Merancang Jihad Sebagai Anugerah dari Langit


Jangan menyangka anugerah jihad Suriah saat ini sesuatu yang turun tiba-tiba. Semuanya mengikuti hukum sunatullah kauniyah, seiring proses kematangan para pengusungnya. Suatu proses panjang, jatuh bangun yang tidak mudah.

Jihad mulai menemukan bentuk yang lebih matang (maturity) sejak terjadinya jihad Afghan era Uni Sovyet yang mulai pecah pada tahun 1979 hingga tahun 1989. Kematangan jihad terbentuk karena banyak faktor, terutama hadirnya tokoh-tokoh pergerakan dengan celupan ilmu salaf yang kuat semacam Abdullah Azzam, dan kontribusi konseptual dari tokoh-tokoh pergerakan semacam Sayyid Qutb pada kurun lebih awal.

Faktor yang lain, berbaurnya anasir umat dari Timur Tengah dan seluruh dunia Islam dalam kancah jihad Afghan menjadikan jihad Afghan untuk pertama kali pasca runtuhnya Khilafah bercorak  global, meski basis massa terbesarnya tetap bangsa Afghan. Belum pernah terjadi sebelumnya di era modern ibadah jihad dilaksanakan secara lintas bangsa sebagaimana dalam kasus Afghan, yang berperan besar dalam memurnikan jihad dari tarikan nasionalisme.

Jauh sebelumnya, di era 30-an hingga 70-an, ideologi perlawanan masih berupa konsep dan spirit, belum terejawantahkan dalam praktek kehidupan nyata dalam bentuk ibadah jihad yang konkrit. Jihad masih berupa eksperimen dan mencari bentuk untuk menuju kematangan. Abu Mus’ab As-Suri dalam refleksinya terhadap eksperimen jihad Suriah pada kurun itu, menilai bahwa kegagalannya disebabkan dua hal; karena kejahilan terhadap syariat dan kejahilan terhadap waqi’ (realita lapangan).

Jihad Global nan Modern

Setelah padamnya jihad Afghan, estafet jihad dilanjutkan oleh Al-Qaeda dengan tanpa tanah pijakan yang jelas. Perang Teluk tahun 1991 dibidik untuk menjadi tanah pijakan jihad, tapi rupanya Allah belum merestui. Tapi diam-diam Al-Qaeda dan mujahidin global para alumni Afghan, karena geram dengan terus-menerus tanah umat Islam dijajah bangsa-bangsa kafir, mereka berinisiatif memindahkan lokasi perang di tanah bangsa kafir. Dan rencana itu terwujud dengan peristiwa WTC tahun 2001. Setidaknya itulah bahasa propaganda yang disampaikan Usamah bin Ladin saat itu.

Rupanya memindahkan medan jihad dari tanah umat Islam ke tanah bangsa kafir tidak mudah. Allah masih menghendaki lokasi jihad itu lagi-lagi di tanah Afghan, dan berlangsung hingga kini. Tapi buah dari usaha terus-menerus akhirnya datang juga. Selain tanah Afghan, terbuka juga tanah-tanah lain hampir bersamaan. Iraq, Cechnya, Somalia dan Yaman. Berikutnya menyusul Mali, Aljazair, dan kini Suriah. Ada juga yang sudah panas, nyaris meletus, seperti Sinai di Mesir dan Patani di Thailand Selatan. Sebuah akselerasi jihad yang dahsyat, tak pernah terbayang sebelumnya. Meski demikian, era ini masih tergolong era jihad defensif, karena lokasi jihad masih di tanah umat Islam. Tapi ada hal yang menarik dengan jihad ala Al-Qaeda ini, yakni jihad yang sudah menemukan bentuk yang matang, bisa melepaskan diri dari noda nasionalisme dan dikelola dengan sentuhan modern.

Tanpa diduga dan direncanakan siapapun, pecah konflik Timur Tengah pada kisaran 2010 hingga kini yang berlatar meledaknya amarah rakyat terhadap kezaliman penguasa. Alhamdulillah, konflik ini pecah pada timing waktu yang tepat: saat jihad yang bercorak global dan modern itu sudah lebih matang dengan jumlah pengusung yang cukup besar. Memang Tunisia, Mesir dan Libya tak mampu dimaanfaatkan dengan maksimal untuk berkembang-biaknya jihad, tapi Suriah dan Yaman lebih baik karena sejauh ini lebih maksimal dimanfaatkan jihad untuk tumbuh berkembang.

Merindukan Jihad Nusantara

Tak pelak, para aktifis perindu jihad di tanah air ‘ngiler’ melihat pertumbuhan jihad di belahan dunia lain yang sangat jauh itu. Kapan ya negeri ini kebagian anugerah jihad ? Kira-kira itulah harapan yang selalu bergelayut di benak mereka.

Masalahnya, apakah terbukanya ladang jihad di suatu negeri bermakna musibah ataukah anugerah ? Jika terbukanya ladang jihad harus diawali dengan pecahnya konflik (dalam bahasa hadits: fitnah) yang menimpa umat Islam, maka terbukanya ladang jihad adalah musibah. Bagaimana tidak, konflik niscaya memakan korban. Dan tercecernya darah kaum muslimin, terrenggutnya kehormatan muslimah dan terbunuhnya anak-anak generasi umat Islam, jelas sebuah kerugian dan kesedihan tak terkira.

Dari sudut pandang ini, terbukanya ladang jihad alias pecahnya konflik bersenjata melawan musuh yang jahat, jelas tak elok untuk dirindukan oleh para aktifis Islam yang mencintai umatnya. Tak patut bagi seorang muslim untuk merindukan tertumpahnya darah saudara sendiri oleh kejahatan musuh Islam, sekali lagi jika terbukanya ladang jihad tak terpisahkan dengan episode pendahuluan berupa fitnah berdarah-darah menimpa umat Islam.

Fenomena yang terjadi sejak runtuhnya Khilafah Turki Usmani tahun 1924 hingga kini, selalu menunjukkan berkah berseminya jihad diawali dengan pecahnya konflik berdarah-darah yang menimpa umat Islam. Wajar, karena umat Islam dalam posisi lemah dan sudah lupa dengan ibadah jihad, alam pikirannya sudah termakan isu nasionalisme masing-masing negara. Namun perlahan situasi kacau ini biasanya dapat dimanfaatkan kaum jihadis untuk membangkitkan ruh perlawanan dengan mempopulerkan ibadah jihad fi sabilillah. Saat itulah jihad menjadi ‘berkah di balik musibah’.

Namun tetap saja pertanyaan di atas tak mudah disimpulkan, apakah ketika kita merindukan lahirnya ladang jihad baru bermakna merindukan pula muqoddimahnya; kezaliman masif yang menimpa umat Islam ? Bisakah anugerah jihad tanpa melewati muqoddimah berdarah-darah sebagai satu paket tak terpisahkan ?

Akselerasi Kesiapan, Bukan Akselerasi Kejadian

Atas dasar logika ini, rasanya tak patut bagi aktifis muslim untuk berharap pecah konflik (fitnah) hanya karena menginginkan barokah di baliknya; lahirnya ladang jihad baru. Tugas kita hanya melakukan ibadah sesuai kebutuhan waqi’ yang Allah sediakan. Jika ladang yang ada cocoknya digarap dengan ibadah dakwah, jangan meminta kepada Allah untuk merobahnya menjadi ladang jihad ketika kita merasa belum menunaikan ibadah sesuai tuntutan sikon yang ada secara maksimal. Sebab di balik permintaan itu terkandung harapan pecahnya konflik yang akan menjadi musibah bagi umat Islam. Lakukan saja ibadah secara maksimal sesuai kebutuhan situasi dan kondisi.

Biarlah jihad turun dari langit sebagai sebuah anugerah, jangan diminta-minta, sebab jihad adalah amanat, sebagaimana jabatan. Orang yang tak sabar dan meminta percepatan, biasanya malah tak mampu menanggung beban permintaanya sendiri. Allah Maha Tahu, kapan para hambanya dinilai sudah memiliki kesiapan untuk menerima anugerah bernama ladang jihad. Terbukanya ladang jihad Suriah adalah anugerah langit yang tak direncanakan manusia, seiring dengan kesiapan mujahidin Timur Tengah untuk menyambutnya. Anugerah selalu disesuaikan dengan kesiapan hamba dan kelayakan kualifikasinya. Jika direkayasa, dikhawatirkan akan prematur. Biarlah Allah menilai kesiapan kita. Oleh karenanya, kesibukan kita adalah memastikan kesiapan diri dalam segala hal, bukan memancing fitnah yang akan membuat darah umat tercecer akibat ulah kita. Wallahu a’lam bisshowab.

8 Tanggapan

  1. Memang ustadz, yang dibutuhkan saat ini adalah da’i yang memimpin ummat dengan kapabilitas syar’i yang mendalam (bukan hanya memadai) dan mamapu menanggung amanah penderitaan ummat bukan malah membuat atau menambah penderitaan ummat bertambah parah.

  2. Assalamualaikum wr. wb
    Salam kenal
    Kami adalah suplier mukena bali, menjual mukena bali, baju bali, dan baju sisa ekspor dalam partai besar maupun kecil, grosir dan retail , jika anda berminat menjadi reseller kami silahkan kontak kami di 0361-8513161 , hp 085792455399, pin bb: 321755dc atau kunjungi website kami di http://bajuexport.com/19-mukena-bali

  3. Barakallah fiik ustadz materinya cukup dalam dan mengena sehingga kembali membangun kesadaran kita untuk berjihad fi sabilillah dengan tidak mengharapkan terjadinya konflik terlebih dahulu, namun sebaliknya jika Allah telah menghendaki maka kita pun siap untuk menjadi bagian dari mereka yg memperjuangkan tegaknya kalimah Allah di bumi.

  4. Izin copas untuk disebarkan di facebook, jazakallah khairan wa ahsanal jazaa.

  5. Barokallohu Fik Ustad

  6. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…Seperti biasa saya selalu terkesima dengan kata-kata dan kedalaman pembahasan ustadz.

    Saya senang membaca tulisan ustadz dan berharap suatu saat bisa mengemukakan tema dengan baik seperti ustadz baik lisan maupun tulisan.

    Untuk kesitu saya masih terus belajar bahkan sampai saya mati nanti. Mohon doanya agar saya juga bisa memberi manfaat untuk umat lewat lisan dan tulisan saya.

  7. Assalamualaikum, tadz bagaimana pendapat ustadz tentang imigran syiah yang masuk ke indonesia? Apabila benar mereka ingin membantai umat muslim di nusantara kita ini, lalu bagaimana seharusnya kita bersikap?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s