REFLEKSI JIHAD ACEH 2010 (bag 3)


Merumuskan Peta Kontribusi Umat Islam

Mujahidin perlu merumuskan peta kontribusi umat yang dibutuhkan untuk menegakkan Islam, dalam rangka memastikan semua unsur umat bisa mengambil peran sesuai minat dan kemampuan. Karena dalam realita seperti Indonesia saat ini (2010), rasanya tak mungkin berimajinasi bahwa seluruh umat Islam mendukung jihad, apalagi ikut hadir di medan jihad.

Kecuali jika realitanya seperti Iraq atau Afghan, ketika musuh yang kafir dengan beringas menyerang umat Islam, maka diperlukan sebanyak mungkin kader umat yang harus datang ke medan jihad. Dalam situasi semacam ini, kontribusi yang paling dibutuhkan dan efektif bagi umat adalah memanggul senjata untuk mengusir penjajah yang kafir sesegera mungkin.

Peta kontribusi yang dimaksud, misalnya untuk menjawab pertanyaan seorang wartawan muslim, apa kontribusi yang bisa ia berikan untuk jihad dan menegakkan Islam jika tak terjun langsung ke medan laga? Juga pertanyaan serupa dari kalangan pedagang, guru, dokter, petani, sopir, pelaut, ahli IT, insinyur, dan segala macam pernik profesi dan keahlian manusia.

Apakah mengobarkan jihad di Indonesia bermakna menyeru mereka semua untuk meninggalkan profesi masing-masing, dan berbondong-bondong menuju medan jihad? Sekali lagi, untuk kasus negara sebesar Indonesia, dengan jumlah penduduk muslimnya saja lebih dari 200 juta, dan tak ada “pemantik” untuk menyalakan pertempuran, apakah itu pilihan yang bijak untuk tegaknya Islam di sini?

Ataukah ada toleransi dengan membiarkan mereka menekuni profesinya, tapi bisa berkontribusi untuk tegaknya Islam? Jika jawabannya ya, maka yang mereka butuhkan adalah sebuah peta kontribusi. Mereka masih bisa bekerja di bidangnya masing-masing, sambil “menabung” kontribusi dalam sebuah mata rantai yang berujung pada jihad fi sabilillah. Setahu saya, belum pernah dibuat blueprint (cetak biru) peta kontribusi yang mencakup seluruh aliran dan keahlian umat Islam, minimal di Indonesia.

Umat Islam Indonesia memiliki beberapa situs yang gencar menyuarakan tema dan berita jihad, semisal Arrahmah.com, Muslimdaily.net, Eramuslim.com dan lain-lain. Mujahidin tak perlu memprofokasi para admin situs-situs tersebut untuk meninggalkan posnya demi pergi ke bukit-bukit pertempuran. Sebab keberadaan pos-pos tersebut amat vital dalam mengedukasi umat tentang jihad dan mengadvokasi para mujahidin dari kasus-kasus yang menjerat mereka.

Demikian pula jika ada dokter, baik yang umum maupun spesialis. Keahlian mereka perlu dipelihara di tempat kerja mereka masing-masing, untuk suatu saat digunakan. Kader-kader umat yang menggeluti dunia teknik dan rekayasa, biarkan mereka berkembang di tempat kerja mereka masing-masing, karena jihad amat membutuhkan keahlian mereka pada saatnya nanti.

Bahkan lembaga-lembaga dakwah yang hidup di tengah umat dengan segenap ragam dan fokus perhatiannya juga perlu dipelihara. Misalnya ada lembaga yang fokus memberantas kemunkaran (FPI), menekuni pendidikan untuk anak-anak muslim (pesantren dan sekolahan), spesialis menghantam aliran sesat (LPPI), spesialis melawan Liberalisme dan Pluralisme (INSIST: Adian Husaini dkk), spesialis melawan Syiah, spesialis melawan Kristenisasi (FAKTA dll) dan semua elemen umat yang berperan menjaga rumah besar umat dari rongrongan tikus-tikus kemunkaran dan kesesatan.

Paradigma ini dilandasi pandangan bahwa jihad bukan obat segala penyakit. Jihad bukan seperti iklan sebuah produk minuman: apapun makanannya, minumannya teh botol sosro. Untuk melawan Syiah di Indonesia, tak bisa dengan mengancam mereka dengan senjata dari bukit-bukit jihad. Karena mereka menyusup dengan cerdik seperti bunglon di semua lini kehidupan di kota-kota dan desa-desa. Mereka punya aqidah bernama Taqiyah, yaitu keharusan berpenampilan layaknya musuh untuk mengalahkan musuh. Paling baik dan efektif membongkar kedok mereka adalah dengan al-kitab, bukan dengan as-saif.

Membongkar kebusukan mereka adalah melalui ilmu dan dakwah, bukan menantang mereka adu senjata karena wujud mereka pun sulit dikenali. Bukankah Islam ditegakkan dengan dua sarana; al-kitab al-hadiy dan as-saif an-nashir (Kitab yang berfungsi memberi petunjuk, dan pedang yang berfungsi menolong). Kitab melambangkan ilmu dan dakwah, sementara saif melambangkan jihad fi sabilillah. Tanpa perpaduan keduanya, perjalanan Islam akan pincang. Jika hanya menonjolkan kitab, akan dilecehkan musuh. Jika hanya menonjolkan saif, Islam akan tampak garang laksana preman, sehingga orang takut mendekat.

Wilayah Indonesia dengan jumlah muslimnya mayoritas ini yang terbaik adalah dijadikan obyek dakwah, belum lagi obyek jihad. Bukan sembarang dakwah, tapi dakwah yang mendukung perjalanan jihad. Umat dibimbing untuk bisa memahami, mengamalkan dan membela Islam dengan benar. Jika variasi keahlian dan profesi mereka dikelola dengan baik, kekuatan umat bisa digunakan untuk menagakkan Islam pada saatnya nanti bila momentumnya sudah tiba. Sayangnya, manusia kerap tak mampu menundukkan sifat aslinya; isti’jal (tergesa-gesa). Ingin menegakkan Islam laksana sulap. Atau minimal ingin mencapai hasil laksana preman; todongkan senjata, semua urusan akan selesai.

Teliti dalam Merekrut Kader Jihad

Jihad yang bermakna pertempuran di medan perang, harus memilih kader-kader terbaik yang memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Sebab sudah berulang kali jihad bersenjata dikumandangkan di Indonesia, tapi selalu berujung pada penangkapan yang menyedihkan. Kita harus sangat teliti dan selektif dalam memilih kader yang siap berjihad dengan senjata, karena karakter jihad berbeda dengan karakter dakwah.

Tidak semua orang yang lisannya dengan manis mendukung jihad merupakan orang yang tepat untuk diajak berjihad ke medan tempur. Intelijen berkeliaran, yang banyak di antaranya berpenampilan sangat “salafi” dan sangat “jihadi”. Amat sulit membedakan mana orang yang sungguh-sungguh lagi aman untuk diajak jihad dari kalangan yang justru akan merusak jihad.

Intelijen bekerja dengan sangat serius untuk menjegal barisan mujahidin. Tak bisa kita hanya mengandalkan kader jihad dengan melihat pada penampilan lahirnya, tapi kita harus benar-benar merasa aman dan sangat kenal dengan orang yang menjadi partner jihad kita. Hati-hati dengan kader jihad “karbitan”, yaitu mereka yang hanya semangat jika berbincang soal jihad, tapi ogah-ogahan ketika diajak bicara soal bagaimana cara wudhu yang benar sesuai sunnah Nabi saw, soal kesucian (thaharah), dan soal najis. Mereka enggan dan tidak antusias bicara soal jilbab untuk istri dan anaknya, soal pilihan sekolah untuk anaknya, soal interior rumah yang islami, soal menangis karena takut kepada Allah, soal zuhud, soal wara’ , soal usaha yang halal, soal riba, soal ittiba’ kepada Rasulullah saw dan seterusnya.

Indonesia bukan tempat yang sedang berkecamuk konflik seperti Afghan,  Iraq, atau Somalia. Di wilayah konflik, tak diperlukan ketelitian yang terlalu ketat dalam merekrut kader jihad. Siapa pun yang punya cukup keberanian untuk datang ke medan tempur dan ingin berjihad bersama mujahidin, harus diterima dengan tangan terbuka.

Tapi untuk kasus seperti Indonesia, yang bukan negara konflik, kita tak bisa serta merta merasa aman bekerja dengan kader jihad “karbitan”. Tidak semua yang menampakkan ketertarikan dengan tema jihad layak untuk diajak ke medan jihad.

Inilah karakter jihad. Berbeda dengan karakter dakwah, yang sangat open. Siapa pun bisa diajak bergabung dalam barisan dakwah. Siapa pun yang bertanya tentang Islam, kita wajib menjelaskan, tanpa boleh menolak. Bahkan jika yang meminta itu dari kalangan intelijen yang ingin menjebak seorang da’i. Siapa pun yang tertarik dengan dakwah dan menyebarkan Islam asalkan terlihat itikad baiknya, kita mesti mengapresiasinya.

Sementara dalam jihad, barisan mujahidin boleh (bahkan harus) menolak kaum munafiq untuk masuk dalam barisan jihad, jika ternyata ia akan justru merusak agenda jihad. Lihat Surat At-Taubah ayat 83. Tapi ketika Rasulullah saw berada di Madinah, beliau tetap tampak dekat dan akrab dengan kaum munafiq, karena kehidupan di Madinah bercorak dakwah. Alkisah menyebutkan, gembong munafiq zaman Nabi saw yang bernama Abdullah bin Ubay biasa shalat di belakang Nabi saw.

War, Bukan Battle (Perang, Bukan Tempur)

Jihad mestinya dimaknai sebagai peperangan semesta, bukan bentrokan sesaat. Kesalahan dalam mempersepsikan jihad akan melahirkan kekeliruan dalam merealisasikan jihad.

Dalam bahasa Inggris, ada istilah war dan ada istilah battle. War adalah peperangan panjang antara dua pihak. Sementara, battle adalah bentrokan sesaat antara dua kelompok yang bersenjata. Atau dengan kata lain, war (perang) merupakan serangkaian battle (tempur) yang dilakoni dua pihak yang saling berseteru.

Pertarungan antara umat Islam melawan kaum kafir dengan segenap anteknya merupakan pertempuran dan pertarungan panjang yang bersifat lintas generasi. Oleh karenanya lebih tepat disebut perang (war). Permusuhan yang melibatkan seluruh sisi kehidupan, segala jenis keahlian, dan semua ragam kehidupan manusia. Bahkan tanpa ada batas waktu.

Kedua belah pihak menggunakan segala daya kemampuan dan cara untuk mengalahkan lawannya. Ada adu kesabaran dalam mengintai. Ada adu cerdik dalam menjebak. Ada adu pintar dalam mengelabuhi. Ada adu kekuatan dalam benturan senjata. Ada adu kecanggihan teknologi. Ada adu kekuatan ekonomi. Ada adu ketangguhan mental. Ada adu soliditas barisan. Ada adu ketajaman membidik. Semua puncak ilmu dan kehebatan masing-masing diramu dan diracik sebaik mungkin untuk menghasilkan kemenangan.

Jihad fi sabilillah—oleh karenanya—lebih tepat diletakkan dalam makna war atau perang, bukan tempur atau battle. Jihad bukan semata bagaimana dapat memukul dan mengalahkan musuh dalam waktu singkat tapi tak mampu memelihara kemenangan itu. Jika ukurannya bisa memukul musuh di salah satu sesi tempur, bukan merupakan kemenangan jihad. Kemenangan jihad adalah bila mampu memenangkan pertempuran dan dapat memelihara kemenangan itu dengan tegaknya sebuah kekuasaan, karena tujuan utama jihad adalah menghilangkan hambatan dalam melaksanakan Islam dalam tataran negara.

Dengan demikian, jihad menghajatkan pula kemahiran berpolitik, selain membangun kekuatan ekonomi. Ada renungan menarik dari seorang tokoh jihad Afghan yang berasal dari Arab. Renungan ini ditampilkan oleh Hazim Al-Madani dalam bukunya Hakadza Nara al-Jihad.

Berikut catatan Hazim Al-Madani:

Hasil akhir semua rangkaian eksperimen jihad global umat Islam: kita cukup sukses dalam mencapai angka-angka keberhasilan secara militer (tempur), tapi pencapaian kita nol besar di bidang politik.  Saya ingat (kata Hazim Al-Madani), suatu hari seorang tokoh jihad Arab di Afghanistan berkata: “Kita asyik dengan pertarungan militer, sukses menempa jiwa ikhlas, dan berhasil menghidupkan kecintaan mati syahid. Tapi kita lalai memikirkan kekuasaan (politik), sebab kita tak sepenuh hati menggelutinya. Kita masih memandang bahwa politik adalah barang najis. Hasilnya, kita sukses mengubah arah angin kemenangan dengan pengorbanan yang mahal, hingga menjelang babak akhir saat kemenangan siap dipetik, musuh-musuh melepaskan tembakan “rahmat”  kepada kita – demikian kosa kata yang biasa mereka gunakan – untuk menjinakkan kita.”

Saat itu banyak yang tak sependapat dengan refleksi ini, meski banyak pula yang sepakat. Tapi realita yang kemudian terjadi membuktikan kebenaran sinyaleman ini. Seluruh dunia mengusir eksistensi mujahidin Arab pasca perang melawan Rusia (saat itu Uni Soviet). Mujahidin yang pulang kampung ‘diberi rahmat’ (baca; ditangkap) oleh negeri mereka masing-masing. Demikian catatan Hazim Al-Madani.

Namun harus diingat, kalimat ini bukan dalam rangka menjustifikasi politik najis ala partai politik di Indonesia. Bukan politik kotor yang dipamerkan para penyembah dunia dengan cara mengaduk al-haqq dengan al-bathil, menyamarkan kebenaran atau mengurangi harga kebenaran. Tidak, sekali lagi tidak. Tapi yang dimaksud, politik yang kita baca dari cara Nabi saw mengelola urusan umat baik dalam masalah sosial, dakwah dan jihad di medan tempur. Politik yang bermakna mekanisme baku dalam menegakkan peradaban manusia. Jika kita melalaikan mekanisme baku yang berlaku secara global ini, kita hanya akan berputar tanpa ujung disebabkan kita tak mencontoh Nabi saw dan tidak menapaki sunnatullahnya: hukum alam sebab akibat.

Jihad bisa memakan waktu yang sangat lama, seperti Perang Salib yang berlangsung sekitar 200 tahun. Jihad Afghan saat sukses menaklukkan Uni Sovyet pada tahun 90-an menjadi pelajaran berharga buat kita. Ternyata setelah mujahidin ditolong oleh Allah sehingga mampu mengusir Uni Sovyet, mereka bertengkar sendiri dan Afghan menjadi sangat lemah dan letih dengan perseteruan internal. Alhamdulillah Allah menyelamatkan hasil jihad panjang puluhan tahun itu dengan munculnya Taliban, yang berhasil menyatukan barisan umat Islam Afghan dalam satu shaf, sebelum akhirnya dirusak kembali oleh Amerika dengan jargon “War on Terror”-nya pada tahun 2001.

Maka kita harus mengartikan jihad dengan makna perang (war) bukan pertempuran (battle). Dalam bahasa Arab juga dibedakan. Pertempuran atau battle disebut dengan qital, harb atau ma’rakah. Sedangkan perang digunakan istilah jihad. Itulah mengapa kita tak menemukan istilah dalam Al-Qur’an berupa rangkaian kata qital dengan amwal. Artinya tak ada pertempuran dengan harta. Rangkaian yang ada adalah kata jihad dengan amwal, yang artinya berjihad dengan harta. Terdapat 9 ayat yang berisi rangkaian kata jihad dengan amwal, sementara tak ada satupun ayat dengan rangkaian kata qital dengan amwal.

Ini artinya, jihad bukan semata tempur adu senjata di medan laga, karena jihad bisa dilakukan dengan harta. Kalau sekiranya jihad hanya bermakna tempur, tak ada istilah jihad dengan harta. Jihad adalah perang atau war yang bersifat semesta, meliputi seluruh elemen kehidupan manusia. Meliputi militer, politik dan ekonomi. Maka, pastikan seluruh umat Islam tahu peta kontribusi untuk jihad dalam rangka menegakkan Islam. Jangan sampai ada potensi umat Islam yang tercecer tak terrangkai dalam untaian jejaring kekuatan jihad global dalam rangka memenangkan Islam dan mengubur kesombongan kaum kafir dengan segenap anteknya.

Mujahidin Harus Menyatu dengan Umat

Mujahidin ibarat ikan, umat adalah airnya. Jika mujahidin meninggalkan umat, umatpun akan meninggalkan mujahidin. Keduanya saling membutuhkan secara berimbang. Oleh karenanya, hubungan mujahidin dengan umat mesti harmonis dan sinergis, bukan saling merendahkan bahkan saling melaknat.

Umat Islam butuh bimbingan untuk memahami Islam. Mereka perlu diberi pencerahan tentang bagaimana cara membela dan menegakkan Islam. Kontribusi mereka harus dihargai, bukan diremehkan.

Mujahidin perlu memberitahukan dengan jelas maksud perjuangannya, dengan memberi rasa aman terhadap umat Islam dari dampak yang mungkin timbul dari perjuangan tersebut. Memang dampak buruk duniawi tak bisa dipungkiri akan selalu menyertai dari setiap perjuangan.

Hazim Al-Madani, dalam bukunya hakadza nara al-jihad mengingatkan kita akan pentingnya masalah ini. Untuk sekedar diketahui, Hazim Al-Madani adalah salah seorang tokoh jihad Afghan dan punya kedekatan dengan lingkar dalam Al-Qaeda.

Berikut tulisannya:

“Saat ini, dunia internasional berkoalisi memerangi kita. Jika ada yang tidak ikut dalam koalisi ini, sejatinya bukan karena simpati kepada kita. Tapi lebih disebabkan keinginan untuk memperoleh bagian lebih besar dari ghanimah ini (kita semua adalah ghanimah bagi mereka). Meski realitanya demikian, mereka yang tidak masuk dalam koalisi internasional ini berpotensi untuk dijalin kemitraannya dengan kita. Tapi masalahnya, kita wajib mengutamakan mitra setia yang bersedia berkorban untuk kita, bukan mitra yang suatu saat akan mengkhianati kita. Dan singkat kata, mitra setia itu adalah umat Islam sendiri.

Aku tekankan poin ini dengan adanya bukti sejarah yang menguatkannya. Dengan bukti-bukti ini saya berharap putra-putra umat yang terlibat dalam kancah amal islami yakin bahwa umat mereka berdiri tegak di belakang mereka, membela mereka dan menebus pengorbanan mereka dengan apa saja yang mereka punya, tanpa pernah meninggalkan mereka berjibaku sendirian di medan pertarungan.

Afghanistan pasca hengkangnya Uni Soviet, saat dukungan pemerintah Arab dan Islam berhenti disebabkan intervensi Amerika, tatkala pemerintah-pemerintah itu tak lagi tertarik mendukung mujahidin untuk memetik buah kemenangannya. Siapakah yang mengulurkan bantuan sehingga muncul gerakan Taliban? Apakah pemerintah dan bala tentaranya itu yang membantu ataukah putra-putra umat ini? Bukankah individu-individu umat Islam yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk disumbangkan kepada mujahidin dengan suka rela?

Somalia, saat terjadi atraksi jihad menawan melawan koalisi internasional, siapakah yang mengulurkan bantuan kepada mujahidin sehingga tentara Amerika lari tunggang-langgang dari sana? Siapa yang melakukan atraksi jihad itu? Apakah pemerintah Somalia dengan bala tentaranya ataukah putra-putra umat Islam? Bukankah unsur umat Islam yang rela memangkas sebagian penghasilannya untuk disumbangkan kepada mujahidin dengan suka rela?

Bosnia, saat berkecamuk perang sipil yang mengerikan, siapakah yang mengulurkan bantuan untuk membela umat Islam yang menjadi korban pembantaian? Apakah pemerintah dan pasukannya ataukah umat Islam melalui putra-putra terbaiknya? Siapa yang mengulurkan bantuan ekonomi? Bukankah umat Islam yang dengan suka rela menyisihkan sebagian nafkahnya untuk disumbangkan dengan suka rela?

Cechnya, yang dua kali dihantam gelombang penyerbuan dari tentara Rusia, saat dunia sudah berada dalam genggaman hegemoni Amerika. Siapakah yang mendanai mujahidin dalam membela setiap jengkal tanah Cechnya? Apakah penguasa dan prajuritnya, ataukah umat Islam dengan segenap jiwa, raga dan hartanya?

Palestina, sepanjang untaian nestapa mereka, dan kisah heroik perlawanan Intifadhah. Semua ini menjadi contoh betapa pengorbanan sedang ditunaikan umat dan akan selalu ditunaikan.

Bahkan kita tidak tahu, apakah dukungan materi dari umat Islam itu sampai ke tangan mujahidin Palestina ataukah dirampok oleh para penguasa Arab. Di sini jelas, siapa yang berkorban dan siapa yang justru menghambat.

Yaman, siapa yang meledakkan kapal induk Amerika USS Cole hingga terkoyak. Jelas, bukan tentara Yaman, tapi unsur umat Islam.

Siapa yang menghantam New York dan Washington pada hari Selasa yang penuh berkah pada tahun 2001? Apakah para penguasa dan bala tentaranya, ataukah umat Islam? Mereka mempersembahkan putra-putra terbaiknya dan dengan sukarela membagi nafkahnya untuk jihad dan mujahidin.

Peta pertarungan telah terkunci mapan. Tapi bukan antara Barat dengan Timur, atau antara Utara dengan Selatan. Tapi antara blok kufur dengan blok iman. Ibarat dua sisi timbangan, sebelah diisi kaum kafir dengan segenap antek-antek dan perlengkapannya, dan sisi yang lain diisi mujahidin dan umat Islam dengan segenap dukungan dan perlengkapannya pula.

Jelaslah, umat Islam menempati satu papan pertarungan, sementara yang lain ditempati blok kafir dunia. Fakta ini dipahami dengan baik oleh Barat dan para penguasa dunia. Oleh karenanya, mereka selalu melakukan upaya sistematis untuk memisahkan kita (mujahidin) dengan umat Islam. Allah akan selalu menang, tapi banyak manusia yang tak meyakininya. Sesunggunya sandaran hakiki mujahidin setelah kepada Allah adalah kepada umat Islam yang selalu merindukan tegaknya undang-undang Al-Qur’an dalam kehidupan mereka hingga mereka bertemu Allah. Bukan bersandar kepada para penguasa dan aparat di negeri mayoritas muslim, karena rongga otak dan perut mereka sudah tersumbat oleh obsesi dunia dan politik yang berselera rendah.

Kewajiban mujahidin adalah menjadikan umat Islam dalam barisannya, tak boleh meninggalkan mereka sekejappun karena akan dimanfaatkan para penguasa dan hukum kufur. “ (selesai, kutipan dari Hakadza Nara Al-Jihad).

Semoga kita bisa menghidupkan jihad di Indonesia dan memastikan Islam merdeka di sini. Amin.

Nantikan serial berikutnya dalam Wacana Jihad

Salam hangat untuk semua peminat jihad dan dakwah

24 Tanggapan

  1. terima kasih..🙂 semoga Alloh memberikan kebaikan yang banyak..

  2. mantabbbbbe

  3. Allahu Akbar

  4. menarik sekali…sebuah tulisan yg sangat bagus. Tapi bagaimana dgn pembelaan thdp mujahidin yg sdh tertangkap ato terbunuh oleh thoghut ? Ato upaya pembebasan para twanan mujahidin, apalgi ada muslimah yg juga tertawan ( sprt ukhti Putri Munawaroh)? Tidakkah ini menjadi dari bagian yg perlu disampekan oleh para da’i kpd ummat ?
    Mereka butuh dukungan ummat, tapi sejauh ini kami melihat simpati ummat sdh jauh berkurang. Utk berinfaq kpd klrg mujahidin aja mrk takut, tak mau menolong. Jadi kpd para da’i tolong bersuaralah yg lantang membela mujahidin….dan lihatlah…sebentar lagi akan lahir sebuah kekuatan pemukul bagi para pedhalim durjana itu.
    Dakwah yg memberi petunjuk dan pedang yg menolong..!! Ana sangat Setuju !

    • masalahnya terletak pada umat isalm sekarang yang mreka gak sadar bhwa ni adalh msalh brsama
      umat islam yang krg paham ttg islam tu sdri
      jadii………..
      pahamkan mereka ttg perjuangan
      insya allah scra otomatis dkungan kn mngalir dari hati nurani mreka yang paling dalam

  5. allahu akbar… allahu akbar…allahu akbar…!!!!

  6. Oh begitu yah maksudnya, kalo gitu sekarang saya dukung dah semua lapisan jihad yg ada. saya kira teroris tuh penjahat ternyata pejuang Islam. berarti kalo orang Islam ktp kaya saya gak bisa jihad senjata yah. harus solat 5 waktu dulu yah. tp saya bingung sering islam itu saling menghujat “lu bidah ahli neraka” sedangkan gw tau agama dari yg sering ngerayain maulidan…

  7. Saya tuh gak paham Islam yg bener golongan yg mana???????

  8. mudah-mudahan masa depan jihad akan semakin cerah.

  9. nasihat dari Abdullah Sunata : http://7ihadmedia.wordpress.com/2010/05/03/nasihat-terbaru-dari-dpo-abdullah-sunata-kepada-ikhwan-mujahidin/

    Risalah beliau yg sebentar lagi terbit akan menanggapi segala tulisan mengenai Refleksi Jihad Aceh ini …. insha Allah sebentar lagi

    • Semoga tanggapan antum positif terhadap refleksi jihad aceh ini. Karena yang namanya tanggapan tak mesti negatif, kan?
      Jika kita jujur dengan diri sendiri dan bijak dalam menimbang, pasti antum juga akan dengan gentle memuat kritik antum untuk jihad Aceh. Bukan hanya pujian dan dukungan hanya karena mereka adalah teman karib antum. Sebagaimana kami juga bukan hanya mengkritisi, tapi juga memberi pujian dan dukungan, juga do’a semoga ibadah jihad mereka diterima oleh Allah swt.
      Jihad Aceh 2010 mari kita pandang sebagai realitas sejarah. Sebagaimana perang Uhud pada zaman Rasulullah saw juga realitas sejarah. Kita boleh menulis refleksi tentang perang Uhud, yang didalamnya memuat pelajaran apa saja yang dapat dipetik dari kecerobohan sebagian mujahidin Uhud sehingga menyebabkan seluruh pasukan hampir saja kalah oleh musuh. Padahal di dalamnya terdapat Rasulullah saw dan para Sahabat mulia. Tidak ada orang yang waras akalnya menyikapi refleksi jihad Uhud sebagai pelecehan terhadap pribadi Sahabat ra, tapi sebagai pelajaran bagi generasi sesudahnya. Artinya, kesalahan itu jangan diulangi !
      Refleksi kita terhadap perang Uhud bukan bermakna menghakimi semua mujahid yang terlibat di dalamnya sebagai orang-orang yang salah. Tujuan refleksi adalah mengambil butir-butir pelajaran dari kekeliruan pelaku sejarah agar tak diulangi oleh generasi sesudahnya. Ini sesuatu yang baik untuk kematangan umat Islam sendiri.
      Seorang ayah yang profesinya sopir truk antar kota, akan menasehati anaknya begini: nak, jangan engkau tiru profesi ayahmu. Ini profesi tidak bagus, karena banyak godaannya sepanjang perjalanan. Biar ayahmu saja yang mengalami “kekeliruan” seperti ini. (Lihatlah, seorang ayah merefleksi dirinya sendiri, agar menjadi pelajaran buat anaknya ! )
      Maka, mestinya refleksi itu muncul dari para pelaku sendiri. Mereka membeberkannya kepada generasi sesudahnya, dengan mengatakan begini: wahai generasi penerus jihad, inilah “kekeliruan” kami dalam melakukan jihad Aceh (dengan merinci poin-poin “kesalahan” setelah dievaluasi secara internal). Jangan kalian ulangi kesalahan kami. Kami sayang kepada kalian !
      Kesan saya, refleksi kami terhadap jihad Aceh 2010 antum pandang sebagai serangan dan penggembosan yang harus dilawan sedemikian rupa. Di mata antum, seluruh kalimat yang ada dalam artikel refleksi ini salah. Tidak ada benarnya sedikitpun. Hanya karena refleksi ini datang bukan dari seorang mujahid! (Sejak kapan jihad melahirkan arogansi seperti ini ?)
      Makanya saya berharap, tanggapan yang akan antum terbitkan itu juga disertai ulasan kalimat mana dalam refleksi kami yang menurut antum benar, agar kami tahu bahwa antum adalah orang yang bijak dan adil. Bukan orang yang antipati secara membabi-buta.
      Kami tidak berniat menggembosi, tapi mengajak berpikir dengan bijak dan hati-hati. Jihad bagi kami bukan semata soal semangat, tapi juga rumusan taktik dan strategi dengan dibarengi kesabaran dan ketekunan. Karena kami lebih mengutamakan pertimbangan menang daripada obsesi mati syahid.
      Bagi kami, nyawa mujahid itu mahal. Apalagi mujahid yang punya keahlian hebat. Harus dipelihara dengan serius karena mereka adalah aset umat. Karena kami tahu, mengkader mujahid yang hebat itu sangat sulit. Kita akan sangat sedih mendengar mujahid mati syahid atau tertangkap. Sedih karena kekuatan umat berkurang dengan syahidnya seorang mujahid atau tertangkapnya mereka.
      Saya melihat satu gejala yang kurang baik di tengah aktifis jihad yang semangatnya membara. Umumnya mereka “bersyukur” jika ada mujahid mati syahid. Merasa bangga. Terbersit rasa bahagia. Aduh, kekalahan kok disyukuri! Gimana sih mas… mas… !
      Coba bandingkan dengan jujur. Kira-kira apa perasaan para Sahabat tatkala mengetahui Umar bin Khattab ra gugur syahid karena ditikam musuh? Pasti mereka sedih luar biasa. Karena sosok Umar bin Khattab ra adalah aset umat yang sangat mahal. Kepergiannya membuat kesatuan umat goyah. Kepemimpinan Umar tak mampu digantikan oleh sosok Usman, meski keduanya sama-sama dijamin masuk surga.
      Romantisme mati syahid memang indah. Tapi jangan sampai hal ini membuat kita ghuluw terhadap mati syahid, sehingga membuat kematian seorang mujahid “dirayakan” bukannya “diratapi”.

      Hadanallahu wa iyyakum ila al-haqq.
      Salam hangat dari elhakimi…
      Nahnu nuhibbukum fillah …

      • ana sama sekali tidak pernah membaca tulisan mengenai refleksi jihad aceh yang antum tulis, ana hanya mendengar terdapatnya tulisan itu dan hingar bingar komentarnya…… sampai sekarang ana juga tidak membaca… ana hanya menyampaikan saya risalah dari Abu Ikrimah tersebut…

        Ana teringat pesan Abu Ikrimah: “Yang memberikan kemenangan itu bukan kalian, tapi Allah, darimana kita tahu kemenangan itu datang kalau tidak kita coba berjuang?”

        Namun memang berbeda, pendapat mengenai jihad antara orang yang pernah melakukannya dan yang tidak pernah melakukannya…

        • Kalimat antum:
          ana sama sekali tidak pernah membaca tulisan mengenai refleksi jihad aceh yang antum tulis, ana hanya mendengar terdapatnya tulisan itu dan hingar bingar komentarnya…… sampai sekarang ana juga tidak membaca…

          Kata saya:
          Orang seperti ini yang susah diajak berpikir. Baca saja belum sudah ikut komentar. Nyata sekali adanya antipati yang membabi buta. Udah gitu bangga lagi kalo belum baca ! Jangan-jangan, komentar saya di atas juga belum dibaca. Aduh, pening aku !
          Persis seperti Salafi Murjiah yang mengharamkan sama sekali baca tulisan Sayyid Qutb. Gaya nihilis seperti ini yang akan merusak jihad. Susah dinasehati. Lha gimana tidak, dituliskan nasehat tapi mengharamkan diri untuk membacanya, hanya karena bukan dari mujahid (pernah jihad).
          Orang ini seperi wali. Bisa memberi tanggapan tapi tidak pernah membaca tulisan yang ditanggapi. Kok ada ya orang seperti ini. Di jaman semodern ini. Jaman canggih.
          Jangan-jangan kalo dapat sms dari temannya gak pake dibaca langsung dibalas! Anda benar-benar wali !

          Kalimat antum:
          Namun memang berbeda, pendapat mengenai jihad antara orang yang pernah melakukannya dan yang tidak pernah melakukannya…

          Kata saya:
          Emangnya komentar saya di atas antum sudah baca? Kok tahu berbeda dari mana? Kan gak mau baca tulisan saya !

          Kalimat antum ini mengandung kibr (nada sombong). Rasulullah saw bersabda: al-kibr bathrul haqq wa ghamtun nas (Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain). Antum membanggakan diri dengan jihad. Jihad itu amal yang mestinya tak usah diumbar ke mana-mana: Hai semua orang, saksikan saya sudah berjihad !
          Antum meremehkan orang hanya karena belum berjihad. Kelanjutannya, antum menolak duluan padahal mungkin ada kebenaran di situ.
          Kita ini manusia. Emangnya antum sudah demikian yakin bahwa jihad antum mendapat garansi diterima Allah?
          Mari tawadhu’ ya akhi.
          Sombong hanya akan bikin antum susah tidur dan tidak bahagia. Percayalah sama saya !

          • Kenapa jawaban-jawaban dari antum sewot-sewot seperti itu? sepertinya ana tidak pernah mengkritisi blog atau tulisan-tulisan disini, ana malah dibilang sombong juga… bagaimana sih? Ana kan bilang… ana tidak baca tulisan refleksi jihad, jadi ana tidak sedang dalam posisi menanggapi.. yang menanggapi adalah yang membaca tulisan antum dalam hal ini insha Allah Abu Ikrimah, soal bagaimana tanggapannya nanti ana juga tidak tahu… ana cuman mempostingkan tulisan beliau…

            • Afwan akhi, ana salah tangkap maksud antum. Kirain antum yang akan nanggapi.
              Bagi saya, kalimat antum di atas itu serius. Semacam gertakan bahwa seluruh isi artikel saya soal jihad aceh akan dikupas habis.
              Coba antum renungkan kalimat antum di atas:
              Risalah beliau yg sebentar lagi terbit akan menanggapi segala tulisan mengenai Refleksi Jihad Aceh ini …. insha Allah sebentar lagi
              Ya udah, ana minta maaf jika ada kalimat saya kepada antum yang kurang berkenan.
              Peace !

          • elhakimi coba baca dan donlot di sini

            http://www.mp3jihad.blogspot.com

  10. ikhwan sekalian….tak usahlah kita memprpanjang perdebatan…
    Jihad tetap harus jalan dengan sistem yg lebih rapi,efektif,efisien,dan ber-efek melemahkan musuh,menakutkan musuh dst dst…Jihad bukan amal sehari dua hari,tapi berkesinambungan sampe agama hany bagi Alloh semata. Pembelaan thd kaum muslimin yg tertindas memang wajib, tapi harus dengan cara yg baik pula.Ingat ya ikhwan…nyawa seorang mujahid itu mahal, maka rapikanlah pola gerak antum wahai para mujahidin…do’a kami selalu menyertaimu.
    Ingatlah sejarah jihad Afghanistan, jihad hny dimulai oleh 11 org dgn modal 1 pucuk pistol tapi karena polanya rapi dan sinergi dgn dakwah, maka dlm bbrp tahun jihad sdh didukung oleh seluruh rakyat Afghan. Hari ini kita menghadapi musuh yg sama, tinggal memahamkan ummat hakikat pertempuran ini.
    Dan bagi para mujahidin, tetaplah di atas jalan jihad dan jaga diri antum agar tdk mudah ditangkap/dibunuh thoghut, karena ummat sangat membutuhkan antum…..
    Mari bersama kita berjalan beriringan saling menguatkan.

  11. halah gw cape2 keluar dari brimob biar bisa jihad, tapi klo ada masukan kritikan dan saran yang bagus kenapa nggak.. emang sih kadang merasa jadi rada2 susah nerimanya tapi jujur gw kaga nerima semua isi dari refleksi jihad di aceh ini.. tapi memang ada point penting nya yg kudu bisa gw pake buat gw terapin di suatu saat nanti..
    buat ikhwan yang laen atau si pemilik blog pada baca buku
    mereka mujahid tapi salah langkah (syaikh abu muhammad al maqdisi penerjemah abu sulaiman) insyaalloh ada kemiripan dengan kejadian yang ada di negeri ini..

  12. Bismillah..

    Sekedar informasi aja..

    Tulisan berseri ini sudah ada versi inggrisnya..

    Lihat di sini:

    http://www.arrahmah.com/index.php/english/read/8096/a-reflection-on-aceh-jihad-2010

  13. http://onwarandwords.wordpress.com/2010/04/21/lesson-learning-in-the-indonesia-jihad/

    http://onwarandwords.wordpress.com/2010/06/14/jihad-is-not-the-medicine-for-every-disease/

    Ada kutipan menarik dari tulisan terakhir di atas:🙂

    The author of this series of essays (does anybody know who he is??) clearly has a good head on his shoulders. In my view, he’s precisely the sort of intellectual who is actually dangerous. Guys like him scare me. I hope that the Indonesian authorities find him soon and either kill him or re-educate him.

    Subhanallah.. dengan tulisan saja bikin mereka ketakutan..😀

    • Subhanallah, kafir ngeri juga baca refleksi ini.. Mujahidin Zindabad.. Pemilik blog onwarandword.wordpress.com seorang a veteran of a number of agencies and departments of the Federal Government and I also spent six years at a major non-profit defense think-tank.

  14. Assalamu`alaikum…. rohimana wa rikhimakumulloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s