Do’a, Ranah Antiteror di Tanah Suci


Perjalanan Umrah Ramadhan 1431 H membawa kesan menarik. Meski hanya sebentar, sedikit banyak bisa merasakan aura pertarungan ideologi di Arab Saudi antara kaum militan dengan kerajaan. Negara ini memiliki posisi unik di tengah kancah pertarungan ideologi global.

Arab Saudi menjadi penyumbang terbesar dari 19 orang yang melakukan serangan istisyhadiyah pada peristiwa ambruknya WTC. Dari 19 orang pelaku, 12 di antaranya adalah warga Saudi. Demikian pula tokoh sentral isu terorisme global, Usamah bin Ladin, juga warga Saudi meski kemudian dibatalkan kewarganegaraannya oleh Kerajaan.

Mujahidin global yang terpencar di seluruh dunia, yang berkewarganegaraan Saudi juga terbanyak, selain Mesir dan Yaman. Ini menjadi bukti bahwa Arab Saudi bagaimanapun tetap menjadi pemain kunci dalam militansi global, meski hanya diwakili warganya.

Justru sisi ini yang menurut saya menarik. Kerajaan mengambil mazhab Amerika, tapi warganya banyak yang bermazhab Al-Qaeda. Dan resikonya, warga Saudi yang pro Al-Qaeda pasti tersingkir dari lingkar kepercayaan Kerajaan dan pos-pos penting pemerintahan.

Teman dalam perjalanan umrah yang sekian tahun sebelumnya sudah pernah ke Saudi, menceritakan perobahan yang jelas terlihat secara kasat mata. Dahulu, katanya, petugas imigrasi rata-rata berjenggot lebat dengan wajah yang lebih ramah. Saya langsung teringat, itu barangkali tahun-tahun saat syekh Bin Baz masih hidup dan sangat dihormati oleh Kerajaan dan warga. Dan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab masih menjadi pengawal kuat bagi masyarakat Saudi.

Tapi kini, saat saya melewati proses di imigrasi di Jeddah, para petugas rata-rata berpenampilan klimis, tak berjenggot. Dengan pandangan biasa, ini bukan masalah yang serius, karena di Indonesia nyaris seluruh petugas juga demikian. Hanya masalahnya, jika dibandingkan sekian tahun yang lalu, di tempat yang sama, perobahan ini jelas mengindikasikan sesuatu yang tak kasat mata.

Memang masih mungkin untuk mengatakan, bahwa penampilan yang lebih klimis semata karena selera para petugas. Setidaknya, menurut hemat saya, hal ini mencerminkan bahwa masyarakat Saudi sudah makin longgar dan bebas dalam berpenampilan, untuk tidak mengatakan makin liberal.

Tapi pikiran nakal saya menduga bahwa perobahan ini boleh jadi ada kaitannya dengan kebijakan Kerajaan yang ingin memastikan bahwa para pembantu Raja hingga tingkat yang paling bawah tidak menampakkan penampilan militan. Maklum, jenggot – sebagaimana di Indonesia – kerap dianggap mencerminkan militansi seseorang.

Kontrol Ketat Terhadap Rakyat

Saudi dikenal sebagai salah satu negara yang paling ketat mengendalikan militansi warganya. Siksaan terhadap aktifis yang dianggap membangkang termasuk yang paling keras. Bahkan hukuman yang bersifat administratif amat mudah dijatuhkan kepada aktifis, misalnya pemecatan dari pekerjaannya.

Sistem kepegawaian di Saudi didesain untuk mendukung kebijakan itu. Saudi konon tidak mengenal istilah pegawai tetap. Semua pegawai baik pemerintah maupun swasta menggunakan pendekatan semacam karyawan kontrak. Setiap tahun atau dua tahun, kontraknya ditinjau. Jika ‘baik’ maka kontraknya diperpanjang.

Sistem ini membuat ciut nyali warga yang mencoba kritis kepada kerajaan. Warga menjadi masyarakat penurut karena khawatir posisi yang mapan di kantor akan tiba-tiba hangus gara-gara ketahuan nakal kepada Kerajaan.

Tentu saja bagi warga Saudi yang sudah tercelup dengan cinta Islam dan militansi perjuangan tak akan surut dengan tantangan ini. Banyak mereka yang lebih memilih hengkang dari tanah kelahirannya demi memelihara militansi tersebut, meski dengan resiko kewarganegaraan mereka dicabut.

Tak heran jika banyak warga Saudi yang berkeliaran di Afghan, Pakistan, Cechnya dan Somalia. Mereka menjadi warga dunia, bukan lagi warga Saudi.

Sisi lain, Saudi dikenal sebagai negara terkaya di antara negara-negara mayoritas muslim dengan minyak bumi yang melimpah. Saudi merupakan penghasil minyak bumi terbesar di dunia sehingga menjadi negara yang paling diperhitungkan dalam peta persaingan energi dunia.

Keunikan lain Saudi adalah negara yang menjadi kiblat umat Islam dunia, bukan hanya dalam hal ibadah tapi juga dalam masalah pemikiran. Saudi memiliki dua tempat suci yang dihormati umat Islam di seluruh dunia, Makkah dan Madinah. Kedua tempat ini menjadi tujuan wisata religi dari seluruh penjuru dunia. Hebatnya lagi, kesucian Makkah dan Madinah tidak ada yang menggugatnya, tidak seperti Baitul Maqdis yang dipersengketakan oleh kaum Nasrani dan Yahudi.

Keunikan ini yang selalu menarik untuk mengkaji Saudi. Dahulu Makkah merupakah kota yang menginspirasi Pan-Islamisme ke seluruh penjuru dunia, yang dikombinasi ajaran Muhammad bin Abdul Wahab yang idealis. Pengaruhnya hingga ke Indonesia, yang diantaranya melahirkan gerakan Imam Bonjol yang keras mengkritik praktek keislaman ala adat yang sarat dengan syirik dan bid’ah. Pada awal abad 20 melahirkan Muhammadiyah, lalu Al-Irsyad, Persis dan gerakan modernis lain. Semuanya tak bisa dilepaskan dari pengaruh Saudi dan – tentu saja – Mesir.

Tapi kini di era war on terror, Saudi makin kehilangan peran dalam menginspirasi militansi global, karena ketatnya kontrol Kerajaan terhadap rakyat, hingga dalam bidang ibadah dan pemahaman Islam. Namun peran itu dimainkan oleh warganya dengan pola swadaya umat, tanpa dukungan kerajaan. Bukan sekedar tidak mendukung, bahkan menghalangi dan berupaya memberantasnya.

War on Terror Sampai ke Masjid

Makkah dan Madinah memberiku bukti, setelah dari Indonesia sudah terlebih dahulu memprediksi. Bahwa war on terror di Saudi sangat dahsyat, bahkan masuk ke ranah ibadah. Bukan hanya dalam bentuk kontrol terhadap isi ceramah, tapi bahkan kontrol terhadap untaian do’a yang dipanjatkan imam di masjid.

Bukti pertama saya temukan di Masjid Nabawi, Madinah. Kesempatan shalat Jumat dan Tarawih membuatku penasaran, apa rangkaian do’a yang dipanjatkan di masjid yang mulia ini. Untuk diketahui, bahwa shalat di masjid Nabawi bernilai 1000 sholat di masjid lain.

Tarawih di masjid Nabawi selalu ditutup dengan do’a oleh imam pada rakaat terakhir shalat witir. Saya penasaran, mujahidin di berbagai belahan dunia yang sedang berjibaku melawan Salibis apakah termasuk yang akan dido’akan?

Ternyata dugaan saya benar, tidak ada untaian do’a untuk mujahidin. Saya hanya menemukan do’a untuk umat Islam Pakistan yang belum lama terkena bencana banjir. Juga umat Islam Palestina yang sejak lama dizalimi Israel, dan do’a agar Allah mengembalikan Masjidil Aqsha kepada umat Islam.

Saya mencoba menganalisa, kenapa ada do’a untuk korban banjir Pakistan dan umat Islam Palestina, tapi tidak ada do’a untuk mujahidinnya agar dimenangkan melawan Amerika? Ada apa di balik ini semua?

Sudah menjadi rahasia umum di Saudi, bahwa siapa yang mendo’akan mujahidin Afghan, Iraq atau Somalia, ia secara otomatis dianggap pendukung Al-Qaeda. Cap ini tidak mudah di Saudi, sebab akan berujung pada penangkapan atau penyingkiran. Maka tak heran, aura kontrol ini merasuk hingga dua masjid suci, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Bagi yang peka dengan wacana jihad global akan dengan mudah menangkap atmosfir ini. Kalau masih kurang percaya, silakan tanyakan kepada mahasiswa Indonesia yang sudah lama di Saudi.

Kalau intinya musibah yang menimpa umat Islam, maka hadirnya Amerika di Afghan dan Iraq sudah cukup dijadikan tolok ukur skala musibah yang menimpa umat. Bahwa umat Islam yang sedang berjibaku melawan musuh Allah mestinya lebih layak dido’akan agar mendapatkan kemenangan dibanding mereka yang terkena musibah banjir seperti di Pakista. Atau minimal sama saja, keduanya membutuhkan uluran do’a dari saudaranya seiman, apalagi dari mereka yang sedang beribadah di tempat suci, masjid Nabawi. Tapi sayang harapan mereka tak terkabul di masjid Nabawi.

Hal ini berbeda dengan do’a untuk Palestina. Isu Palestina sudah menjadi isu global, dan Israel juga menjadi musuh global. Bahwa mendoakan Palestina tak ada hubungannya dengan dukungan kepada Al-Qaeda, oleh karenanya ada do’a untuk Palestina tapi tak ada do’a untuk Afghan, Iraq, Somalia, Cechnya dll. Maksud saya, do’a untuk kemenangan mujahidinnya.

Posisi yang paling logis bagi Saudi adalah berdiri di belakang Amerika, mendukung tanpa perlu tanya. Jelas menjadi sesuatu yang janggal jika di masjid-masjid Saudi dilantunkan doa untuk kekalahan Amerika (dan kemenangan mujahidin) tapi Kerajaan mendukung Amerika.

Setelah saya pindah ke Makkah pada 10 terakhir Ramadhan, ternyata keadaannya sama persis dengan yang saya temukan di Madinah. Saya mendapat info dari teman perjalanan, bahwa doa untuk Afghan akan dilantunkan khusus pada malam 27, saat jamaah mencapai jumlah tertinggi karena mengejar fadhilah lailatul Qadar. Saya jadi penasaran.

Saya sengaja pasang telinga lebih peka pada malam itu. Benar saja, ada doa untuk Afghan, tapi ternyata bunyinya bukan kemenangan mujahidin melawan Amerika, tapi doa minta keamanan bagi rakyat Afghan. Padahal keamanan tidak sama dengan kemenangan. Keamanan bisa juga tercipta jika Amerika menang, dan itu bermakna kekalahan mujahidin. Barangkali inilah batas maksimal do’a yang diperbolehkan di dua masjid suci, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Saya sedih, masjidil Haram yang menjadi simbol terpenting dakwah Tauhid dan didirikan oleh Bapak Tauhid – Ibrahim as – ternyata kembali dikangkangi kaum musyrik – Amerika – paling tidak dalam hal kontrol terhadap isi do’a. Tiadanya do’a untuk kemenangan mujahidin dan kekalahan Amerika jelas menguntungkan Amerika. Dan ini menjadi bukti, bahwa pengaruh Amerika sampai ke masjidil Haram, tentu dengan memanfaatkan kelemahan Kerajaan. La haula wala quwwata illa billah.

Demikian juga, masjid Nabawi, tempat suci kedua yang menjadi basis Nabi saw dalam mengalahkan kaum musyrik, juga kembali berada di bawah kendali kaum musyrik – Amerika. Padahal doa di kedua tempat suci ini lebih mustajab dibanding di tempat lain. Belum lagi momentum di-amin-kan oleh ratusan ribu, bahkan sampai jutaan jamaah, di bulan yang penuh barakah. Tapi sayang peluang ini terbuang .

Indonesia, Surga Dakwah dan Pembelaan terhadap Mujahidin

Melihat realita Saudi, membuat saya dan seluruh umat Islam Indonesia bersyukur. Kita masih mendapat kebebasan dalam batas-batas tertentu untuk mendiskusikan tema apapun dalam Islam, dan mendo’akan kemenangan mujahidin dengan laluasa. (Asal dengan menggunakan kosa kata mujahidin, bukan teroris, kalau menggunakan kata teroris juga bakal dilarang). Kita juga bebas mengkritik Amerika, apalagi Israel, baik di masjid atau di majlis taklim.

Setahu saya, negara-negara Timur Tengah lebih peka dalam mengontrol militansi warganya. Lalu kenapa kontrol itu hingga isi do’a yang merupakan ranah prifat sebagai bagian yang menyatu dengan ibadah? Saya khusnu dhan, barangkali karena jamaah Indonesia tidak paham Bahasa Arab, sehingga penggunaan kata mujahidin dan do’a kemenangan untuk mujahidin tidak dianggap masalah.

Berbeda dengan Saudi, mendo’akan mujahidin dipandang sama dengan mendo’akan teroris. Masyarakat Saudi berbahasa Arab sehingga mereka paham arti do’a tersebut, dan mengidentikkan mujahidin dengan teroris. Ini merupakan pengakuan tidak resmi kerajaan, bahwa mereka yang disebut teroris oleh Amerika adalah mujahidin dalam istilah Al-Qur’an. Kalau bukan karena pengakuan ini, tentu tak ada larangan mendoakan kemenangan untuk mujahidin.

Indonesia, sebagaimana penuturan seorang syekh dari Mesir yang pernah ke Indonesia belum lama, merupakan surga dakwah. Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan negaranya, Mesir. Kontrol yang dilakukan Indonesia bersifat longgar dalam menyampaikan dakwah. Semua tema bisa dibahas, didiskusikan bahkan diperdebatkan.

Tapi ia mengingatkan, bulan madu dakwah seperti Indonesia secara sunnatullah tak bersifat abadi. Cepat atau lambat akan disusul dengan pengawasan ketat terhadap materi dakwah. Seperti yang sekarang lebih dulu terjadi di Saudi. Tentu saja kita berharap, semoga tak berulang di Indonesia.

Saat saya menulis artikel ini di Cisarua Bogor, sedang terjadi peledakan bom amatir di Bekasi yang dilakukan oleh pelaku amatir, tapi dengan semangat ala Al-Qaeda. Ia amat paham arti sebuah propaganda dalam pertarungan. Dengan alur yang dramatis bak film, ia dengan sengaja meninggalkan dua carik kertas di saku celananya berisi ungkapan dukungan untuk mujahidin dan bahwa tindakannya dalam rangka membalas penangkapan dan pembunuhan yang terjadi pada mujahidin.

Sontak media geger. Saya mengikuti dengan seksama simpang siur analisa di televisi. Salah satu narasumber penting, Ansyad Mbai, yang berasal dari unsur Kepolisian, dalam analisisnya selalu menekankan bahwa yang mesti diberantas adalah akar fundamentalismenya. Menurutnya, tindakan pemberantasan dengan kekerasan yang menjadi ranah kepolisian, mesti diimbangi dengan penjinakan secara gagasan oleh pemerintah, dalam hal ini unsur Departemen Agama atau MUI.

Saran ini bermakna, jika eskalasi terorisme makin meningkat, salah satu strategi penanggulangannya adalah dengan mengontrol isi ceramah para dai dan mubaligh. Pada kondisi ekstrim, mungkin akan terjadi seperti Saudi, yang bahkan mengontrol isi do’a yang dilantunkan.

Mereka khawatir do’a yang diucapkan para da’I bernada menguntungkan mujahidin. Jadi perangnya bukan semata duniawi, tapi perang ukhrawi. Yakni perang do’a yang tak ada teorinya dalam perang konvensional. Rupanya mereka yang memusuhi teroris sudah mengikuti paradigma teroris (mujahidin), bahwa kemenangan bukan hanya didapat melalui perang secara fisik, tapi juga perang secara ghaib, yaitu dengan do’a.

Saya jadi teringat dengan do’a yang dipanjatkan Rasulullah saw untuk kebinasaan Abu Jahal dkk di Makkah saat mereka ‘ngerjain’ Rasulullah saw dengan meletakkan jeroan onta di punggungnya saat sujud. Mereka tertawa-tawa dengan pelecehan tersebut. Rasulullah saw tetap dalam posisi sujud sampai Fathimah ra membuangnya dari punggungnya. Setelah selesai, Rasulullah saw melantunkan do’a dengan suara keras agar didengar Abu Jahal cs. Do’a untuk kebinasaan mereka; semua yang terlibat kezaliman ini. Mendengar do’a itu, kontan mereka terdiam seribu bahasa, padahal sebelumnya terbahak-bahak mentertawakan Rasulullah saw. Semua nama yang dido’akan kebinasaan itu kemudian terbunuh pada peristiwa Badar.

Diamnya mereka setelah dido’akan Rasulullah saw dengan kebinasaan, menjadi bukti bahwa do’a menjadi salah satu medan pertempuran yang bersifat psikologis (kejiwaan) dan sangat ditakuti musuh-musuh Allah. Mereka yakin betul akan dampak do’a ini, sehingga membuat kegembiraan mereka berobah menjadi kesedihan.

Maka tak heran, mereka yang memusuhi teroris (mujahidin), tidak terima jika umat Islam mendoakan kemenangan untuk mujahidin. Do’a ini akan membuat mereka gelisah bahkan tidak bisa tidur. Bahkan membuat mereka selalu dibayang-bayangi kekalahan.

Untung Rugi Istilah Terorisme

Penggunaan istilah terorisme jika dikaitkan dengan kontrol terhadap isi do’a, sebetulnya menguntungkan. Sebab semua umat Islam masih bisa mendo’akan mujahidin dengan leluasa karena tidak bisa dikenakan delik dukungan kepada teroris. Hal ini disebabkan do’a yang dipanjatkan umat Islam pasti tidak akan menggunakan kata teroris. Misalnya, ya Allah menangkanlah para teroris di seluruh dunia. Tapi do’anya berbunyi, allahumma unshur mujahidin fi kulli makan (ya Allah tolonglah/menangkanlah mujahidin di seluruh dunia).

Dengan tetap digunakannya istilah teroris oleh Barat dan Indonesia, maka tidak ada delik apapun untuk menjerat umat Islam yang mendo’akan kemenangan untuk mujahidin. Toh barakah do’a ini akan tetap sampai meski seluruh dunia menggelarinya sebagai teroris, kendati alam bawah sadar mereka mengakuinya sebagai mujahid.

Memang kita kadang merasa frustasi ketika mujahidin yang ingin membela umat Islam, tapi tindakannya dipersepsikan negatif oleh umat Islam sendiri gara-gara penggunaan istilah terorisme. Ketika disebut teroris, pelakunya menjadi buruk laksana penjahat.

Jika kita mau lebih jujur, penggunaan istilah teroris untuk menyebut mujahidin bisa jadi menguntungkan Islam. Hal ini disebabkan, masih banyak tindakan mujahidin yang belum sepenuhnya sesuai dengan syariat Islam. Sekiranya semua orang sepakat untuk menyebut mereka mujahidin, padahal banyak kekeliruan dalam praktek jihadnya, maka persepsi umat terhadap jihad menjadi ikut miring.

Dengan disebutnya mereka sebagai teroris, kekeliruan yang mereka lakukan tak berdampak buruk bagi syariat yang bernama jihad. Jihad masih tetap utuh, sebagai istilah baku dalam Islam yang tidak bisa diganti. Jihad memiliki syarat dan adab dalam pelaksanaannya sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw dan para Sahabat, dan tak terpengaruh tindakan teroris.

Pandangan seperti ini menganut paradigma positive thinking (tafa’ul). Kita memang harus selalu mencari sisi tafa’ul dan optimisme dari segala sesuatu. Biarlah pesimisme dimiliki kaum kafir, toh kita tak membutuhkannya. Sebaliknya kita harus memupuk optimisme bahwa semua makar (termasuk makar bahasa) akan kembali kepada mereka sebagai kerugian dan penyesalan.

Mereka berusaha memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, sedangkan Allah pasti akan menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir membencinya (menghalanginya).

Banyaklah berdoa untuk kemenangan mujahidin, selagi belum – semoga tidak – dilarang !
(Toh barakah do’a tersebut akan sampai kepada mereka meski dunia menyebutnya teroris)

Akhir Syawal 1431 H (1 Oktober 2010)

Cisarua, Bogor