Jihad di Benakku


jihad cita-citaku

aku mau jadi mujahid

Peran mujahidin dan umat Islam di tengah kancah amal islami masa kini

 

Umat Islam baik yang ada di belahan Barat maupun belahan Timur sedang merasakan hembusan angin perubahan dengan membawa semangat revolusi dan pembebasan. Seluruh lapisan umat merasakannya, dengan segenap kelompok dan misi yang diembannya. Angin perubahan dan pembebasan yang paling dirindukan umat adalah arus jihad yang membawa aroma kembalinya Islam, bahkan umat meyakini bahwa jihad memberi jaminan kemenangan Islam secara lebih pasti, dalam waktu amat dekat.
Sebab itu, arus jihad harus waspada dengan munculnya para makelar revolusi yang berbaju Islam. Mereka rajin mengkampanyekan pembelaan Islam, tapi saat tampuk kekuasaan sudah berada di tangannya, mereka mencampakkan Islam bersama segenap pemeluknya. Betapa banyak bukti akan sinyaleman ini, baik di Mesir, Sudan, Aljazair, Yaman, Yordania bahkan Afghanistan saat banyak tokoh-tokoh jihad yang menelikung saudaranya saat kekuasaan telah direngkuh. Mereka memodifikasi kekuasaan sedemikian rupa agar selaras dengan keinginan Barat yang sudah pasti tak akan rela terhadap umat Islam jika tidak menjadi pengikutnya yang setia. Hal ini terjadi sebelum menyeruaknya gerakan Taliban yang berhasil memelihara darah para syuhada yang telah ditumpahkan di jalan Allah.
Saudaraku di jalan Allah… Ini fakta. Semua kelompok yang berkiprah dalam amal Islami membawa misi perubahan. Khususnya perubahan yang kita rindukan di negeri dua masjid suci (Arab Saudi) yang saat ini masih dikendalikan oleh elit penguasa yang berasal dari satu keluarga. Mereka mengontrol seluruh negeri sesuka hati. Mereka merusak sumber daya alam dan sumber daya manusia. Mereka mengendalikan rakyat. Hingga mereka menjual seluruh kekayaan bumi kita kepada musuh-musuh Allah dari kalangan bani kera dan babi – Yahudi dan Nasrani. Sementara sedikit sisanya didistribusikan untuk rakyatnya; seluruh umat Islam. Mereka memberi sisa itu seolah dari kantong mereka sendiri, dari warisan menek moyang mereka.
Lebih tragis lagi, mereka memaksa rakyat untuk menghamba kepada kolega kafir mereka. Mereka menyebarkan peradaban Barat ke tengah umat melalui media massa, dengan tujuan agar akal pikiran kita terbentuk untuk menerima dengan lapang dada peradaban Barat. Mereka menyebut penjajahan dan kerusakan pemikiran ini sebagai peradaban maju, kebebasan dan demokrasi.
Tidak cukup sampai di sini, mereka menggulirkan proyek revisi kurikulum pendidikan anak-anak kita agar tak ada wawasan lain di benak mereka kecuali keunggulan sejarah Barat dan agar puas hanya menjadi pengikut Barat. Hasilnya, tak ada gagasan generasi kita kecuali bagaimana mengejar ketertinggalan dari Barat, tentu saja dengan jalan yang sama sebagaimana dilalui Barat. Demikian yang mereka kehendaki dari akal pikiran kita, ucapan dan obsesi kita.
Negeri dua masjid suci yang saya maksud adalah jazirah Arab secara keseluruhan, sebagaimana kita ketahui dalam sejarah. Wilayah luas yang batas utaranya kawasan pedesaan Syam dan Iraq, batas timurnya teluk Persia, batas selatannya samudera Pasifik, dan batas utaranya laut Kaspia. Dengan kata lain, wilayah itu hari ini meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Yaman, Oman, Bahrain, dan Qatar. Inilah wilayah Arab yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk didiami oleh orang musyrik, dalam sabda Nabi saw: Keluarkan kaum musyrik dari jazirah Arab.
Segala puji untuk Allah, saudara-saudara kita di Saudi, Suriah, Mesir, Libiya, Maroko dan Yaman sudah melakukan usaha keras untuk merubah keadaan. Ada yang melalui jalur jihad, ada yang lewat dakwah. Semua umat Islam terlibat. Usaha mereka melahirkan generasi baru yang tercatat indah dalam lembar sejarah umat, generasi yang mencintai al-haqq dan mengejar apa yang ada di sisi Allah, meski harus menerjang badai penyiksaan dan kekerasan dari para pemangku kekuasaan masing-masing. Hasilnya, banyak yang tegar melaluinya, ada yang futur dan ada pula bahkan yang bertekuk lutut menjadi pengikut setia musuh-musuhnya sendiri.
Satu hal pasti, ada kelompok yang tetap kokoh bagai batu karang – semoga Allah menjaga eksistensi mereka dan memeliharanya dari berbagai keburukan, serta mengampuni kesalahannya di masa lalu dan amal shalihnya tak sia-sia di sisi Allah.
Hasil akhir semua rangkaian eksperimen ini; kita cukup sukses dalam mencapai angka-angka keberhasilan secara militer (jihad), tapi pencapaian kita nol besar di bidang politik. Saya ingat, suatu hari seorang tokoh jihad Arab di Afghanistan berkata: “Kita asyik dengan pertarungan militer, sukses menempa jiwa ikhlas, dan berhasil menghidupkan kecintaan mati syahid. Tapi kita lalai memikirkan kekuasaan (politik), sebab kita tak sepenuh hati menggelutinya. Kita masih memandang bahwa politik adalah barang najis. Hasilnya, kita sukses mengubah arah angin kemenangan dengan pengorbanan yang mahal, hingga menjelang babak akhir saat kemenangan siap dipetik, musuh-musuh melepaskan tembakan “rahmat” kepada kita – demikian kosa kata yang biasa mereka gunakan – untuk menjinakkan kita.”
Saat itu banyak yang tak sependapat dengan refleksi ini, meski banyak pula yang sepakat. Tapi realita yang kemudian terjadi membuktikan kebenaran sinyaleman ini. Seluruh dunia mengusir eksistensi mujahidin Arab pasca perang melawan Rusia (saat itu Uni Soviet). Mujahidin yang pulang kampung ‘diamankan’ oleh negeri mereka masing-masing. Negeri yang paling memberi ‘rahmat’ adalah yang mendata para mujahidin untuk suatu saat ‘dipakai’ oleh mereka.
Kesimpulan
Kita dihadapkan pada masa depan yang harus kita rancang dengan apik dan kita raih dengan sempurna. Masa depan yang tidak semata tentang cita-cita egoistis kita untuk mati syahid dan sukses melewati ujian dunia. Tapi masa depan yang akan diwarisi generasi penerus kita. Oleh karenanya kita wajib mengorbankan segenap jiwa dan raga kita untuk memastikan kelak generasi kita menikmati kekuasaan Al-Qur’an, bukan kekuasaan konstitusi manusia.
Kehidupan memiliki dua sayap; pengelolaan secara internal (politik), dan pemeliharaan dari gangguan eksternal (militer). Kemenangan hanya lahir bila kita menggunakan kedua sayap itu sekaligus.
Rasanya sudah cukup eksperimen yang dilakukan para pendahulu. Kita hanya perlu melihat hasil eksperimen mereka, bukan membuat eksperimen baru. Oleh karenanya, kita tak sepatutnya menapaki kesalahan mereka, atau jatuh pada perangkap yang sama. Kita hanya mampu berharap, semoga Allah memudahkan jalan kita dan mengampuni kesalahan kita, serta mempertemukan kita dengan para pendahulu dalam naungan rahmat-Nya.
Tatkala saya katakan sayap siyasi (politik), bukan maknanya politik kotor yang dipamerkan para penyembah dunia dengan cara mengaduk al-haqq dengan al-bathil, menyamarkan kebenaran atau mengurangi harga kebenaran. Tidak, sekali lagi tidak. Tapi yang saya maksud, politik yang kita baca dari cara Nabi saw mengelola urusan umat baik dalam masalah sosial, dakwah dan jihad di medan tempur. Politik yang bermakna mekanisme baku dalam menegakkan peradaban manusia. Jika kita melalaikan mekanisme baku yang berlaku secara global ini, kita hanya akan berputar tanpa ujung disebabkan kita tak mencontoh Nabi saw dan tidak menapaki sunnatullahnya: hukum alam sebab akibat.
Bahwa kita mampu melakukan perubahan adalah sebuah kepastian. Kita punya modal manhaj (metodologi) dan punya obsesi. Dua modal yang tetap harus dibarengi dengan seperangkat unsur perubahan lain. Kita perlu peka politik, tajam mengendus masa depan, qiyadah (kepemimpinan) yang solid dan komplit: memahami rambu-rambu pertarungan, perencanaan matang, memiliki kekenyalan jiwa dalam menghadapi berbagai ujian dan memiliki mental sabar yang baik.
Pertarungan ini ibarat perjalanan panjang lintas generasi, bukan pertarungan satu generasi atau satu hari saja. Qiyadah perlu memiliki kemampuan merancang berbagai sarana demi tercapainya visi sesuai tahap-tahap pencapaian yang berakhir pada tegaknya kedaulatan Islam. Qiyadah yang baik harus mengerti bahwa pekerjaannya ini boleh jadi akan menghabiskan umurnya dan hasilnya bisa jadi baru bisa dinikmati oleh generasi penerusnya. Oleh karenanya ia tak boleh terburu-buru memetik buah kemenangan, karena akibatnya bisa fatal: ia tak berhasil memetiknya, dan hasil kerjanya juga tak bisa diwariskan kepada generasi sesudahnya.
Pertarungan politis ini mutlak membutuhkan kekuatan (militer), karena dalam keyakinan kami tak ada bahan baku yang pas untuk membangun kejayaan umat Islam kecuali darah. Tak bisa diganti yang lain. Menurut hemat kami, mercusuar politik di gedung parlemen – narkoba sosial – yang dengannya umat Islam mabuk, sama sekali bukan jalan kami. Perubahan sama sekali tak berhubungan dengannya. Inti dari politik ala parlemen adalah sikap larut, terwarnai dan perdamaian dengan kebatilan. Rabb kita tak merestui jalan seperti ini, tidak pula menerimanya sebagai amal shalih dan tidak mengiringinya. Tapi Rabb kita akan membiarkannya hingga selangkah demi selangkah para pelakunya akan masuk dalam lembah kebingungan dan kesesatan, bahkan mungkin tak akan pernah bisa mentas darinya.
Unsur penting lain yang harus dimiliki qiyadah adalah upaya lahirnya generasi yang peka dalam membedakan mana barang berharga dan mana sampah, seraya memiliki kesiapan berkorban dengan apa saja yang ia miliki dalam rangka membela agama ini. Kata generasi di sini bukan bermakna kaum muda saja, tapi yang saya maksud adalah rentang waktu yang diisi oleh satu generasi yang terdiri dari orang tua, anak-anak, remaja bahkan kakek-kakek. Generasi yang terdiri dari pria-wanita dan tua-muda. Bukankah orang pertama yang mendapatkan gelar syahid adalah seorang wanita – Sumayah radhiyallahu anha. Kita juga tidak boleh lupa, bahwa kaum wanita merupakan unsur terpenting dalam menyiapkan generasi, seperti halnya Khansa. Saya yakin, para wanita Palestina yang mencium putranya untuk melepas kepergiannya menuju kancah jihad demi meraih syahid di jalan Allah adalah ‘uang muka’ kemenangan, indikasi kesehatan generasi, dan contoh riil bagi generasi perubahan yang kita rindukan.
Ketika saya menyebut umat Islam, yang saya maksud adalah kaum muslimin secara keseluruhan dengan segenap ragam suku dan bahasanya dari Asia hingga Afrika, dari Mauritania di barat sampai Indonesia di timur. Mereka semua harus menjadi generasi pintar dan peka, sebagaimana yang saya uraikan di atas.
Oleh sebab itu, kita semua harus tahu, kita berjalan di belakang panji apa? Tidak hanya itu, kita harus tahu siapa yang memegang panji itu. Kita mesti mengenalinya dengan baik; bagaimana saat bersama orang ramai, kualitas agamanya, ibadahnya, ketaqwaannya, wara’nya, zuhudnya dan semua kepribadiannya. Inipun belum cukup. Kita juga harus tahu rambu-rambu sunnatullah pertarungan antara al-haqq melawan al-bathil, mengerti kapan menggunakan kekuatan, rambu perjanjian yang sesuai syariat, mekanisme memilih mitra dan memilah musuh.
Perlu kita potret lebih khusus soal mekanisme menimbang kekuatan musuh untuk dipilah dan soal mekanisme kemitraan. Persoalan ini demikian penting, kita tak boleh lalai darinya dalam menganalisa realitas agar kita bisa mengukur kekuatan musuh dan menentukan siapa menurut kaca mata militer yang akan dijadikan mitra dan siapa yang akan menjadi musuh. Juga siapa yang diabaikan karena termasuk golongan yang menunggu pemenang pertarungan. Dunia internasional memandang bahwa perubahan (kekuasaan) terkait dengan kekuatan (kemenangan). Keberhasilan hanya diukur dengan kekuatan dan kemenangan. Oleh sebab itu, umat Islam kadang merapat ke Timur, kadang merapat ke Barat mengikut siapa yang kuat dan menang. Tatkala sudah tercipta ketergantungan, umat terperangkap dalam salah satu blok secara total.
Saat ini, dunia internasional berkoalisi memerangi kita. Jika ada yang tidak ikut dalam koalisi ini, sejatinya bukan karena simpati kepada kita. Tapi lebih disebabkan keinginan untuk memperoleh bagian lebih besar dari ghanimah ini (kita semua adalah ghanimah bagi mereka). Meski realitanya demikian, mereka yang tidak masuk dalam koalisi internasional ini berpotensi untuk dijalin kemitraannya dengan kita. Tapi masalahnya, kita wajib mengutamakan mitra setia yang bersedia berkorban untuk kita, bukan mitra yang suatu saat akan mengkhianati kita. Dan singkat kata, mitra itu adalah umat Islam sendiri.
Aku tekankan poin ini dengan adanya bukti sejarah yang menguatkannya. Dengan bukti-bukti ini saya berharap putra-putra umat yang terlibat dalam kancah amal islami yakin bahwa umat mereka berdiri tegak di belakang mereka, membela mereka dan menebus pengorbanan mereka dengan apa saja yang mereka punya, tanpa pernah meninggalkan mereka berjibaku sendirian di medan pertarungan.
Afghanistan pasca hengkangnya Uni Soviet, saat dukungan pemerintah Arab dan Islam berhenti disebabkan intervensi Amerika, tatkala pemerintah-pemerintah itu tak lagi tertarik mendukung mujahidin untuk memetik buah kemenangannya. Siapakah yang mengulurkan bantuan sehingga muncul gerakan Taliban? Apakah pemerintah dan bala tentaranya itu yang membantu ataukah putra-putra umat ini? Bukankah individu-individu umat Islam yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk disumbangkan kepada mujahidin dengan suka rela?
Somalia, saat terjadi atraksi jihad menawan melawan koalisi internasional, siapakah yang mengulurkan bantuan kepada mujahidin sehingga tentara Amerika lari tunggang-langgang dari sana? Siapa yang melakukan atraksi jihad itu? Apakah pemerintah Somalia dengan bala tentaranya ataukah putra-putra umat Islam? Bukankah unsur umat Islam yang rela memangkas sebagian penghasilannya untuk disumbangkan kepada mujahidin dengan suka rela?
Bosnia, saat berkecamuk perang sipil yang mengerikan, siapakah yang mengulurkan bantuan untuk membela umat Islam yang menjadi korban pembantaian? Apakah pemerintah dan pasukannya ataukah umat Islam melalui putra-putra terbaiknya? Siapa yang mengulurkan bantuan ekonomi? Bukankah umat Islam yang dengan suka rela menyisihkan sebagian nafkahnya untuk disumbangkan dengan suka rela?
Cechnya, yang dua kali dihantam gelombang penyerbuan dari tentara Rusia, saat dunia sudah berada dalam genggaman hegemoni Amerika. Siapakah yang mendanai mujahidin dalam membela setiap jengkal tanah Cechnya? Apakah penguasa dan prajuritnya, ataukah umat Islam dengan segenap jiwa, raga dan hartanya?
Palestina, sepanjang untaian nestapa mereka, dan kisah heroik perlawanan Intifadhah. Semua ini menjadi contoh betapa pengorbanan sedang ditunaikan umat dan akan selalu ditunaikan. Bagaimana pula dukungan materi dari umat Islam dalam membantunya. Kita tak tahu, apakah bantuan itu sampai ke tangan mujahidin ataukah dirampok oleh para penguasa Arab. Di sini jelas, siapa yang berkorban dan siapa yang justru menghambat.
Siapa pula yang meledakkan kapal induk Amerika USS Cole hingga terkoyak. Siapa yang menghantam New York dan Washington pada hari Selasa yang penuh berkah? Apakah para penguasa dan bala tentaranya, ataukah umat Islam yang rela membagi nafkahnya untuk jihad dan mujahidin?
Perimbangan kekuatan dunia telah mapan. Tapi bukan antara Barat dengan Timur, atau antara Utara dengan Selatan. Tapi antara blok kufur dengan blok iman. Ibarat dua sisi timbangan, sebelah diisi kaum kafir dengan segenap perlengkapannya, dan sisi lain diisi mujahidin dan umat Islam dengan segenap perlengkapannya pula.
Jelaslah, umat Islam menempati salah satu dari dua papan timbangan, sementara yang lain ditempati blok kafir dunia. Fakta ini dipahami dengan baik oleh Barat dan para penguasa dunia. Oleh karenanya, mereka selalu melakukan upaya sistematis untuk memisahkan kita (mujahidin) dengan umat Islam. Allah akan selalu menang, tapi banyak manusia yang tak meyakininya. Sesunggunya sandaran hakiki mujahidin setelah kepada Allah adalah kepada umat Islam yang selalu merindukan tegaknya undang-undang Al-Qur’an dalam kehidupan mereka hingga mereka bertemu Allah. Kewajiban mujahidin adalah menjadikan umat Islam dalam barisannya, tak boleh meninggalkan mereka sekejappun karena akan dimanfaatkan para penguasa dan hukum kufur.
Konklusi
Ada banyak unsur untuk meraih kemenangan; qiyadah solid, generasi peka zaman, wahana amal sesuai pertimbangan politik (manhaj), dan memiliki obsesi serta kekuatan militer untuk meraihnya. Unsur-unsur yang kita cita-citakan. Kita akan mengulas kembali tema ini pada artikel ketiga dan keempat, agar lebih jelas.
Tak pantas kita bicara soal realita tanpa berbicara soal musuh. Tapi karena urgensi tema ini, kami sengaja menunda pembahasan soal musuh pada artikel kedua agar lebih fokus. Siapa yang merasa memiliki saran, ide dan masukan baik dalam makna membenarkan apa yang saya tulis atau mengoreksinya, hendaknya tak segan melontarkannya agar kita semua mendapatkan bimbingan menuju kebenaran. Hasilnya, perjalanan jihad kita menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s