Hikmah


Allah menciptakan alam semesta dengan timbangan hikmah. Segala urusan manusia harus dihiasi dengan hikmah, bila tidak akan terjadi ketimpangan. Dalam Al-Qur’an kita temukan Allah kerap merangkai ilmu-Nya dengan hikmah, sebagaimana Dia merangkai kewibawaan-Nya dengan hikmah. Hal ini disebabkan ilmu yang tidak dibarengi dengan hikmah akan menimbulkan penyimpangan dan kesesatan. Sebagaimana kekuasaan dan kewibawaan tanpa dirangkai dengan hikmah akan melahirkan kezaliman dan penindasan.
Allah mengajarkan hikmah kepada para nabi-Nya, bahkan menjadikannya naluri yang menyatu dengan kepribadian mereka. Para nabi mengaplikasikannya dalam membuat keputusan-keputusan di tengah umatnya masing-masing. Yang paling menonjol kemampuan hikmahnya adalah nabi Muhammad saw, sebagaimana ungkapan ayat berikut: (QS. 4: 113)
Dalam Shohih Bukhori dinyatakan, bahwa Anas bin Malik ra mendengar penuturan Abu Dzar ra yang berkata: Rasulullah saw bersabda: [ ] Artinya: Atap rumahku tiba-tiba terbuka, saat aku masih di Makkah. Jibril turun lalu membelah dadaku, ia memcucinya dengan air zamzam kemudian mengambil mangkuk emas yang penuh berisi hikmah dan iman lalu menuangkannya ke dadaku dan menutupnya kembali…(Shohih Bukhori, Kitabus Sholah, bab Bagaiana Shalat diwajibkan pada peristiwa Isra’ wal Mi’raj)
Nabi Ibrahim as mendapat karunia hikmah (An-Nisa’: 54) sebagaimana Isa as (Al-Maidah: 110), Daud as (Al-Baqarah: 251, dan Shad: 20), dan Luqman si hamba sholih (Luqman: 12). Demikianlah hikmah menjadi karakter dan karunia yang menonjol bagi para nabi dan orang-orang sholih.
Allah memadukan kehendak-Nya (masyi’ah) dengan hikmah karena keduanya berkait berkelindan yang tak bisa dipisahkan, sebagaimana hikmah juga menyatu dengan pengetahuan (ilmu) dan kewibawaan (izzah) Allah. Lihat misalnya ayat ini [ ] Artinya: Tiadalah kamu berkehendak kecuali atas kehendak Allah, sesungguhnya Allah Maha Tahu lagi Maha Hikmah. (Al-Insan: 30). Juga ayat [ ] Artinya: Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Hikmah. (Al-Fath: 7)
Dalil-dalil ini memberi bukti bahwa hikmah merupakan hiasan paling berharga yang harus dikenakan manusia, baik dalam menyelesaikan urusan agama maupun urusan dunia. Siapa yang mendapat karunia hikmah, ia mendapat karunia tak ternilai harganya. Allah berfirman: [ ] Artinya: Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan siapa yang diberi hikmah ia benar-benar mendapat karunia yang banyak (Al-baqarah: 269). Bahkan hikmah menjadi salah satu obyek yang manusia boleh iri kepada orang yang memilikinya. Abdullah bin Mas’ud ra berkata; Rasulullah saw bersabda: Tidak boleh iri kecuali pada dua hal; seseorang mendapat karunia harta maka ia habiskan dalam membela kebenaran, dan seseorang mendapat karunia hikmah maka ia memutuskan permasalahan dengannya dan mengajarkannya. (Shohih Bukhori / 1409, 7141, 7316).
Seorang mukmin menghiasi dirinya dengan hikmah. Dari perkataannya mengalir hikmah, perbuatannya mencerminkan hikmah, dakwahnya dipenuhi hikmah. Banyak orang tersesat karena perkataan dan perbuatannya tidak dituntun hikmah. Ia berbicara semaunya tentang agama. Ia dakwah sesuai seleranya. Ia bekerja didasari keuntungan semata. Kerja keras menegakkan Islam bisa kontra produktif akibat tidak dilaksanakan dengan standar hikmah.
Allah SWT menekankan pentingnya hikmah ini dalam usaha kita mendakwahkan agama-Nya. [ ] Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan sesuatu yang lebih baik.. (An-nahl: 125).
Orang pertama yang terkena perintah ini adalah Nabi Muhammad saw. Oleh karenanya, beliau memotivasi para sahabat untuk memiliki hikmah. Ibnu Abbas ra bertutur: Nabi SAW mendekapku ke dadanya, dan bersabda: Ya Allah, ajarkan hikmah kepadanya, hikmah adalah ketepatan (dalam memahami dan menyikapi sesuatu) yang bukan melalui jalur kenabian. (Shohih Bukhori: Kitab Keutamaan Sahabat, bab Keutamaan Ibnu Abbas ra). Bahkan Ibnu Abbas ra menyebut bahwa Nabi mendoakan hikmah kepadanya dua kali, sebagaimana riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya dengan penilaian hasan menurut syekh Albani rh.
Pengertian Hikmah
Secara bahasa hikmah adalah ketepatan pengetahuan dan pemikiran sesuai dengan kebenaran (Ar-Roghib; Al-Mufrodat). Atau, mengetahui perkara terbaik dengan pengetahuan terbaik (Lisanul Arab 12/140, An-Nihayah fi ghoribil hadits 1/119).
Hakiem [ ] berarti orang yang teliti dalam melakukan segala sesuatu (Lisanul Arab 12/143). Atau, yang mencegah timbulnya kerusakan (Al-Jami’ li ahkamil qur’an 1/288).
Sebagai istilah agama, hikmah berarti ketepatan perkataan dan perbuatan sesuai dengan standar kebenaran. Atau meletakkan sesuatu sesuai tempat semestinya. Dua pengertian ini kesimpulan Said al-Qohthoni dari berbagai pendapat ulama, yang dia sebutkan dalam bukunya: Al-Hikmah. Sementara menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, istilah hikmah dalam Al-Qur’an ada dua macam; berdiri sendiri, dan berangkai dengan kata al-kitab. Yang berdiri sendiri misalnya kata hikmah yang dikaitkan dengan perintah dakwah, seperti dalam An-Nahl: 125 di atas. Hikmah ini memiliki makna seperti yang disimpulkan Said Al-Qohthoni di atas. Adapun yang berangkai dengan kata al-kitab, seperti dalam firman-Nya [ ] Artinya: Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dalam hal ini, kata hikmah bermakna as-sunnah. Sementara al-kitab berarti al-Qur’an.
Rukun Hikmah
Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah menyebutkan, rukun hikmah ada tiga: al-ilmu (pengetahuan), al-hilmu (kedewasaan), dan al-anaatu (kehati-hatian). Ketiga rukun ini selaras dengan ungkapan Ibnu Taimiyah dalam banyak tulisannya: Memahami (al-ilmu) sebelum memerintah dan melarang, santun (ar-rifqu) saat melakukannya, dan sabar (as-shobru) sesudah melaksanakannya.
1. Al-Ilmu (Pengetahuan)
Allah SWT memerintah Nabi-Nya dengan penekanan pada dua perkara; ilmu kemudian amal. Allah berfirman: [ ] Artinya: Maka ketahuilah bahwa tiada tuhan selain Allah, dan minta ampunlah dari dosamu. (Muhammad: 19). Dengan demikian, fase ilmu mendahului fase amal.
Hikmah tidak mungkin direalisasikan tanpa panduan ilmu. Ilmu bisa bermakna persepsi, kepahaman, keyakinan, pilihan, dan penguasaan teoritis terhadap sesuatu. Ilmu dianggap sebagai imamul-amal, atau penuntun amal. Suatu pekerjaan tak akan selesai bila si pelaku tak menguasai teori dan petunjuknya. Seseorang memiliki tenaga dan waktu untuk memperbaiki motor yang rusak, tapi bila ia tak menguasai caranya maka tenaga dan waktunya menjadi sia-sia.
Demikian pula dengan hikmah, ia tak mungkin dilaksanakan kecuali dengan modal ilmu, terutama ilmu agama. Hikmah bermakna ketepatan bersikap sesuai dengan standar syariat. Jika seseorang tak memiliki bekal ilmu agama yang memadai, ia akan jatuh ke dalam salah satu dari dua kemungkinan; berlebihan atau berkurangan. Dengan ilmu, ketepatan secara presisi akan tergapai.
Ada seorang sahabat yang mengganti mandi junubnya dengan bergulung di pasir. Dia menyangka, jika pengganti wudhu adalah tayammum maka pengganti mandi junub adalah bergulung di pasir karena tayammum hanya membasuh telapak tangan dan wajah, tidak bisa mewakili mandi junub. Padahal nabi saw menyamakan pengganti wudhu dan mandi junub, keduanya cukup dengan tayammum. Dia tidak hikmah karena tak tahu tata-cara dan hukumnya.
2. Al-Hilmu (Kedewasaan)
Al-Hilmu secara bahasa; kematangan berpikir. Maksudnya, dapat mengendalikan nafsu dan jiwa dari luapan emosi, sebagaimana yang diterangkan dalam kitab an-nihayah fi ghoribil hadits. Allah kerap menyebut diri-Nya dengan sifat ini dalam Al-Qur’an, misalnya firman-Nya [ ] Artinya: …dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (Ali Imran: 155).
Bila kita cermati ayat-ayat yang menyebut Allah dengan sifat al-hilmu, kita temukan bahwa sifat tersebut kebanyakan berangkai dengan sifat pemaaf atau pengampun, dengan terlebih dahulu menyebut kesalahan atau kekurangan yang dilakukan manusia dalam melaksanakan syariat. Maksudnya, manusia dengan kesalahannya membutuhkan sifat al-hilmu dari Allah. Kalau Allah tidak menggunakan sifat al-hilmu-Nya, tentu manusia sudah lama binasa disebabkan azab dan murka-Nya.
Yang menguatkan al-hilmu sebagai salah satu pilar hikmah, firman Allah yang ditujukan kepada Nabi saw: [ ] Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali Imran: 159). Dan sabda Nabi saw terhadap Asyaj, pemimpin suku Abdu Qais: Engkau memiliki dua sifat yang disukai Allah; al-hilmu dan teliti.
Aisyah ra juga meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda: [ ] Sesungguhnya Allah Maha Lembut, menyukai kelembutan, dan memberi hasil melalui kelembutan yang tak diberikan bila melalui kekasaran, dan yang tak diberikan dengan cara apapun selainnya. (HR. Muslim).
3. Al-Anaatu (Kehati-hatian)
Artinya – secara bahasa – hati-hati dan tidak terburu-buru (Mukhtarus Shihah). Sifat ini merupakan cerminan sikap sabar. Islam mencela ketergesaan, sebagaimana mencela kemalasan. Tapi Allah memuji kecermatan dan memerintahkannya.
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berhati-hati dalam semua urusannya, dan teliti. Allah berfirman: [ ] Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu pergi (berperang di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: Kamu bukan seorang mukmin (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan dunia karena di sisi Allah ada harta yang banyak… (An-Nisa: 94).
Maksudnya, jika kamu dalam perjalanan jihad, jangan menyimpulkan bahwa salam yang diucapkan oleh seseorang yang latar belakangnya meragukan (misalnya kafir), disimpulkan sebagai siasat agar tak dibunuh. Telitilah dahulu, sampai kamu menghasilkan kesimpulan akurat; apakah salamnya itu hanya taktik untuk mengalahkan kamu ataukah salam karena ia telah menjadi muslim. Jangan membuat keputusan membunuhnya sesaat sesudah mengucapkan salam, karena kamu melakukan sesuatu hanya berdasarkan dugaan dan perasaan. Di sinilah prinsip al-anaatu (kehati-hatian dan teliti) sangat dihajatkan.
Termasuk mengabaikan prinsip ini, cepat memuji atau mencela hanya dengan informasi yang terbatas dan tak berimbang. Hal ini berbahaya, bisa menimbulkan kebencian dan permusuhan disamping penyesalan di belakang hari setelah tahu fakta sebenarnya. Da’i orang pertama yang patut berhati-hati dalam masalah ini, sebab dakwah yang dibangun lama akan hancur disebabkan kedangkalan informasi.
Tentu bukan semua masalah harus dilakukan dengan penuh pertimbangan sehingga menjadi lebih lambat. Jika suatu perkara telah memenuhi dua syarat; sah dan pada tempatnya, maka keputusan yang cepat lebih diutamakan. Seperti firman Allah: [ ] Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Ali Imran: 133).
Said bin Abi Waqqash ra menuturkan, al-A’masy berkata: Aku tahu bahwa perkataan ini pasti dari Nabi saw: [ ] Lambat (karena hati-hati) dalam melakukan segala sesuatu adalah baik, kecuali ketika beramal untuk akhirat. (Riwayat Abu Daud, dalam Kitabul Adab, dinilai sah oleh Al-Albani).
Hikmah dalam Dakwah
Dakwah menuntut ketrampilan multidisiplin. Ia berhubungan dengan kejiwaan manusia, sehingga perkataan atau sikap sangat sensitif mempengaruhi hasil. Ia kombinasi antara penguasaan syariat dengan seni komunikasi dan kepemimpinan. Ada saatnya menggunakan senyum, ada pula saat memakai muka masam. Ada kalanya menggunakan pujian bahkan hadiah, kadang memakai celaan dan hukuman. Masing-masing ada tempatnya sesuai dengan siapa yang dihadapi, kapan saatnya, dan bagaimana melakukannya.
Dalam dakwah, ada rambu-rambu hikmah yang bisa dijadikan pedoman agar dakwah lebih membawa hasil positif. Berikut beberapa di antaranya:
1. Memilih waktu dan kesempatan yang tepat sehingga pendengar tidak bosan.
Seorang da’i tidak boleh menuntut pendengar untuk selalu menikmati apapun yang ia katakan, tanpa mempertimbangan pilihan waktu yang tepat dan panjang pembicaraan yang terukur. Pendengar manusia biasa, ia punya hak untuk bosan atau sedang tidak konsentrasi. Da’i harus memahami situasi. Ia tak boleh berlindung di balik alasan bahwa ia menyampaikan al-haq yang karenanya pendengar harus menikmatinya. Jika ini terjadi, berarti da’i belum dewasa.
Ibnu Mas’ud ra berkata: Adalah Nabi saw memberi jeda hari dalam memberi nasehat kepada kami, khawatir kami bosan (Riwayat Bukhori dalam Kitabul Ilmi 1/162 – fathul bari)
2. Meninggalkan perkara yang tak menimbulkan efek negatif bila ditinggalkan, karena khawatir timbulnya fitnah. Atau suatu perkara bila ditinggalkan menimbulkan efek negatif, tapi efek itu lebih ringan dibanding jika dikerjakan.
Aisyah bertutur, Nabi saw berkata kepadanya: Wahai Aisyah, kalau bukan karena kaummu baru saja terbebas dari sentimen Jahiliyah, tentu aku perintahkan mereka untuk meruntuhkan Baitullah hingga rata dengan tanah, hingga tinggal pondasi yang dibangun oleh Ibrahim as, lalu aku bangun kembali dan aku buat dua pintu untuknya; pintu timur dan pintu barat. (Shohih Bukhori, Kitabul Hajj – 3/439 fathul bari, dan Shohih Muslim dalam Al-Hajj 22/969)
3. Ta’liful qulub (sentuhan hati) dengan menggunakan penghormatan dan harta.
Da’i seperti dokter, mendiagnosa penyakit lalu mengobatinya. Jika ia menyimpulkan bahwa seorang mad’u hanya bisa dimantapkan imannya dengan harta atau kehormatan, ia segera memberikannya demi tercapainya tujuan itu.
Nabi saw bersabda: [ ] Aku akan memberikan (sesuatu) kepada seseorang yang tercapainya tujuan di baliknya lebih aku sukai dibanding sesuatu tersebut, agar ia tak terjerembab di neraka kelak. (Shohih Bukhori, Kitabul Iman – 1/79 fathul bari – , dan Shohih Muslim dalam bab Iman 1/132)
4. Sentuhan hati dengan memaafkan pada situasi yang membolehkan untuk membalas, bersikap baik pada saat berhak bersikap buruk, dan bersikap lembut saat mungkin bersikap keras.
Anas bin Malik ra bertutur: Aku berjalan bersama Rasulullah saw. Saat itu beliau memakai baju buatan Najran yang tenunannya kasar. Seorang badui mendekat, mencengkeram bajunya dan menariknya dengan kasar hingga aku melihat bilur di kulit pundaknya karena kerasnya hentakan. Si badui berkata: Wahai Muhammad, beri aku harta milik Allah yang ada padamu. Maka Nabi saw berpaling kepadanya sambil tersenyum, lalu memerintahkan seorang sahabat untuk memberinya. (Muttafaq alaih).
5. Berbaik sangka dengan tetap menyikapi informasi sepihak secara adil.
Abu Hurairah ra menuturkan: Seorang Sahabat berkata: Wahai Rasulullah, aku punya kerabat dekat. Aku sudah berusaha menyambung silaturrohmi, tapi mereka tetap memutusnya. Aku berbaik-baik kepada mereka, tapi mereka malah bersikap buruk kepadaku. Aku menghormati pandangan mereka, tapi mereka justru membodoh-bodohkan aku. Nabi berkomentar: Kalau sekiranya keadaanmu benar seperti penuturanmu, maka seolah kamu membuat mereka memegang bara, Allah akan senantiasa membelamu selagi kamu tetap seperti itu. (Shohih Muslim).
Nabi saw tahu bahwa informasi ini sepihak, yang karenanya sangat mungkin bias. Untuk mendapatkan gambaran utuh terhadap persoalan, diperlukan informasi dari pihak kerabat Sahabat tersebut. Tapi agar penyelesaian masalah tidak tertunda karena menunggu informasi yang berimbang, bisa memberi komentar seperti kalimat Nabi saw tersebut; Kalau sekiranya keadaanmu benar seperti penuturanmu… Artinya, tetap memberi penghargaan terhadap shohibul masalah dengan berbaik sangka, tapi tak larut dalam opini sepihak darinya.
6. Da’i tidak boleh menyebut nama mad’u yang melakukan kesalahan bila koreksinya dilakukan di depan umum.
Nabi saw pernah melarang para Sahabat dari sesuatu, lalu membolehkannya kembali. Ada sebagian Sahabat yang kemudian tetap menyikapinya sebagai larangan. Nabi saw berpidato dengan diawali pujian kepada Allah, lalu berkata: Mengapa sebagian orang menghindari sesuatu yang aku lakukan? Demi Allah, aku lebih tahu tentang syariat Allah dibanding mereka, dan paling takut kepada Allah. (Shohih Bukhori, Kitabul Adab – 10/513 fathul bari – dan Shohih Muslim dalam al-Fadhoil 4/1829)
Rasulullah saw hanya menyebut dengan ungkapan sebagian orang, padahal beliau mendapat laporan lengkap dengan nama pelakunya. Adab seperti ini sangat penting agar tidak ada orang yang merasa dipermalukan di depan umum, apalagi oleh seorang tokoh yang dihormati masyarakat. Implikasinya, ia akan pulang dengan memendam sakit hati atau bahkan dendam, sehingga hubungan personal akan terganggu. Bila demikian, maka keakraban hanya sebagai tampilan formalitas, tapi ia sesungguhnya benci. Persatuan dan persaudaraan menjadi rapuh.
7. Mengkomunikasikan materi dakwah sesuai tingkat intelektualitas mad’u.
Ali bin Abi Thalib ra berkata: Berbicaralah di depan orang sesuai pengetahuan mereka, sukakah kamu mendapati Allah dan Rasul-Nya didustakan – karena hal itu? (Shohih Bukhori, dalam al-Ilmu – 1/225 fathul bari). Abdullah bin Mas’ud ra juga berkata: Jika engkau berbicara dengan orang-orang dan pembicaraanmu tidak dapat mereka cerna sesuai kapasitas akal mereka, niscaya timbul fitnah dari sebagian mereka. (Shohih Muslim, dalam al-muqoddimah 1/11)

Hikmah yang lain menyusul…

El-Hakim 2005

2 Tanggapan

  1. hikmah hanya akan mampu di akses oleh hati & jiwa yg suci. mensucikan jiwa, satu2nya jalan hanya dg lillahi taala menjalani syariat tanpa embel2 harapan trhdp syurga dan pahala kecuali harap cinta dan ridhoNYA. sungguh hijab yg hinggap pd setiap dirilah sehingga sulit sekali menangkap ayat2NYA yg tersirat. maka dihadirkanlah olehNYA syariat sbg password utk mengakses hikmah2, dan password utamanya adalah ritual sholat, baik yg wajib maupun yg sunnah, sodakallahul-adhiim…

  2. Uthmaan Abu Sa’id b. Ismaa’eel Al-Naysaaburi berkata:

    “Barangsiapa yang mengatur dirinya sendiri dengan tuntunan sunnah – baik dalam perkataan dan perbuatan – niscaya ia akan mampu berbicara dengan mengandung hikmah. Namun barangsiapa yang mengatur dirinya sendiri sesuai dengan keinginannya sendiri, niscaya ia akan berbicara jauh dari hikmah dan sesat. Karena Allah swt telah berfirman :

    “Dan jika kamu taat kepadanya (Rosul-Nya), niscaya kamu mendapat petunjuk.” [Q.S. An Nuur : 54]

    Berkata Abu Nu’aym dalam Al-Hilyah 10/244, dan yang lainnya;

    Setelah menyebutkan narasi ini dan yang sejenisnya Shaykh Al-Islaam Ibn Taymiyyah berkata dalam Minhaaj As-Sunnah 5/117:

    “Ini persis dengan apa yang telah mereka katakan, karena jika seseorang tidak mengikuti apa yang telah dirisalahkan oleh Rosulullah saw, maka ia akan berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Dengan demikian ia akan menjadi salah satu pihak yang mengikuti hawa nafsunya tanpa bimbingan dari Allah swt.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s