Syirik di Tengah Pragmatisme dan Keawaman Umat


Beberapa pekan terakhir masyarakat dibombardir berita panas si dukun tua bangka pemilik delapan gundik. Bak lakon sinetron, di jaman semodern ini ada orang yang mampu menaklukkan delapan wanita untuk tinggal satu atap dengan ‘akad nikah gelap’. Setelah diserang habis-habisan di media massa oleh mantan muridnya dengan tuduhan perdukunan dan kesesatan karena mempergundik delapan wanita sekaligus, si dukun dan para gundiknya mulai melawan. Delapan wanita tersebut muncul di televisi tanpa tersisa rasa malu demi membela diri. Drama makin seru, apalagi ditambah dengan polah tingkah pengacara yang ‘profesional’ tapi masa bodoh dengan halal haram, karena ideologinya adalah uang.

Kemunculan para gundik di depan publik ingin menunjukkan bahwa mereka rukun, bahagia dan tidak menderita di bawah si tua bangka. Mereka mengaku diperlakukan adil dan dicukupi kebutuhannya yang konon menghabiskan tak kurang dari 50 juta rupiah per bulan. Mereka sepakat menolak berpisah dengan si dukun bahkan sekiranya ia jatuh miskin. Gilanya lagi, mereka melawan dan menggugat MUI yang menyebut perilaku mereka sesat meski ditampik oleh sang pengacara. Penampilan para gundik secara demontratif di depan publik menegaskan penolakan terhadap fatwa MUI.

Apakah ini sekedar lelucon yang dikemas dalam reality show untuk menghibur masyarakat? Bagi kalangan yang skeptis agama, jelas ini hanya lelucon. Bagi kalangan infotainment, ini gosip panas yang punya rating tinggi sehingga menghasilkan banyak duit. Tapi bagi aktifis muslim yang idealis dengan agamanya, jelas ini sinyal kebobrokan serius yang terjadi di tengah umat Islam. Bermain-main dengan perdukunan atau praktek sihir dan menganggap enteng masalah pernikahan, adalah penyakit aqidah serius yang mesti disembuhkan. Apalagi jika sudah menjadi konsumsi publik, umat Islam mesti menunjukkan perlawanan militan untuk memberantasnya.

Syirik, Akar Masalah Sepanjang Zaman

Apa yang terjadi pada si tua bangka berakar pada praktek syirik yang marak di negeri ini, perdukunan dan sihir. Inti dari perdukunan, tindakan manusia menghamba kepada jin jahat (syetan) sebagai harga untuk mendapat bantuan yang bersifat gaib. Kehebatan yang bersifat gaib memang membanggakan, yang akan berbuah kesombongan dan sikap tak memerlukan Allah karena merasa cukup dengan bantuan jin. Bantuan jin prosedurnya lebih mudah, sesuai syahwat manusia, sementara bantuan Allah mesti taat dan anti syahwat.

Jika orang memiliki keyakinan syirik, pasti dekat dengan dunia jin. Sebaliknya, siapa yang punya kekuatan gaib dari jin – apapun tampilan dan atribut kesholihannya – hampir pasti ia punya keyakinan syirik. Inti syirik adalah semacam oposisi terhadap kekuasaan Allah, dan itu bersifat ideologis lalu berwujud makar dan tindakan permusuhan kepada Allah dan syariat-Nya.

Sejak dahulu kala, Allah menjadikan syirik sebagai obyek garap para pemegang panji al-haqq, sejak zaman nabi-nabi sebelum nabi Muhammad saw hingga akhir zaman nanti. Karena syirik, apapun bentuknya, akan melahirkan resistensi terhadap al-haqq karena syirik bisa dipasangkan dengan semua hal yang bertentangan dengan al-haqq, baik kekuasaan, syahwat maupun ekonomi.

Tak salah jika Al-Quran menempatkan orang-orang yang bermental syirik (meski nama dan bajunya muslim) sebagai musuh besar kaum mukminin, setingkat di bawah Yahudi. Latajidanna asyaddannas adawatan lilladzina amanu alyahuda walladzina asyraku… (kamu pasti akan mendapati kelompok manusia yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman adalah kaum Yahudi dan orang-orang yang melakukan syirik… – QS 5: 82 ). Diksinya adalah alladzina asyraku, orang-orang yang melakukan praktek syirik, bukan musyrikun, para pemeluk syirik. Maknanya, pelaku syirik lebih luas dibanding pemeluk syirik. Pelaku syirik bisa jadi masih berbaju Islam, tapi pemeluk syirik adalah penganut agama syirik seperti Hindu dan Budha. Si tua bangka menjadi contoh kasus aktual pelaku syirik berbaju muslim yang dengan gigih menantang syariat.

Sihir, Tak Lekang oleh Jaman

Keras kepalanya si tua bangka dan kompaknya delapan gundiknya, dilatar belakangi praktek sihir yang kental. Cara si tua bangka memutus komunikasi para gundiknya dari dunia luar, bahkan memutus silaturrahmi dengan keluarga para wanita tersebut, mengindikasikan adanya praktek cuci otak dan ilmu pelet, yang merupakan bagian dari praktek sihir.

Sihir disebut oleh Al-Quran sebagai sumber kekuatan yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Pada zaman Musa as, sihir berselingkuh dengan kekuasaan dan digunakan untuk melawan kebenaran yang dibawa oleh nabi Musa as. Pada zaman Nabi Muhammad saw, sihir digunakan kaum Yahudi untuk mencelakakan Nabi saw, dan digunakan kaum musyrikin untuk memukul balik dakwah Nabi saw dengan tuduhan sihir.

Banyak yang menyangka bahwa sihir, yang merupakan dunia gaib, akan surut seiring dengan modernisme tatkala keajaiban sihir bisa dikalahkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi sayangnya itu tak terbukti, bahkan kian laku. Sihir tetap memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern, baik untuk tujuan kejahatan maupun hiburan. Sihir yang didukung tata panggung dan teknologi modern, terbukti menjadi tontonan yang menghibur buat masyarakat, dengan berbagai nama indah sesuai kebutuhan zaman, semisal ilusionis, hipnotis, tenaga dalam, sulap dan sebagainya. Sihir juga laku untuk tujuan politis dan popularitas.

Awam Syariat, Pintu Penipuan

Para wanita yang jadi korban dengan mudah ditipu oleh si tua bangka, selain karena sihir juga karena matinya alarm tanda bahaya di benak para wanita tersebut. Mereka begitu mudah ditipu dengan akad nikah palsu melalui wali gelap tanpa persetujuan wali yang sah. Mereka juga tidak paham bahwa Islam melarang poligami legih dari empat. Itu semua terpulang pada fenomena jahilnya umat terhadap syariat yang sangat akut.

Berbagai macam kejahatan dan penipuan yang terjadi di sekeliling kita, banyak yang bermula dari faktor tersebut. Maraknya narkoba di tengah generasi muda muslim, disebabkan kesadaran akan haramnya narkoba kurang meresap di benak mereka, sekedar sebagai contoh lain.

Oleh karenanya, salah satu obat mujarab untuk imunisasi umat dari berbagai macam problematika yang mendera mereka adalah dengan mengajarkan syariat sebaik mungkin dan seluas mungkin. Memang bukan satu-satunya obat, tapi cukup ampuh mengurangi jumlah korban. Kekuatan ilmu dan aqidah menjadi prioritas ketika umat masih lemah dan belum punya kekuatan untuk memberantas secara fisik berbagai kejahatan dan kezaliman.

Urgensi SDM Idealis-militan

Ketika  ideologi dan praktek syirik sudah berkolaborasi dengan hiruk-pikik politik, gelimang uang dan gemerlap syahwat, maka medan pertarungan untuk memberantasnya menjadi sangat luas. Ditembak dari sisi ideologi, pasti akan dibela secara politik, ekonomi atau alasan syahwat. Begitulah watak syirik dan kemunkaran secara umum.

Masih hangat dalam ingatan, betapa tuntutan menutup tempat maksiat di bulan Ramadhan, dibela dengan nada melas secara ekonomi; lalu mereka disuruh makan apa selama Ramadhan? Bisa jadi nanti juga akan muncul pembelaan perut jika MUI memaksa si tua bangka menceraikan para gundiknya untuk disisakan empat saja; terus siapa yang akan memberi makan jika diceraikan ?

Celakanya lagi, alam pikiran masyarakat muslim secara umum gampang dikelabuhi oleh pembelaan politis, ekonomi bahkan syahwat asalkan melankolis. Penyebabnya, masyarakat mayoritas rendah pengetahuannya terhadap hakekat tauhid dan cenderung berwatak pragmatis.

Masyarakat yang masih sangat kental dengan ‘pertimbangan perut’ memang susah untuk diharapkan membela al-haqq dengan niat murni karena loyalitas kepada al-haqq itu sendiri. Mereka cenderung pragmatis, semua pembelaan – baik al-haqq atau al-bathil – mengikuti kalkulasi perut, politik atau syahwat. Padahal al-haqq yang idealis tak menjanjikan itu semua. Oleh karenanya,  SDM inti (qoidah sholabah) pembela al-haqq haruslah orang-orang idealis, dengan pengetahuan al-haqq yang luas dan ideologi yang kental. Mereka selalu jumlahnya sedikit, antara 10 sampai 20 persen dari seluruh populasi umat Islam.

Tauhid adalah ideologi para idealis-militan yang jumlahnya selalu sedikit, bukan sesuatu yang bisa booming di khalayak layaknya produk budaya pop. Namun dengan militansi kaum idealis inilah – dengan ijin Allah –  tauhid bisa menang di muka bumi, dan umat Islam akar rumput akan ikut dengan sendirinya. Jika Anda mendapati umat awam tak mau ikut militan bersama Anda, boleh jadi hanya karena pertimbangan pragmatis, bukan karena benci al-haqq. Percayalah, sejatinya naluri mereka bersama al-haqq. wallahua’lam.

Satu Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum.
    Bang, kok nggak update tulisan lagi nih. Sudah penghujung tahun 2013.

    Masih sibuk sepertinya ya…..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s