karirnya secara konstitusional dan membawa kemaslahatan dunia bagi rakyat.

Berikutnya mereka yang masih punya sentimen keislaman tinggi sehingga tersinggung harga dirinya ketika dipimpin Ahok. Tapi kelompok ini hanya berhenti pada persoalan agama Ahok, tak terpikir untuk menolak sistem yang memberi jalan Ahok untuk memegang tampuk kekuasaan di Jakarta.

Dan yang paling kecil tentu saja mereka yang menolak Ahok sebagai buah dari penolakan terhadap sistem jahiliyah yang rabun terhadap garis tegas Islam – kafir. Wajar karena untuk sampai pada level ini membutuhkan kerja dakwah yang tak sedikit.

Pertarungan masa kini dan masa depan adalah pertarungan memperebutkan hati dan pikiran masyarakat. Merebut hati yang paling mendasar tentu tertanamnya dasar aqidah yang benar dalam menyikapi kehidupan, baru kemudian aspek simpati dan dukungan. Dan kemenangan merebut pikiran adalah memberi warna Islami terhadap pola pikirnya.

Alam pikiran masyarakat yang kian liberal dan makin abainya mereka terhadap perkara aqidah karena penampilan Demokrasi yang kian ciamik membuat kerja dakwah yang idealis makin sulit. Diperlukan strategi jitu, kreatifitas tinggi dan tenaga yang lebih untuk mensukseskannya.

Menolak Ahok karena agamanya bukan garis finis perjuangan membumikan Islam dan membela kepentingan umat Islam. Masih ada hal yang lebih mendasar, penolakan terhadap sistem jahiliyahnya. Dan ribuan kasus kezaliman, kemaksiyatan, dan kesesatan lain yang perlu dipecahkan satu per satu. Siapkan nafas panjang karena perjalanan masihlah jauh. Seorang idealis-ideologis tak akan cepat puas hingga Islam menjadi warna langit dan meresap di pori-pori bumi. Wallahulmusta’an.

17 Nop 2014

Train Inspiration 

diupdate pada 19 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s