KEKELIRUAN KONSEP TASHFIYAH DAN TARBIYAH SYAIKH ALBANI


Mukadimah
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja langsung dari para hamba-Nya akan tetapi ilmu itu dicabut dengan mewafatkan para ulama. Sehingga tidak tersisa seorang alim pun. Kemudian manusia mengangkat para tokoh yang jahil. Dan ketika mereka diminta fatwa mereka akan berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan yang lain” .
Tidak diragukan lagi bahwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani merupakan salah seorang ulama dan bisa jadi masuk ke dalam sabda Rasul saw: “Allah mengutus kepada umat ini pada setiap seratus tahun seorang mujaddid yang memperbaharui urusan agama mereka” .
Meskipun demikian beliau adalah sosok manusia seperti ulama lainnya yang tidak ma’shum (terjaga dari kesalahan). Sehingga tidak selayaknya beliau dikultuskan dan yang mengeritiknya dianggap sebagai orang yang benci kepada ‘manhaj salaf’. Kalau saja kita biasa mentarjih pendapat antar ulama dan memilih salah satu pendapat di antara mereka yang rajih, maka bukan berarti kita membeci ulama yang pendapatnya marjuh. Demikian halnya dengan Syaikh Albani.
Makalah yang sederhana ini, sedikit akan mengkritisi pemikiran Syaikh Albani berkaitan dengan konsep Tashfiyah dan Tarbiyahnya. Meskipun demikian tulisan ini tidak mengurangi posisi beliau sebagai sosok ulama besar abad ini.

Nama dan Tempat Lahir
Nama lengkap beliau adalah Muhammad Nashiruddin bin Nuh bin Adam Najati, nama julukannya: Al-Albani, disandarkan kepada negeri kelahirannya Albania, beliau dipanggil dengan sebutan Abu Abdirrahman .
Syaikh Abani dilahirkan pada tahun 1332 H, bertepatan dengan tahun 1914 M di kota Shkodera, ibu kota lama Republik Albania, beliau hidup di kota ini kurang lebih selama sembilan tahun. Dan Syaikh Albani, wafat di Amman, hari Sabtu Ashar, 22 Jumadil Akhir 1420 H. bertetapan dengan tanggal 2 oktober 1999 M, dikebumikan di pekuburan Jabal Hamlan, dan jenazahnya dihadiri oleh banyak orang.
Masa Pertumbuhan
Syaikh Albani dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya secara materi, namun sangat kaya ilmu. Ayah Albani bernama Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’at di ibukota negara Dinasti Utsmaniyah (kini Istambul). Setelah menyelesaikan studinya ia kembali ke Albania, untuk berdedikasi kepada agama, mengajarkan ilmunya kepada umat sehingga menjadi salah satu rujukan kaum muslimin yang berdatangan untuk menimba ilmu darinya. Beliau adalah seorang ulama ahli fikih madzhab Hanafi.
Masa Belajar Dan Guru-Gurunya
Syaikh Albani sekolah di sebuah sekolah ibtidaiyah swasta yang bernama Jam’iyyatul Is’af Al-Khairi, di sanalah awal masa pendidikannya.
Setelah menyelesaikan studinya pada jenjang Ibtida’iyah, Albani tidak lagi melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Hal itu merupakan keputusan yang diambil oleh ayahnya setelah melihat kurang baiknya sekolah-sekolah umum/pemerintah dari segi pengajaran agama. Maka sebagai solusinya, sang ayah membuat program ilmiah dan intensif bagi putranya.
Dan di antara para guru atau syaikh yang mempengaruhi Albani ketika masa kecilnya adalah:
1. Nuh bin Adam Najati
Ia merupakan ayahnya sendiri yang fanatik terhadap madzhab hanafi. Darinya ia belajar fiqih madzhab Hanafi khususnya kitab Mukhtashar Al Quduri, Al Qur’an, tajwid dan ilmu sharaf.
2. Syaikh Muhammad Sa’id Al-Burhani
Darinya beliau belajar sebagian fiqih Hanafi dan secara terfokus membaca kitab Maraqil Falah Syarh Nurul ‘Iddah, kitab Syudzur Adz Dzahab dalam bidang Nahwu dan beberapa kitab Balaghah modern.
3. Syaikh Muhammad Bahjah Al Baithar seorang ulama besar di Damaskus

Murid-Murid Albani
Banyak yang telah belajar kepada Syaikh Albani baik ketika di Damaskus maupun di Amman. Dan di antara murid-muridnya adalah : Ihsan Ilahi Dhahir, Abu Ishaq Al Huwaini , Hamdi Abdul Majid As Salafi, Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, Zuhair Asy Syawisy, Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Abdur Rahman Abdul Khaliq, Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Ali Hasan Abdul Hamid, Umar Sulaiman Al Asyqar, Izzat Khidir, Muhammad ‘Ied Abbasi, Syaikh Ali Khassyan, Muhammad bin Ibrahim Syaqrah, Falih Al Harbi, Muhammad Jamil Zainu, Muhammad Musa Alu Nashr, Abul Hasan Al Ma’ribi, Mashur bin Hasan Alu Salman, Hasan Abu Asybal Mamduh Az Zuhairi Al Mishri dll.
Putra-Putri Syaikh Albani
a. Dari isteri pertama: Abdur Rahman, Abdul Latif dan Abdul Razzaq
b. Dari isteri kedua: Unaisah, Abdul Mushawwir, Aisyah, Salamah, Abdul A’la, Muhammad, Abdul Muhaimin, Hasanah dan Sukainah. Menurut pengakuan Ummu Fadhl isteri kedua ini akhirnya dicerai.
c. Dari isteri ketiga (Khadijah Al Qadiri): Hibbatullah. Begitu juga dengan isterinya yang ketiga, dikarenakan tidak mau tinggal bersama Syaikh di Amman maka ia pun diceraikannya.
d. Dari isteri keempat beliau yang dikenal dengan Ummu Fadhl belum dikaruniai keturunan.

Karya-Karya Syaikh Albani
Setelah lebih dari enam puluh tahun bergelut dalam dunia hadits dan juga ilmu keislaman lainnya. Ulama kontemporer yang telah dijuluki sebagai Muhadditsul ‘Ashri (pakar hadits abad ini) termasuk ilmuan yang sangat produktif menulis. Seabrek karya-karya besar dalam berbagai bidang ilmu keislaman, akidah, hadits, fikih, manhaj, dakwah telah disumbangkan kepada kaum muslimin.
Melalui buku yang disusunnya, Biografi Syaikh al-Albani Ahli Hadits Abad Ini, Mubarak B.M Lc, telah menulis seluruh karya tulis Syaikh al-Albani baik yang telah dicetak maupun atau pun karya-karya yang masih berupa manuskrip.
Konsep Tashfiyah Dan Tarbiayah
Konsep ini lahir berangkat dari kesimpulan beliau tentang penyebab terhinanya kaum muslimin. Sehingga beliau menyatakan bahwa penyebabnya tidak lepas dari dua hal;
Pertama: Kejahilan kaum muslimin terhadap Islam yang diturunkan Allah swt ke dalam hati Rasulullah saw.
Kedua: Mayoritas kaum muslimin yang mengetahui hokum-hukum Islam yang berkaitan dengan berbagai kepentingan mereka, tidak melaksanakannya, mereka cenderung mengentengkan, menggampangkan dan menyia-nyiakannya.
Oleh sebab itu solusinya adalah harus melakukan tashfiyah dan tarbiyah. Menurut Syaikh Albani yang dimaksud dengan tashfiyah adalah:
1. Pemurnian akidah Islam dari suatu yang tidak dikenal dan telah menyusup masuk ke dalamnya, seperti kesyirikan, pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah, atau penakwilannya, penolakan hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan akidah dan lain sebagainya.
2. Pemurnian fikih Islam dari segala bentuk ijtihad yang keliru yang menyelisihi Al Qur’an dan sunnah, serta pembebasan akal dari pengaruh-pengaruh taqlid dan kegelapan sikap fanatisme.
3. Pemurnian kitab-kitab tafsir Al Qur’an, fikih, kitab-kitab yang berhubungan erat dengan raqaaiq (kelembutan hati), dan kitab-kitab lainnya dari hadits-hadits lemah dan palsu, serta dongeng israiliyat dan kemungkaran-kemungkaran lainnya.
Adapun yang dimaksud dengan tarbiyah adalah pembinaan generasi baru muslim, di atas Islam yang telah dibersihkan dari hal-hal yang telah kami sebutkan, dengan sebuah pembinaan secara islami yang benar sejak usia dini tanpa terpengaruh oleh pendidikan ala barat yang kafir.
Konsep yang digagas oleh Syaikh Albani merupakan sebuah konsep yang mulia dalam rangka menyadarkan umat dan mengembalikannya kepada kejayaan Islam. Meskipun demikian, beliau merupakan sosok manusia yang tidak luput dari kesalahan.
Muhammad Ibrahim Al ‘Ali mencatat beberapa sikap yang keliru yang merupakan dampak dari konsep Albani. Di antaranya:
1. Sikapnya yang terlalu keras dalam menghadapi kalangan yang berbeda pendapat dengannya meskipun masih sesama dalam koredor manhaj salaf
2. Sikapnya yang keras dalam memandang kelompok-kelompok Islam kontemporer dan memandangnya sebuah bid’ah hal ini berbeda dengan ulama lainnya yang selevel dengan beliau .
Menimbang Konsep Tashfiyah dan Tarbiyah
Abdullah bin Mubarak berkata: “Dan tidak ada yang merusak agama melainkan penguasa, ulama su’ (ulama yang jahat) dan ahli ibadah (tapi jahil)” .
Penguasa akan menjadi baik tatkala mereka komitmen dengan ajaran Islam, menerapkan syari’at-Nya dan berlaku adil. Dan faktor yang menjadikan mereka rusak adalah tatkala mereka meninggalkan ajaran Islam dan tidak menegakan syari’at-Nya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sehingga wajar Abu Bakar As Shiddiq berkomentar: “Kalian akan tetap eksis (baik) jika para pemimpin kalian istiqamah dalam beragama” .
Ulama akan menjadi baik tatkala mereka menjelaskan yang haq dan yang bathil, membimbing manusia dengan menggunakan pedoman yang haq dan mengingatkan mereka akan bahaya hukum-hukum yang merusak. Dan para ulama akan menjadi rusak tatkala mereka berfatwa dengan dasar kejahilan, hawa nafsu dan merujuk kepada sumber yang rusak. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan .
Di antara yang termasuk ulama su’ adalah ulama sufi sesat. Dan di antara ulama sufi kontemporer yang sesat adalah Abdullah Al Habasyi yang bermukim di Libanon dan termasuk pendiri Jam’iyyah Al Masyari’ Al Khairiyah.
Umar Abu Umar salah seorang ulama Palestina menyebutkan, di antara pemikiran Abdullah Al Habasyi adalah mengkafirkan Ibnu Khuzaimah, Al Ajurri, Abdullah bin Ahmad bin Hambal, Ibn Taimiyah, Ibn Al Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab dan Sayyid Qutb.
Aliran sufi biasanya mengambil permasalahan iman yang bersumber dari sekte Murji’ah. Mereka menilai hakekat keimanan hanyalah hati atau hati dan lisan. Sementara amal jawarih bukan bagian dari hakikat keimanan. Sementara kaum muslimin telah sepakat bahwa komponen keimanan adalah hati, lisan dan amal. Atau dengan ungkapan lain, iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. Dan yang dimaksud dengan perkataan adalah perkataan hati dan perkataan lisan. Dan yang dimaksud dengan perbuatan adalah perbuatan hati dan perbuatan anggota tubuh .
Tegakan Negara Islam di Hatimu
Di antara bagian dari konsep tashfiyah dan tarbiyah adalah pernyataan Syaikh Albani yang sudah populer sebagaimana termaktub dalam mukadimah Silsilah Al Ahadits Ad Dhaifah Wa Al Maudhu’ah Wa Atsaruha as Sayyi Fi Al Ummah:
أقيموا دولة الإسلام في قلوبكم، تقم لكم في أرضكم
“Tegakan negara Islam di hatimu pasti akan tegak di bumi mu” .
Syi’ar seperti ini sudah menjadi ‘agama’ kaum salafi maz’um yang menyimpang baik dalam tulisan, ceramah, buku-buku, majalah dan blog-blog mereka.
Dalam pernyataan tersebut ada beberapa kritikan yang bisa penulis kemukakan di antaranya:
Pertama: Sebelum Syaikh Albani mengeluarkan pernyataan tersebut sebenarnya sering dilontarkan oleh salah seorang tokoh Al Ikhwan Al Muslimun, Ustadz Hasan Al Hudhaibi. Pertanyaannya adalah apakah kalangan salafi maz’um mau manhaj Albani disebut Salafiyatul Aqidah Ikhwaniyyul Manhaj (akidahnya salaf dan konsepnya Al Ikhwan Al Muslimun)?
Jawabannya jelas beliau dan para murid serta pengikutnya tidak mau diberi label demikian. Uniknya beliau dan para muridnya atau pengikutnya begitu mudah melabel yang tidak sepaham dengannya sesama manhaj salaf dengan sebutan; Qutbiyah (Kalangan yang tergagas oleh pemikiran Sayyid Qutb sekeluarga), Sururiyah (Kalangan yang tergagas oleh pemikiran Muhammad Surur Zaenal Abidin), Kharijiyun ‘Ashriy (Khawarij kontemporer) dan lain-lain.
Kedua: Dalam pernyataan tersebut ada paham sufi murji’ (sufiyah murji’ah). Beliau menjadikan hatilah yang bertugas untuk mendirikan Negara Islam. Padahal usaha menerapkan syariat dan mendirikan negara Islam tidak cukup hanya dengan hati akan tetapi harus dibuktikan dengan amal nyata.
Rupanya Syaikh Albani paham akan masalah ini sehingga dalam pernyataan lain beliau mengungkapkan: “Tegakan negara Islam di hatimu pasti akan tegak di bumi mu, ungkapan ini sangat baik sekali akan tetapi alangkah baiknya lagi jika dengan amal” .
Maka apakah kalangan salafi maz’um mau manhaj Syaikh Albani disebut dengan ‘Salafiyatul Aqidah Shufiyul Manhaj’ (Aqidahnya salaf dan konsepnya sufi) atau dalam istilah lain sufi berbaju salafi?
Ketiga: Dalam pernyataan tersebut ada paham murji’ah dan jabariyah. Dengan perincian sebagai berikut; Tegakan negara Islam di hatimu adalah paham murji’ah. Dan pernyataan pasti akan tegak di bumi mu adalah paham Jabariyah.
Keempat: Dalam konsep Syaikh Albani, senantiasa menekankan pentingnya pembenahan umat dari sisi internal. Konsep yang dipahami secara ‘kebablasan’ ini, akhirnya dipahami oleh para pengikutnya dari kalangan salafi maz’um secara keliru. Sehingga memandang perjuangan yang dilakukan umat Islam di Irak atau negara lainnya bukan termasuk bagian dari jihad dan memandang pada hari ini tidak ada yang namanya jihad.
Dalam konsep tarbiyah Syaikh Albani dan sebagaimana dipahami oleh para pengikutnya , seorang yang berjihad harus ditarbiyah dulu. Karena tarbiyah merupakan pase yang harus dilalui sebelum melakukan amal jihadi. Di sini bukan berarti tarbiyah tidak penting, akan tetapi pertanyaan yang harus diajukan kepada kalangan ini adalah apakah seseorang yang belum ditarbiyah tidak boleh melakukan shalat, puasa dan zakat?
Dalam ungkapan lain apakah mereka tidak boleh shalat, puasa dan zakat hanya karena belum ditarbiyah? Bukankah dalam shalat, puasa dan zakat ada unsur tarbiyah? Jika jawabanya adalah “Ya”, kenapa ada perbedaan sikap dalam amalan jihad? Bukankah dalam jihad banyak ditemukan unsur-unsur tarbiyah?
Kelima: Dampak negatif dari konsep tersebut adalah memandang remeh penegakan syariat. Tidak sedikit dari kalangan pengikut Syaikh Albani begitu mudah memponis ‘khawarij’ kepada siapa saja yang memandang pentingnya penegakan syariat.

Penutup
Syaikh Albani sosok alim dan mujtahid sehingga wajar jika beliau disebut sebagai salah seorang mujaddid pada abad ini. Beliau telah menorehkan banyak jasa bagi Islam dan umatnya. Meskipun demikian seorang alim terkadang keliru dalam menghukumi suatu perkara tertentu dari sekian banyak permasalahan. Hal ini adalah sesuatu yang akan terjadi dan pasti terjadi. Akan tetapi kasus tersebut tidak menjatuhkan martabat sang alim.
DR. Bakr Abu Zaid berkata: “Kalau saja kekeliruan seorang alim terus diteliti maka tidak ada seorangpun yang selamat dari kesalahan. Setiap kita bisa membantah dan bisa dibantah. Dan hanya para nabi dan Rasul Allah yang terjaga . Apa yang dikatakan Bakr Abu Zaid sebenarnya merupakan makna pernyataan Imam Malik, beliau berkata: “Setiap kita bisa membantah dan dibantah kecuali yang memiliki kuburan ini (Rasul saw)” .
Konsep tashfiyah dan tarbiyah yang beliau gulirkan jelas merupakan konsep yang brilliant. Akan tetapi dalam tataran praktek didapatkan adanya sebagian kekeliruan. Khususnya oleh sebagian para pengikutnya dari kalangan Salafi Maz’um. Jarang sekali mereka berbicara tentang pentingnya membela kehormatan kaum muslimin atau berjihad dan pentingnya berhukum dengan hukum Allah secara detail. Bahkan ada di antara mereka yang justru membela kalangan yang tidak berhukum dengan hukum Allah dan alergi dengan istilah jihad.

Wallahu A’lam

42 Tanggapan

  1. Assalamualaikum.artikel ini adlh ringkasan dr apa yg dtulis oleh Syaikh abdulakhir alghunaimy&mrupakan kritik(sbgai rasa cinta&hormat beliau thd syaikh Al albani rahimahullah)krg lbh 2 tahun sblm syaikh al albani wafat,Syaikh Al albani adlh org yg byk brjasa thd kaum muslimin,trutama d bidang hadits,meskipun bgt beliau ttp org biasa yg tidak maksum,hendaknya ikhwan2 yg mnisbatkan ilmu kpd beliau berlapang dada.mari kita buka celah dialog,krn kmi rasa,tdk/kurangnya dialog antar ikhwan”mujahid”&ikhwan”salafy” lah yg mmbuat kita berpecah belah,pdhl sm2 mnisbatkan diri brmanhaj salaf,mnghormati Syaikhul islam ibnu taimiyah,syaikh Muhammad bin abdulwahab rhm dll,kok bs terpecah?ikhwan2 “salafy”yg sering mncela ikhwan”mujahid”dg sebutan”takfiry/khawarij”sharusnya kalian lah yg lbh aktif berdialog,bukankah dulu ibnu abbas,yg mndatangi khawarij tuk berdialog,tp kok aneh skrg,seringnya ikhwan”mujahid” yg srg mngajak antum dialog,mskipun sering tdk dtanggapi,krn antum kbanyakan mensifati mrk sbg”ahlu bid’ah” bnr kan?..sy tampilkan dsini terjemahan dr wawancara dg Syaikh Abu qatadah al filistiny(kbanyakan org2 yg mnisbatkan diri sbg murid Syaikh al albani,mnyebut beliau sbg takfiry/khawarij).beliau dtanya ttg kesan beliau thd 3 ulama besar,yg diakui,mayoritas umat islam..1.Syaikh Al albani..beliau adlh org yg telah banyak mncurahkan hidupnya tuk kaum muslimin,bliau tlah berhasil mnciptakan metode cemerlang tuk mnguasai ilmu hadits,meskipun ada bbrapa pendapat aneh beliau,trutama d bbrapa fiqh,maupun aqidah,saya(abu qatadah alfilistiny)bukanlah org yg mninggalkan bliau,tp jg sy bkn org yg taqlid buta thd bliau,anda bs mncermati spt kritikan imam adzahabi rhm thd imam ibnu hazm,kaum muslimin telah berhutang banyak thd beliau(Syaikh al albani)
    2.Syaikh Ibnu baz rahimahullah…..beliau adlh org yg mmiliki kesan yg mndalam dlm diriku,seorang yg sangat pemaaf,& sgt berpengaruh thd Jihad kaum muslimin skrg.tidak ada yg mngingkari itu kcuali org2 dungu.hanya sayang krn kedekatan bliau thd rezim rusak Saud yg mmbuat bliau terfitnah..tp tidak mngapa,krn bliau mmiliki kebaikan sebesar gunung& itu lebih dr cukup tuk mnghapus kkeliruan beliau rahimahullah.3..Syaikh al azhar tanthawy…orang ini adlh org yg telah gagal,baik dr segi aqidah,maupun dari segi kejantanan,orang yag merugi..
    ..itulah sbgian hasil terjemahan wawancara dgn Syaikh Abu Qatadah waktu bliau masih dpenjara d inggris,meskipun kbanyakan org2 yg mnisbatkan ilmu kpd Syaikh Al albani& syaikh Bin baz mnuduh bliau sbg takfiry/khawarij,bliau ttp org yg mmiliki kbesaran hati& objektif insyaAlloh dlm mnilai ulama..bgitulah akhlak seorang Muslim,smoga ini bs jad plajaran bg kita smua.amin.wassalam

  2. sungguh tulisan bnyk mengandung syubhat. klo tulisan anda bs dterima, apa ada ‘ulama yg merekomendasikannya, trnyata sayang, jauh panggang dr api, perkataan anda tdk dpt dtrima. dan itu cuma menurut perasangkaan anda saja, apa anda org yg bermajlis dng para ‘ulama atau hanya buka situs2 aja? dan diakhir tulisan, jelaslah siapa sebenarnya. kpd ikhwah skalian, jangn kita menelan mentah2 pndpt org tanpa ada yg mendukung pndptnya dr yg ahlinya/’ulama.

    • Seharusnya antum sebutkan akhi syubhatnya dimana.Biar kita bahas disini sampai tuntas. Jadi yang lain bisa tahu semuanya.Gimana ?

  3. Assalamu ‘alaikum. kata di artikel “….Di sini bukan berarti tarbiyah tidak penting, akan tetapi pertanyaan yang harus diajukan kepada kalangan ini adalah apakah seseorang yang belum ditarbiyah tidak boleh melakukan shalat, puasa dan zakat? ……” saya mau tanya lagi kepada penulis “…. kalau orang itu tidak tahu tentang shalat, puasa dan zakat, terus gimana ? perlu diajari gak (maksud disini ditarbiyah) ? antum jawab sendiri pertanyaan itu !!! keyakinan saya ” ilmu sebelum berucap dan berbuat “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s