Antara Flu Burung Dan Flu Murji’ah II


2. Siapa rujukan sang Khatib?

Sang khatib menjadikan DR. Khalid al Anbari sebagai rujukan dalam khutbahnya yaitu dengan bukunya: Atsar al Qawanin al Wadh’iyah Fil Hukmi ‘Ala ad Daar bil kufri Wal Islam. Jika diteliti lebih lanjut, Khalid al Anbari merefer karyanya tersebut kepada salah satu kitab karyanya sendiri yaitu Al Hukmu Bighairi Maa Anzalallah Wa Ushul At Takfir. Yang dalam hal ini Khalid al Anbari membolehkan tidak berhukum dengan hukum Allah. Maka secara otomatis sang ustadz pun mengekor kepadanya. Lantas Siapakah Khalid al Anbari sehingga sang khatib menjadikannya sebagai rujukan ? 1. Dia adalah salah satu tokoh Neo Murjiah 2. Sering Berdusta atas nama ulama; dusta atas nama Syaikh Muhammad Ibrahim Alu as Syaikh, dusta atas nama Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin dll 3. Menafsirkan prnyataan ulama seenaknya 4. Menukil pendapat yang hanya menguntungkan 5. Mendistorsi dalil-dali syar’i. 6. Tidak amanah dalam mengutip dalil. 7. Mengatakan Ijma’ bahwa tidak berhukum dengan hukum Allah tidak kafir. Padahal yang ada adalah sebaliknya, orang yang tidak berhukum dengan hokum Allah adalah kafir yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama. Masalah tidak berhukum dengan hukum Allah bisa dilihat dari sisi ‘aqidi dan amali. Prof. DR. Shaleh bin Abdurrahmna Al Mahmud telah menjelaskan masalah ini dan menjawab syubhat Khalid al Anbari dalam bukunya Al Hukmu Bighairi Maa Anzalallah Ahwaluhu Wa Ahkamuhu. 8. Memusuhi Komisi Fatwa Ulama Saudi yang mengeluarkan fatwa bahwa dia berfaham murji’ah. Yang kemudian dia (Khalid al Anbari) membantah fatwa tersebut dengan judul Al Maqalat al Anbariyah Fir Raddi ‘Ala al Lajnah”. 9. Pendapatnya yang menyimpang, mendapat perhatian khusus dari Syaikh Shaleh Fauzan. Sehingga beliau menulis artikel yang dimuat oleh Majalah Ad Dakwah, edisi 1749, 4 Rabi’ al Akhir 1421H berkaitan dengan kritik atas ideology Khalid al Anbari. 10. Oleh sebab itu Komisi Fatwa Arab Saudi berkaitan dengan DR. Khalid al Anbari mengeluarkan pernyataan; buku tersebut dilarang diedarkan, dilarang diperjual belikan, penulisnya harus bertaubat kepada Allah, hendaknya merujuk dan belajar kepada ulama yang tsiqah agar mereka menjelaskan dimana kekeliruannya. Orang yang disuruh bertaubat dan belajar kok dijadikan rujukan? Yang ada dhallu wa adhallu. 3. Antara Ulil Amri Syar’I dan Ulil Amri Versi sang Khatib Di sini perlu kiranya kita merenungkan pernyataan Syekh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam bukunya “Al Wajiz Fi Aqidati as Salaf as Shalih (Ahli Sunnaah Wal Jama’ah, hal 169) . Beliau berkata: “Adapun jika (para penguasa) menihilkan syariat Allah, tidak berhukum dengannya dan berhukum dengan yang lain maka mereka telah keluar dari ketaatan kaum muslim dan manusia tidak wajib mentaatinya. Karena mereka telah menyia-nyiakan tujuan imamah (kepemimpinan) yang dengan keberadaannya ia diangkat, berhak didengar, ditaati dan tidak boleh keluar darinya. Ulil Amri berhak mendapatkan itu semua dikarenakan mereka melaksanakan kepentingan (urusan) kaum muslim, menjaga dan menyebarkan agama, melaksanakan hukum-hukum, menjaga perbatasan, memerangi orang-orang yang menolak Islam setelah mendakwahinya, mencintai kaum muslimin dan memusuhi orang-orang kafir. Jika dia tidak menjaga agama atau tidak melaksanakan urusan kaum muslim maka telah hilang darinya hak kepemimpinan. Dan wajib bagi umat (dalam hal ini diwakili oleh Ahlul Halli Wal ‘Aqdi, karena kepada merekalah kembalinya kendali permasalahan) untuk mencopotnya dan menggantinya dengan yang lain yang punya kapabilitas untuk merealisasikan tujuan kepemimpinan. Ketika Ahli Sunnah tidak memperbolehkan keluar dari para pemimpin yang dzalim dan fasik -karena kejahatan dan kedzaliman tidak berarti menyia-nyiakan agama- maka yang dimaksud mereka adalah pemimpin yang berhukum dengan syariat Allah. Kalangan As Salaf As Shalih tidak mengenal istilah pemimpin (Ulil Amri pent-) yang tidak menjaga agama. Menurut mereka pemimpin seperti ini bukanlah Ulil Amri. Yang dimaksud kepemimpinan (Ulil Amri) adalah menegakan agama. Yang namanya Ulil Amri adalah yang menegakan agama. Kemudian setelah itu bisa disebut ulil amri yang baik atau yang buruk . Dalam mendefinisikan ulil amri, Ali bin Abi Thalib berkata: “Manusia harus mempunyai pemimpin baik yang baik maupun yang buruk. Ditanyakan kepadanya; Kami telah tahu yang dimaksud pemimpin yang baik. Lantas bagaimana dengan maskud pemimpin yang buruk (zalim) itu? Dijawab; jalanan menjadi aman, ditegakan hudud, musuh diperangi dan Fa’I dibagikan”.(Ibn Taimiyah, Minhaj as Sunnah, 1/146). Inilah definisi minimal yang namanya Ulil Amri secara syar’i, jadi tidak cukup yang hanya memiliki teritorial sebagaimana yang diklaim oleh sang khatib. 4. Mengkritik pemerintah harus dengan sembunyi-sembunyi dan Negri islam Patokannya Adzan. Dalam masalah ini sebenarnya tidak mutlak harus dengan sembunyi-sembunyi. Abu Said Al Khudri meriwayatkan hadits yang berbunyi; عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان ) رواه مسلم . ِ Abu Sa’id Al Khudri adalah yang meriwayatkan hadits tersebut dari Nabi saw. kemudian ketika beliau melihat ada kemunkarang yang dilakukan salah satu Khalifah pada masa bani Umayah. Yaitu ketika sang Khalifah melakukan khutbah sebelum melakukan shalat ied terlebih dahulu. Maka Abu Sa’id tidak membiarkan hal itu dan langsung beliau berdiri dan menegur sang khalifah di depan rakyatnya. Apakah Abu Sa’id keliru? Atau apakah tidak mengetahui adab mengkritik penguasa? Salah seorang Ahli Hadits Sudan, as Syaikh al ‘Allamah Musaid Basyir Ali menyatakan dalam ceramahnya ketika ditanya seputar permasalahan ini; Boleh mengkritik pemerintah secara terang-terangan jika pemerintah melakukan kemungkaran secara terang-terangan. Dan tidak boleh mengkritiknya secara terang-terangan jika kemungkaran yang dilakukan tidak secara terang-terangan. Jadi antara satu riwayat dengan riwayat lainnya tidak terjadi kontradiktif. Permasalahan patokan suatu negri dikatakan negri Islam atau bukan, ini adalah permasalahan yang membutuhkan tulisan dan waktu yang panjang. Ketika Syaikh Musaid ditanya seputar maslah ini, beliau menerangkan bahwa adzan merupakan salah satu dari sebagaian syi’ar Islam dan bukan satu-satunya untuk menghukumi sebuah negri menjadi negri islam. Di halaman sebelumnya sebenarnya permasalahan ini sudah disinggung. Ada kaitannya dengan boleh tidaknya berhukum dengan selain hukum Allah. Dengan demikian, Kalangan yang membolehkan tidak berhukum dengan hukum Allah dan boleh menyelisihi sunah nabiNya, maka mereka berpendapat negri tersebut negri Islam. Syaikh Bin Baz termasuk yang mengatakan bahwa Negara Bahrain adalah Negara kafir ketika masih dikuasai Prancis meskipun adzan dan shalat tetap diperbolehkan oleh Prancis. Dan perlu dicatat, yang memiliki teritorial saat itu adalah Bangsa Prancis tetapi Syaikh bin Baz tidak menghukumi negri tersebut dengan negri Islam. Jadi memiliki territorial, adzan dan shalat belum cukup dikatakan sebagai negri Islam. Wallahu a’lam.

7 Tanggapan

  1. kekekekekek… tuntas sudah tulisan ini.. tuntas sudah kedustaan irja’… Ya Allah, sungguh jadikanlah senantiasa ada orang2 yg membela agamamu dengan haq… Dan jadikanlah musuh2mu menjadi hina di dunia agar menjadi contoh manusia untuk tidak mengikuti kesesatan mereka… Allahumma Amiin..

  2. ikutan nyimak Tadz, he.. kangen dah lama tak bersua!
    🙂

  3. izin copas tulisan2nya ustadz…

  4. ustadz antm dah jadi incaranya orang ICG.. terutama tulisan antm mengenai refleksi jihad aceh.. coba antm lihat komentar d lintas tandzhim ada salah satu komentator dari asing.. dia mengaku pengajar di akademi militer terkenal d seluruh dunia.. dan mantan fbi… menurut si kafir itu..justru tulisan antm inilah yang berbahaya..dan dia merekomendasikan agar penulis ini di ketemukan dan segera di adili atau di reeducation…. semoga Allah melindungi antm dan kaum muslimin yang teguh mengikuti jalan para salaful ummah

  5. assalamu ‘alaikum,

    info yang ana denger, tulisan ini adalah tulisan ust Anung al hammat? berdasarkan rekaman yang dibawa oleh iman,
    jangan khawatir, insya Allah ustadz mahfudz siap berdialog dengan penulis hatta di al islam,

    barakallahu fiik

  6. Barakallah fiek WA hayakallah ya ustaadz. Memang benar flu ini sangat Berbahaya drpda flu burung krn flu juhud WA tughyan ini dpt mengeluarkan pelakunya dari millah. Semoga al anbari lekas sadar Dan kembali ke manhaj salaf yg benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s