Tujuan Negara Islam (1)


Diskursus negara Islam tak boleh dijadikan barang tabu bagi seorang muslim. Adalah aneh jika ia dengan bangga menjual istilah ekonomi Islam, hukum Islam, pendidikan Islam, sekolah Islam, rumah sakit Islam, masyarakat Islam, tapi saat sampai pada istilah negara, ia malu – atau lebih tepat takut dan minder – untuk menyematkan label Islam. Ia lalu gagap untuk menyebut negara Islam.

Padahal sirah nabawiyah memberi bukti tak terbantahkan, bahwa Nabi saw mendirikan negara Islam. Saat itu Demokrasi belum lahir, komunis belum muncul, jahiliyah telah mati. Tak ada pilihan istilah lain untuk menyebut negara yang dibangun Nabi kecuali negara Islam.

Hal ini untuk membantah pandangan mayoritas umat Islam yang tak berani menerjemahkan istilah darul Islam dengan negara Islam. Biasanya diperhalus dengan ungkapan: negeri yang tegak nilai-nilai Islam di dalamnya.

Jika keengganan menyebut istilah negara Islam karena tak tahu, tugas kita memberi tahu melalui dakwah. Jika karena malu, harus dibimbing untuk bangga dengan Islam. Jika karena takut, harus dimotivasi bahwa setiap muslim pasti menghadapi ketakutan-ketakutan, tapi ketakutan itu tak boleh membuat kita mati kutu. Harus selalu bergerak untuk menghilangkan rasa takut ini.

Negara Islam bukan tujuan, tapi sarana.

Negara Islam dipandang sebagai sarana bukan tujuan. Sarana untuk mencapai maslahat-maslahat yang tidak mungkin diraih seorang muslim secara individu. Hal ini disebabkan pengabdian kepada Allah ada yang bisa terlaksana secara individu, ada yang harus dilaksanakan bersama bahkan harus dalam sistem berupa negara.

Tujuan itu bisa dirangkum dengan ungkapan: Tegaknya perintah Allah di muka bumi sesuai dengan standar yang ditetapkan Allah melalui syariat-Nya. Tujuan ini disimpulkan dari firman Allah berikut:

الذين إن مكناهم فى الأرض أقاموا الصلاة وأتوا الزكاة وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر ولله عاقبة الأمور

Artinya: Yaitu orang-orang yang jika Kami kuasakan mereka di muka bumi mereka  menegakkan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang makruf dan melarang dari yang munkar. Dan milik Allah kesudahan semua perkara. (QS Al-Hajj: 41)

Ibnu Taimiyah berkata: Semua kepemimpinan dalam Islam tujuannya adalah menegakkan yang makruf dan melarang yang munkar[1].

Secara lengkap, tujuan negara Islam adalah:

Pertama: Menegakkan Syari’at  ( إقامة الدين )

Maksudnya, menegakkan agama yang benar yaitu Islam. Tercapainya tujuan ini merupakan target paling utama negara Islam. Indikatornya, Islam tegak dan terlaksana sesuai dengan standar pelaksanaan yang dikehendaki Allah dengan ciri adanya kemurnian ketaatan, berseminya sunnah dan punahnya bid’ah.

Semua misi kenabian mengusung beban tugas ini, terutama nabi-nabi yang mendapat gelar ulul azmi. Al-Qur’an memberi gambaran tugas ini dengan sebutan iqomatuddin.

شرع لكم من الدين ما وصي به نوحا والذى أوحينا إليك وما وصينا به إبراهيم وموسى وعيسى أن أقيمو الدين ولا تتفرقو فيه …

Artinya: Allah menetapkan suatu syariat bagi kamu dari agama ini sebagaimana Allah mewasiatkannya kepada Nuh dan Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan sebagaimana Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu (sebuah perintah) tegakkanlah agama dan janganlah kamu semua berselisih di dalamnya… QS. 42/As-Syura: 13

Ada dua pekerjaan dalam iqomatuddin, yaitu:

  1. Menjaga dan memelihara agama

Allah SWT telah berkenan menjaga syariat Islam dari perusakan oleh tangan-tangan kotor manusia, sebab syariat ini ditetapkan sebagai syariat yang berlaku sampai akhir zaman. Kita meyakini jaminan penjagaan ini meski ungkapan verbalnya hanya menjaga Al-Qur’an seperti yang Dia firmankan:

إن نحن نزلناالذكر وإنا له لحافظون

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan peringatan (Al-Qur’an) dan Kami benar-benar akan menjaganya… QS Al-Hijr: 9

Sebab dengan jaminan penjagaan terhadap Al-Qur’an, berarti akan selalu ada standar nilai bagi manusia yang kokoh. Secara tidak langsung, jaminan terhadap semua pernik syariat yang mengacu kepada Al-Qur’an.

Sebagai wahyu terakhir dengan tanpa “tanggal kedaluarsa” mengharuskan Islam memiliki kitab pedoman yang orisinalitasnya terjaga, dan faktanya Allah telah melakukannya baik kaitannya dengan wahyu Al-Qur’an maupun wahyu As-Sunnah.

Bukti dari jaminan Allah terhadap Sunnah dapat kita temukan dalam rangkaian sejarah umat Islam yang panjang. Allah mentaqdirkan lahirnya para ulama hadits yang bekerja keras meneliti keabsahan suatu periwayatan tatkala muncul upaya pemalsuan hadits. Hasilnya, kita bisa nyaman mendapatkan kepastian sahihnya suatu hadits hanya dengan membuka kitab Shohih Bukhori, Shohih Muslim dan kitab-kitab hadits lain.

Bahkan cara memahami keduanya juga tak luput dari penjagaan Allah. Ketika muncul serangan persepsi dan pemikiran yang menyimpang terhadap syariat, Allah mentaqdirkan lahirnya ulama-ulama yang menjelaskan bagaimana konsep yang lurus dalam memahami Islam. Maka kita mengenal Imam Syafi’i yang merumuskan ilmu ushul fiqh, sebuah teori tentang bagaimana memahami suatu dalil dan mengaplikasikannya dalam kasus-kasus yang berkembang. Kita juga mengenal Imam Ahmad bin Hanbal, yang dengan gigih mempertahankan ungkapan Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluq-Nya. Ada ulama yang membongkar kedok filsafat. Ada yang mengkritisi tasauf. Ada yang membantah jalan pikiran Murji’ah. Dan sebagainya.

Artinya, alat untuk memelihara agama ini telah tersedia. Hanya masalahnya, alat-alat itu teronggok sebagai warisan ilmiah dan dokumen sejarah di perpustakaan. Kita akan gagap memelihara agama ini jika tak membongkar warisan para pendahulu kita. Sebab pada dasarnya perkembangan zaman hanya melahirkan kemasan baru bagi suatu masalah di masa lalu dengan isi yang sama. Yang berbeda hanya tampilan luarnya, atau istilah yang disematkan kepadanya. Seperti kasus Islam Liberal sejatinya adalah paham Mu’tazilah yang diberi merek dengan cita rasa Inggris, sebab istilah Inggris bisa “menyihir” dan punya daya jual yang baik.

Dengan demikian, makna memelihara agama dalam konteks kekinian kita lebih kepada pemeliharaan aqidah dan pemahaman umat agar tetap lurus seperti para Sahabat dahulu memahami Islam. Hal ini disebabkan tidak semua orang punya kesempatan membaca apalagi memahami – misalnya – konsep Imam Syafi’i tentang ushul fiqh. Berarti, peluang umat untuk memahami Islam dengan cara yang menyimpang sangat terbuka lebar. Ini berbeda dengan kemungkinan adanya pemalsuan tulisan Al-Qur’an. Kemungkinan itu tetap masih ada, namun kadar keberhasilannya relatif kecil insya’allah.

Pekerjaan yang lain adalah upaya mewujudkan konsep Islam yang sempurna ini dalam realitas yang juga sempurna. Islam bukan agama teori dan wacana tanpa akar realitas yang menghunjam bumi, tapi agama teori sekaligus realitas. Padahal Rasulullah saw mewariskan Islam kepada kita dalam keadaan sempurna secara konsep dan sempurna secara realitas.


[1] Majmu’ Fatawa 28/262

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s