Partai Dakwah di dalam Sistem Demokrasi, Emang Bisa… ?


Setelah sekian lama masyarakat dipusingkan dengan harga daging yang melambung tinggi, tiba-tiba terdengar berita KPK menangkap LHI, presiden PKS dengan sangkaan suap impor daging. Publik langung gempar antara sedih dan gembira. Sedih karena terkejut ternyata siluman yang membuat daging mahal justru oknum tertinggi di tubuh partai dakwah, yang selalu mengusung jargon anti korupsi. Gembira karena “tikus” yang merusak kehidupan masyarakat akhirnya terkuak.

Umat Islam seperti disadarkan dari sebuah mimpi, bahwa usaha memperbaiki kondisi masyarakat dan negara melalui partai politik selalu membuat pelakunya terserimpung kakinya. Suatu sunnatullah yang mestinya sudah diperhitungkan dengan matang sebelum memulainya. Bagi yang belum mengerti sunnatullah ini, akan terus terkaget-kaget dan tak henti-hentinya bergumam dalam hati: kok bisa ya !

Kekuasaan Melahirkan Korupsi

Tak sulit untuk memahami sunnatullah kekuasaan. Seorang tokoh pemikir politik Barat, John Dalberg-Acton (10 January 1834 – 19 June 1902) sudah menuliskannya setelah pengalaman dan pengamatan panjang hiruk pikuk kekuasaan di masanya. Kalimat yang kemudian populer sebagai nasehat bagi siapa saja yang memasuki dunia politik, dan kerap disitir oleh politisi negeri ini.

“Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely.” Kekuasaan punya kecenderungan untuk korupsi, dan kekuasaan yang absolut akan menciptakan korupsi yang absolut pula. Semua orang sepakat dengan kesimpulan ini, dan dianggap berlaku universal, meski bisa jadi pencetusnya diilhami fenomena perpolitikan Eropa yang sekular.  Dan kasus LHI makin menguatkan kaidah ini, bahwa “perselingkuhan” antara kekuasaan dengan korupsi tak hanya berlaku di Eropa yang sekuler, tapi juga pada aktifis muslim yang membawa spirit dakwah.  

Selain kalimat di atas, John Dalberg-Acton juga punya pernyataan yang terkait ketokohan seseorang. “Great men are almost always bad men.” Orang-orang besar itu hampir selalu orang-orang  jahat. Seseorang biasanya melejit menjadi tokoh politik karena punya sisi muslihat yang canggih, tapi muslihat itu dapat ia mainkan dengan rapi tak terendus oleh public. Biasanya hanya orang-orang terdekatnya yang tahu, dan dengan sengaja berkonspirasi untuk menutupinya agar reputasi kebesarannya tak runtuh, dan orang-orang terdekat tersebut tak kehilangan mata pencaharian.

Kaidah ini memberi kita kesiapan mental untuk tidak terkejut jika suatu saat ada tokoh besar politik tiba-tiba tersandung kasus. Anggap saja sebagai bau busuk yang sudah lama menempel padanya tapi baru tercium oleh khalayak ramai. Lagi-lagi kaidah ini berlaku universal dengan adanya kasus LHI tersebut, tak hanya di kalangan Barat yang sekuler.

 

Power tends to fasad

Tak hanya pemikir Barat yang memahami hukum alam ini.  Al-Qur’an sudah mengisyaratkannya sejak awal, sebelum Adam as menjejakkan kakinya di muka bumi. Sunnatullah kekuasaan itu sudah dipahami dengan baik oleh malaikat.

Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikannya sebagai pembuat kerusakan di muka bumi dan penyebab pertumpahan darah , padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Khalifah adalah istilah Al-Qur’an untuk kekuasaan. Adam as dan anak keturunannya dibekali oleh Allah kemampuan alami untuk menjadi penguasa tunggal, mengalahkan seluruh makhluq lain di muka bumi. Tak ada makhluq lain, bahkan Jin sekalipun, yang bisa menghentikan manusia di muka bumi.

Malaikat mengkhawatirkan, bahwa manusia dengan kekuasaan yang ada di tangannya, niscaya akan menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah. Tendensi kekuasaan, menurut Malaikat, tak hanya korupsi tapi lebih luas dari itu, yakni fasad fil ardli dan pertumpahan darah. Kerusakan yang dimaksud  meliputi segala macam kerusakan baik moral maupun material.

Tapi kekuasaan yang niscaya melahirkan fasad hanyalah kekuasaan yang tak dikawal syariat. Terbukti, kekuasaan Rasulullas saw tak melahirkan fasad, justru menyebabkan ketaatan, kesholihan, ketaqwaan, keadilan dan harmoni, bukan hanya di tataran sosial tapi bahkan di level keluarga dan individu. Itulah yang tersirat dari jawaban Allah: Aku mengetahui apa yang kalian tak ketahui. Bahwa jika kekuasaan dikawal syariat dengan benar, kekuasaan bukan bertendensi fasad, tapi justru alat terbaik untuk menegakkan kebenaran.

Dilema Kekuasaan

Kekuasaan memang dilematis. Ia bisa menjadi sumber fasad dan pertumpahan darah, tapi di saat yang sama kekuasaan juga alat terbaik untuk membumikan hukum Allah. Tak ada media yang lebih ideal untuk menyelenggarakan ubudiyah yang paripurna kepada Allah kecuali system bernama negara, alias system kekuasaan yang meliputi hukum, politik, militer dan ekonomi.

Karena posisinya yang sangat stretegis, syetan melakukan semua cara untuk menggagalkan idealism umat Islam; punya system kekuasaan merdeka dalam rangka menyelenggarakan ubidiyah yang paripurna. Syetan cerdas, tak harus menghalanginya secara frontal, tapi cukup membelokkannya tanpa sadar dengan menawarkan system ciptaan mereka bernama Demokrasi.

Sejauh ini system Demokrasi yang memberi peluang umat Islam untuk berpartisipasi dalam system kekuasaan keroyokan, terbukti ampuh untuk menina-bobokan aktifis Islam dari memperjuangkan tegaknya system kekuasaan al-haqq.  Para aktifis Islam yang ada di dalamnya merasa gagah membela Islam, padahal sejatinya ia telah masuk perangkap syetan.

Celakanya, bukan hanya menina-bobokan, bahkan keikut-sertaan aktifis Islam dalam hingar bingar partai politik, berhasil membuka jalan untuk lahirnya berbagai penyimpangan syariat dan akhlaq, menggelinding sedemikian rupa kian lama kian membesar. Tak ada yang menyangka, jamaah PKS yang dulu begitu ketat anti music, setelah menjadi parpol hilang idealism itu. Bahkan, dalam rangka konsolidasi internal pasca kasus korupsi LHI, akhawat PKS ramai-ramai ber-gangnam style di lapangan terbuka di Bandung. Ini salah satu bentuk fasad moral buah politik non syariat alias Demokrasi.

Demi memastikan agar idealisme menegakkan kekuasaan ubudiyah yang paripurna tetap terjaga, perjalanan PKS sangat tepat dijadikan cermin bagi para aktifis Islam yang lain. Sudah cukup PKS menjadi pelajaran buat kita, jangan pula kita ikut menceburkan diri ke dalam manisnya rasa parpol, lalu kelak dikenang oleh generasi sesudah kita bukan atas prestasinya, tapi sekedar pelajaran pahit dengan nada kasihan. Orang bijak adalah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain, tak menunggu terjadi pada dirinya sendiri. wallahua’lam bisshowab.

Satu Tanggapan

  1. Masya Allah ustadz, renyah bangettulisannya, aktual juga iya.
    afwan, bolehkah ana copas tulisan antum di blog ana?

    arju, Insya Allah ana cantumkan sumbernya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s