Tauhid dan Diplomasi Jihad


 Pertarungan yang terjadi antara al-haqq melawan al-batil semestinya berangkat dari idea. Berangkat dari pembelaan terhadap konsepsi utuh al-haqq dari serangan sporadis al-batil. Bila berangkat dari konsepsi, pemantik perseteruan yang paling afdhal adalah jika inti konsepsi diserang oleh al-batil; yakni konsepsi Tauhid.

Dengan demikian, keberadaan praktek syirik, yang merupakan perbedaan nyata dari konsepsi Tauhid, seharusnya paling pas menempati posisi sebagai pemicu, spirit dan jantung pertarungan. Praktek syirik banyak ragamnya, baik syirik terkait ‘dunia lain’, perdukunan, paganisme, maupun syirik terkait sistem kekuasaan.

Atau jika al-haqq itu dilambangkan status pemeluknya;  muslim –  maka poros pertarungan melawan al-batil terletak pada status muslim atau kafirnya. Kapan seseorang atau komunitas telah berubah status dari muslim menjadi kafir, saat itu genderang pertarungan mulai ditabuh. Status kekafiran menjadi pemicu pertarungan.

Secara konseptual memang benar. Pertarungan antara al-haqq melawan al-batil harus dilandasi perbedaan dasar konsepsi antara al-haqq dengan al-batil itu sendiri. Tapi masalahnya, dimensi pertarungan tak hanya soal konsepsi, tapi juga elemen manusiawi lain. Terbukti dalam sejarah manusia, spirit perbedaan konsepsi tak cukup kuat menjadi pemantik pertarungan.

Selalu pertarungan pada awalnya dibingkai dimensi lain; lebih bersifar realistis pragmatis ketimbang aspek konsepsi. Konsepsi hanya terasa secara samar. Baru setelah berjalan, pertarungan itu dipandu dan dituntaskan demi kemenangan konsepsi al-haqq, dan kian hari warna al-haqq kian jelas. Barangkali ini makna dhahirina alal haqq, ciri thaifah manshurah.

Nabi Musa dan Harun as mendapat ‘briefing’ dari Allah sebelum menghadapi Fir’aun: “Maka berangkatlah kamu berdua menemui Fir’aun, lalu katakan kepadanya: Kami berdua adalah utusan Allah maka kami menuntut agar Anda melepaskan Bani Israel bersama kami dan jangan mengintimidasi mereka…”. (QS. Thaha: 47).

Ayat ini mengkombinasikan misi kenabian dengan misi pengentasan rakyat dari kezaliman penguasa. Bahwa Bani Israel adalah bagian dari rakyat Mesir tapi mereka mendapat perlakuan kejam dari raja. Maka Nabi Musa dan Harun menegaskan status sebagai Nabi di hadapan Fir’aun, tapi misi diplomasi yang menonjol adalah memprotes kezaliman penguasa dan menyelamatkan masyarakat dari kezaliman.

Bani Israel mau bergabung dalam barisan nabi Musa as bukan semata karena kenabian Musa as, tapi lebih dari itu karena punya misi jelas; membebaskan mereka dari cengkeraman Firaun. Nabi Musa memang mengajarkan konsep Tauhid di tengah bani Israel dan mendakwahkannya kepada musuh, Firaun, tapi di saat bersamaan bahasa permusuhan dikaitkan kepada kezaliman Firaun bukan karena syiriknya.

Ada dua lapisan spirit perlawanan. Lapis pertama, lapisan inti yang spirit perlawanannya terhadap kebatilan dibangun di atas logika Tauhid dalam konsepnya yang utuh. Kesalahan Firaun yang karenanya harus dilawan dan ditumbangkan lebih karena klaimnya terhadap ketuhanan yang berlawanan dengan Tauhid. Sementara kezaliman Firaun terhadap rakyatnya sendiri, wa bil-khusus terhadap bani Israel, hanyalah buah logis dari syirik yang menjadi dasar ideologinya.

Mereka yang digerakkan oleh spirit ini  adalah Musa, Harun dan para pengikut keduanya yang paham betul dengan konsep Tauhid. Bahkan seandainya Firaun berlaku bijak kepada rakyatnya, tidak represif kepada bani Israel, tapi masih setia dengan aqidah syiriknya itu, lapisan ini tetap akan menempatkan Firaun sebagai musuh.

Lapis kedua, spirit ‘kekecewaan’ terhadap kebatilan. Spirit ini akan menggerakkan masyarakat untuk ikut dalam merubuhkan bangunan kebatilan. Sebab perlawanan terhadap kebatilan perlu latar belakang ‘kemarahan sosial’ sehingga bekerja secara masif. Karena jihad adalah ibadah masal, bukan ibadah individual.

Diplomasi Jihad

Sejarah membuktikan, perbedaan ideologi tidak cukup kuat untuk melahirkan drama peperangan dan saling bunuh. Hal ini konsisten dengan firman Allah: laa ikraha fid-dien, qad tabayyana ar-rusydu minal ghayyi… (QS. 2 : 256). Tak ada paksaan dalam memilih ideologi, telah jelas mana jalan lurus dan mana jalan bengkok…

Apa yang tertuang dalam ayat kalam ini bersesuaian dengan ayat alam (hukum alam). Bahwa umat manusia tak bisa menerima perbedaan ideologi sebagai sebab tunggal pertumpahan darah. Karenanya, perbedaan ideologi tak cukup menjadi spirit yang melahirkan energi perlawanan rakyat.

Sebabnya, ideologi bersifat pilihan batin dan tersimpan di hati. Padahal perlawanan bersifat permusuhan lahir, bukan batin. Maka wajar membutuhkan ‘gambar’ lahir yang nyata, sehingga perlawanan menjadi logis dan dapat membangun spirit.

Berangkat dari kenyataan itulah, diperlukan fakta lahir untuk bahan diplomasi dalam menggerakkan spirit perlawanan umat terhadap syirik dan kebatilan. Ada banyak variasi fakta lahir yang dijadikan alat diplomasi Al-Quran yang kemudian menjadi alasan sosial-politik di mata masyarakat ketika Allah menghancurkannya. Misalnya, perbuatan menjijikkan dan meresahkan yang dipraktekkan bangsa Sodom pada masa nabi Luth. Ada kecurangan ekonomi pada masa Syuaib. Ada sikap represif kekuasaan pada masa Musa as.

Simak Al-Quran menjelaskan realita ini yang kemudian ditetapkan sebagai sunnatullah:

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan (fasiq) dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. 17 : 16)

Golongan yang hidup mewah dalam suatu kaum adalah penguasa dan kroni-kroninya. Penyebab Allah hukum mereka adalah karena perbuatan fasiq-nya, bukan karena pilihan ideologinya. Ini merupakan sunnatullah yang abadi, bahwa alasan penghancuran adalah perbuatan fasiq (foya-foya seksual, keculasan politik, kezaliman kekuasaan, korupsi, narkoba dll) karena kefasiqan bersifat fakta yang tampak oleh mata masyarakat.

Allah saja menggunakan sunnatullah ini dalam menghukum suatu kaum, agar alasan hukuman itu jelas di mata manusia. Bukan karena Allah menzalimi manusia, tapi mereka sendiri yang berbuat zalim sehingga berhak dihukum. Sebuah diplomasi manis secara sosial-politik.

Begitulah. Keberhasilan dalam melakukan diplomasi ‘buka mata terhadap kefasikan’ akan berbanding lurus dengan tingkat daya gerak dan keterlibatan masyarakat dalam meruntuhkan bangunan batil.

Simak ayat motivasi jihad untuk para sahabat Nabi saw:

Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), mereka serius untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. 9 : 13)

Ayat ini memuat tiga perbuatan fasiq yang menjadi alasan mobilisasi jihad. Pertama, kafir Quraisy telah merusak janji. Kedua, serius mengusir Nabi dari kota Makah. Ketiga, mereka yang memulai peperangan yang karenanya layak untuk dibalas dengan peperangan.

Jihad memang berangkat dari Tauhid. Tapi secara diplomasi, ia dibingkai faktor kejahatan sosial yang meresahkan masyarakat. Wallahua’lam bisshawab.

 

Jakarta, April 2015

Satu Tanggapan

  1. Jihad memang berangkat dari Tauhid. Tapi secara diplomasi, ia dibingkai faktor kejahatan sosial yang meresahkan masyarakat (Nice Quote

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s