Tujuan Negara Islam: Hifdhu d-din (2)


Untuk memberi gambaran lebih rinci, aktifitas memelihara agama (hifdhu d-din) yang menjadi tugas negara Islam meliputi pekerjaan-pekerjaan berikut:

  1. Menyebarkan dan mendakwahkan Islam dengan pena, lidah dan pedang.

Dakwah merupakan pekerjaan pertama yang dilakukan para nabi sebelum pekerjaan yang lain. Hal ini disebabkan dakwah mengambil sasaran perbaikan tashawwur (pemahaman) terhadap syariat Allah dari berbagai noda jahiliyah. Utamanya pemurnian tauhid dari buih syirik. Lalu memberi bimbingan bagi masyarakat dalam melaksanakan agamanya secara praktek (amal). Dengan demikian, dakwah mencakup perbaikan ilmu dan amal.

Dakwah merupakan sarana, bukan tujuan. Sarana untuk menyiarkan dan menyebarkan Islam ke seluruh muka bumi. Dahulu dakwah lebih banyak dilakukan dengan lisan. Tapi kini dakwah berkembang dengan menggunakan berbagai media. Ada yang menggunakan lisan, pena, media elektronik dan lain-lain.

Hukum melakukan dakwah adalah fardhu kifayah. Yaitu suatu kewajiban yang menjadi beban semua umat Islam yang tergolong mukallaf (terkena beban hukum), tapi jika sudah ada salah satu pihak yang melaksanakannya sesuai tuntunan syari’at dan tuntutan realitas, maka kewajiban itu gugur bagi yang lain. Kepentingan dari suatu perintah yang disebut fardhu kifayah adalah wujud pelaksanaannya, bukan siapa yang melaksanakan. Siapanya tidak penting, yang penting terlaksana dengan standar syariat dan tuntutan realitas.

Allah berfirman:

ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون

Artinya: Dan hendaklah ada satu golongan dari kamu yang melakukan dakwah kepada kebaikan (kebenaran), memerintahkan kepada yang makruf dan melarang dari yang munkar. Dan mereka itulah orang yang beruntung. (QS. 3/Ali Imran: 104)

Selain dakwah dengan lisan dan pena, ada aktifitas lain yang bertujuan menyebarkan Islam yaitu dakwah dengan pedang. Kata pedang biasa digunakan untuk kiasan makna kekuatan fisik dan senjata. Kedengarannya aneh, tapi Islam tidak tabu disebarkan dengan pedang, hanya ungkapan kalimatnya yang harus akurat yaitu Islam disebarkan dengan pedang setelah diawali dengan pendekatan lisan atau pena.

Ketika penjelasan secara lisan tentang Islam tidak membuahkan hasil, maka seorang muslim tidak menjadi bebas dari tugas menyebarkan Islam, apalagi ia seorang amirul mukminin. Tapi ia harus beralih menggunakan alat dakwah lain yaitu pedang. Gambarannya sama dengan seorang montir. Jika ia tidak berhasil melepas baut dengan hentakan tangan, ia menggunakan palu untuk memaksanya berputar. Jika tak mempan juga, maka digunakan gergaji atau las untuk mencopotnya secara paksa.

Adalah naif jika Islam disebut sebagai agama sempurna tapi tak punya cara untuk menyelesaikan masalah orang yang menolak dakwah secara lisan. Oleh sebab itu, ketika mengepung dan mengancam musuh, Rasulullah saw memberi tiga pilihan; masuk Islam, membayar jizyah (pajak) ketundukan, atau diperangi. Jika musuh memilih masuk Islam, maka urusan langsung selesai dan mereka menjadi satu umat yang sama. Jika memilih pajak ketundukan, maka Islam memberi jaminan keamanan sebagai imbalan pajak yang mereka bayarkan, disamping ijin untuk tetap melaksanakan agamanya. Jika menolak dua pilihan tersebut, Rasulullah saw memerangi mereka dengan pedang sampai bertekuk-lutut dan putus asa.

Tiga pilihan yang diajukan Rasulullah saw tersebut dapat kita simpulkan bahwa ancaman peperangan menjadi salah satu rangkaian diplomasi dakwah. Atau dengan ungkapan lain, ancaman perang yang diletakkan pada pilihan ketiga itu memaksa musuh untuk mengambil pilihan pertama atau pilihan kedua. Pedang digunakan untuk “menodong” orang agar mau memeluk Islam atau membayar pajak ketundukan tapi tetap boleh melaksanakan agamanya.

Ungkapan bahwa Islam memaksa orang untuk memeluk Islam, tidak betul. Sebab masih ada pilihan lain, membayar pajak ketundukan dengan tetap menggunakan identitas agamanya.

Dakwah bukan hanya mengajarkan dan memahamkan suatu materi keislaman dengan senyum yang terus mengembang. Tapi juga mengancam dengan kekerasan jika tawaran masuk Islam (dakwah baik-baik) menemui jalan buntu. Ini bukan ajaran yang aneh. Sesuatu yang wajar, selaras dengan sunnatullah atau hukum alam Allah.

As-Subki  berkata: Diantara tugas sulthon (imam/penguasa/negara Islam) membentuk pasukan bersenjata dan menegakkan kewajiban jihad untuk mengangkat panji Allah. Sebab Allah tidak memberinya kekuasaan atas umat Islam untuk menjadi bos yang hanya makan, minum dan istirihat, tapi untuk membela agama ini dan meninggikannya. Diantara tanggung-jawabnya, tidak boleh membiarkan orang-orang kafir dengan leluasa mengumbar kekafirannya dan tidak mau beriman kepada Allah dan rasul-Nya[1].

Daulah Islamiyah dengan dipimpin seorang imam berkewajiban menyiapkan berbagai cara dalam ragka menyebarkan agama Allah. Bagi yang belum tahu, diberitahu. Bagi yang masih keliru memahami Islam, diluruskan. Bagi yang menentang dakwah, diberi ancaman perang atau dipaksa tunduk kepada kekuasaan Islam agar tangannya tidak usil mengganggu.

Dengan tersedianya berbagai alat dan cara untuk menyebarkan agama ini, setiap orang punya kesempatan melihat dan mempertimbangkan Islam dengan jernih, lalu memilihnya dengan sepenuh kesadaran. Sebab jika niatnya masuk Islam hanya untuk mencari keselamatan, itu bukan pilihan tunggal. Ia masih bisa mendapatkan keselematan dan keamanan asal mau membayar pajak ketundukan.

Dengan demikian Islam tetap memiliki harga diri di hadapan para penentangnya, dengan adanya kemampuan mengancam untuk memerangi. Tapi ketegasan ini tidak sampai jatuh pada pemaksaan untuk masuk Islam, karena masih memberi toleransi bagi yang masih tetap ingin mempertahankan keyakinannya, dengan memberinya jaminan keamanan asalkan bersedia membayar bukti ketundukan. Dalam bingkai seperti ini ayat la ikroha fiddin… (QS. 2/Al-Baqarah: 256) dan wa qotiluhum hatta la takuna fitnah… (QS. 2/Al-Baqarah:193 & 8/Al-anfal:39) serta hadits umirtu an uqotilannasa hatta yashadu an la ilaha illallah…. dapat kita pahami.

  1. Membasmi syubhat (pemikiran rusak), bid’ah dan segala bentuk kebatilan

Negara Islam harus mengambil fungsi membasmi syubuhat pemikiran, bid’ah dan segala wacana dan praktek kebatilan lain. Sebab seorang amirul mukminin memiliki kewenangan luas untuk melakukan nahi munkar di tengah masyarakat. Amirul mukminin paling bertanggung-jawab terhadap masalah ini karena ia didukung setidaknya oleh dua barisan; ulama dan prajurit. Tidak ada orang lain yang memiliki kekuatan sebesar itu.

Syubuhat pemikiran menjadi tugas ulama untuk mengoreksinya hingga tuntas agar masyarakat tidak terkotori pikirannya dengan paham-paham sesat. Hal ini disebabkan kemunkaran yang bersumber dari akal pikiran hanya bisa dibongkar oleh ulama. Demikian juga dengan bid’ah dan takhayul. Yang dibutuhkan dari penguasa (negara Islam) adalah dukungan kekuaatannya, agar ulama bisa melaksanakan perannya tersebut dengan maksimal.

Adapun kebatilan dan kemunkaran yang nyata dan dikenali oleh masyarakat awam, negara Islam bertugas mengarahkan dan mendorong mereka untuk membasminya, dengan cara menegakkan supremasi hukum.

Jika penyakit masyarakat tidak bisa tuntas oleh keberadaan amirul mukminin, negara Islam dipandang gagal menjalankan fungsinya. Lalu bagaimana dengan kekuatan yang tidak terstruktur dalam lembaga negara, tentu lebih tidak mungkin menuntaskan masalah.

Abu Ya’la berkata: Amirul mukminin bertanggung-jawab memelihara Islam agar tetap dalam landasan yang disepakati para pendahulu (salaf sholih). Jika ada pemikiran rusak mencoba membelokkan, ia membantahnya dengan argumen yang kokoh dan menjelaskan dengan versi yang benar. Dilanjutkan dengan memberi sanksi sesuai aturan yang berlaku, agar Islam terpelihara dari rongrongan pemikiran menyimpang dan umat Islam tejaga dari kesesatan[2].

Cara yang bisa ditempuh amirul mukminin dalam melaksanakan misi ini, diantaranya dengan pengajaran melalui lembaga pendidikan, mengadakan perdebatan terbuka agar kebenaran menjadi nyata, memberi sanksi berupa pengusiran atau pemboikotan, dan – bahkan – menggunakan pilihan pembunuhan atau peperangan sebagaimana Ali bin Abi Thalib ra memerangi kaum Khawarij. Tentu seorang amirul mukminin lebih mengerti aturan main penggunaan cara-cara ini, sesuai dengan kasus dan kebutuhan lapangan.

  1. Menjaga keutuhan umat dan mengawal perbatasan dari serangan musuh.

Kepala negara (Islam) bertanggung jawab mewujudkan rasa aman bagi masyarakat agar bisa bebas melaksanakan semua aktifitas ibadah dan memakmurkan dunia. Rasa aman bisa diraih jika gangguan internal dan eksternal negara bisa diatasi. Oleh sebab itu, negara harus memiliki kekuatan yang tangguh. Dan merupakan pengaturan Ilahi yang Maha Sempurna, Islam memberi solusi terhadap kebutuhan ini dengan syari’at yang bernama ribath dan jihad fi sabilillah. Suatu kombinasi sempurna; mendapatkan imbalan secara akhirat berupa syurga, sekaligus menjadi alat yang logis untuk menjaga negara Islam dari rongrongan musuh.

Ribath artinya menjaga perbatasan secara geografis agar bisa menghalau musuh dan mencium gelagat gangguan eksternal lebih dini. Ribath bersifat pasif, seperti pekerjaan satpam yang hanya menjaga. Meski demikian, Rasulullah saw memberi motivasi dan penghargaan yang tinggi terhadap aktifitas ini, dalam sabdanya:

رباط يوم فى سبيل الله خير من الدنيا وما عليها

Artinya: Ribath fi sabilillah satu hari adalah lebih baik dari dunia seisinya[3].

Jihad fi sabilillah artinya berperang melawan musuh Allah dan musuh umat Islam. Jihad bisa bermakna ofensif bisa pula defensif, tergantung kebutuhan. Rasulullah saw pernah melakukannya, baik bermakna defensif maupun ofensif.

Jika kepala negara (Islam) dengan kekuasaan di tangannya tidak melaksanakan ribath dan jihad, ia gagal menjalankan fungsinya. Dalam waktu yang tidak lama musuh-musuh Islam akan berebut “menyantap hidangan” umat Islam karena tidak ada penjaganya, seperti yang kita alami saat ini. Tapi karena kita tidak memiliki kepala negara (Islam) yang syar’i yang berfungsi melaksanakan peran ini, maka beban kesalahan ditanggung oleh semua umat Islam.


[1] As-Subki, mu’idun ni’am wa mubidu niqom hal. 16

[2] Abu Ya’la, al-ahkam as-sulthaniyah, hal. 27

[3] HR Bukhori (fathul bari 6/85), Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s