Mukadimah
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja langsung dari para hamba-Nya akan tetapi ilmu itu dicabut dengan mewafatkan para ulama. Sehingga tidak tersisa seorang alim pun. Kemudian manusia mengangkat para tokoh yang jahil. Dan ketika mereka diminta fatwa mereka akan berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan yang lain” .
Tidak diragukan lagi bahwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani merupakan salah seorang ulama dan bisa jadi masuk ke dalam sabda Rasul saw: “Allah mengutus kepada umat ini pada setiap seratus tahun seorang mujaddid yang memperbaharui urusan agama mereka” .
Meskipun demikian beliau adalah sosok manusia seperti ulama lainnya yang tidak ma’shum (terjaga dari kesalahan). Sehingga tidak selayaknya beliau dikultuskan dan yang mengeritiknya dianggap sebagai orang yang benci kepada ‘manhaj salaf’. Kalau saja kita biasa mentarjih pendapat antar ulama dan memilih salah satu pendapat di antara mereka yang rajih, maka bukan berarti kita membeci ulama yang pendapatnya marjuh. Demikian halnya dengan Syaikh Albani.
Makalah yang sederhana ini, sedikit akan mengkritisi pemikiran Syaikh Albani berkaitan dengan konsep Tashfiyah dan Tarbiyahnya. Meskipun demikian tulisan ini tidak mengurangi posisi beliau sebagai sosok ulama besar abad ini.
Nama dan Tempat Lahir
Nama lengkap beliau adalah Muhammad Nashiruddin bin Nuh bin Adam Najati, nama julukannya: Al-Albani, disandarkan kepada negeri kelahirannya Albania, beliau dipanggil dengan sebutan Abu Abdirrahman .
Syaikh Abani dilahirkan pada tahun 1332 H, bertepatan dengan tahun 1914 M di kota Shkodera, ibu kota lama Republik Albania, beliau hidup di kota ini kurang lebih selama sembilan tahun. Dan Syaikh Albani, wafat di Amman, hari Sabtu Ashar, 22 Jumadil Akhir 1420 H. bertetapan dengan tanggal 2 oktober 1999 M, dikebumikan di pekuburan Jabal Hamlan, dan jenazahnya dihadiri oleh banyak orang.
Masa Pertumbuhan
Syaikh Albani dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya secara materi, namun sangat kaya ilmu. Ayah Albani bernama Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’at di ibukota negara Dinasti Utsmaniyah (kini Istambul). Setelah menyelesaikan studinya ia kembali ke Albania, untuk berdedikasi kepada agama, mengajarkan ilmunya kepada umat sehingga menjadi salah satu rujukan kaum muslimin yang berdatangan untuk menimba ilmu darinya. Beliau adalah seorang ulama ahli fikih madzhab Hanafi.
Masa Belajar Dan Guru-Gurunya
Syaikh Albani sekolah di sebuah sekolah ibtidaiyah swasta yang bernama Jam’iyyatul Is’af Al-Khairi, di sanalah awal masa pendidikannya.
Setelah menyelesaikan studinya pada jenjang Ibtida’iyah, Albani tidak lagi melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Hal itu merupakan keputusan yang diambil oleh ayahnya setelah melihat kurang baiknya sekolah-sekolah umum/pemerintah dari segi pengajaran agama. Maka sebagai solusinya, sang ayah membuat program ilmiah dan intensif bagi putranya.
Dan di antara para guru atau syaikh yang mempengaruhi Albani ketika masa kecilnya adalah:
1. Nuh bin Adam Najati
Ia merupakan ayahnya sendiri yang fanatik terhadap madzhab hanafi. Darinya ia belajar fiqih madzhab Hanafi khususnya kitab Mukhtashar Al Quduri, Al Qur’an, tajwid dan ilmu sharaf.
2. Syaikh Muhammad Sa’id Al-Burhani
Darinya beliau belajar sebagian fiqih Hanafi dan secara terfokus membaca kitab Maraqil Falah Syarh Nurul ‘Iddah, kitab Syudzur Adz Dzahab dalam bidang Nahwu dan beberapa kitab Balaghah modern.
3. Syaikh Muhammad Bahjah Al Baithar seorang ulama besar di Damaskus
Murid-Murid Albani
Banyak yang telah belajar kepada Syaikh Albani baik ketika di Damaskus maupun di Amman. Dan di antara murid-muridnya adalah : Ihsan Ilahi Dhahir, Abu Ishaq Al Huwaini , Hamdi Abdul Majid As Salafi, Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, Zuhair Asy Syawisy, Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Abdur Rahman Abdul Khaliq, Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Ali Hasan Abdul Hamid, Umar Sulaiman Al Asyqar, Izzat Khidir, Muhammad ‘Ied Abbasi, Syaikh Ali Khassyan, Muhammad bin Ibrahim Syaqrah, Falih Al Harbi, Muhammad Jamil Zainu, Muhammad Musa Alu Nashr, Abul Hasan Al Ma’ribi, Mashur bin Hasan Alu Salman, Hasan Abu Asybal Mamduh Az Zuhairi Al Mishri dll.
Putra-Putri Syaikh Albani
a. Dari isteri pertama: Abdur Rahman, Abdul Latif dan Abdul Razzaq
b. Dari isteri kedua: Unaisah, Abdul Mushawwir, Aisyah, Salamah, Abdul A’la, Muhammad, Abdul Muhaimin, Hasanah dan Sukainah. Menurut pengakuan Ummu Fadhl isteri kedua ini akhirnya dicerai.
c. Dari isteri ketiga (Khadijah Al Qadiri): Hibbatullah. Begitu juga dengan isterinya yang ketiga, dikarenakan tidak mau tinggal bersama Syaikh di Amman maka ia pun diceraikannya.
d. Dari isteri keempat beliau yang dikenal dengan Ummu Fadhl belum dikaruniai keturunan.
Karya-Karya Syaikh Albani
Setelah lebih dari enam puluh tahun bergelut dalam dunia hadits dan juga ilmu keislaman lainnya. Ulama kontemporer yang telah dijuluki sebagai Muhadditsul ‘Ashri (pakar hadits abad ini) termasuk ilmuan yang sangat produktif menulis. Seabrek karya-karya besar dalam berbagai bidang ilmu keislaman, akidah, hadits, fikih, manhaj, dakwah telah disumbangkan kepada kaum muslimin.
Melalui buku yang disusunnya, Biografi Syaikh al-Albani Ahli Hadits Abad Ini, Mubarak B.M Lc, telah menulis seluruh karya tulis Syaikh al-Albani baik yang telah dicetak maupun atau pun karya-karya yang masih berupa manuskrip.
Konsep Tashfiyah Dan Tarbiayah
Konsep ini lahir berangkat dari kesimpulan beliau tentang penyebab terhinanya kaum muslimin. Sehingga beliau menyatakan bahwa penyebabnya tidak lepas dari dua hal;
Pertama: Kejahilan kaum muslimin terhadap Islam yang diturunkan Allah swt ke dalam hati Rasulullah saw.
Kedua: Mayoritas kaum muslimin yang mengetahui hokum-hukum Islam yang berkaitan dengan berbagai kepentingan mereka, tidak melaksanakannya, mereka cenderung mengentengkan, menggampangkan dan menyia-nyiakannya.
Oleh sebab itu solusinya adalah harus melakukan tashfiyah dan tarbiyah. Menurut Syaikh Albani yang dimaksud dengan tashfiyah adalah:
1. Pemurnian akidah Islam dari suatu yang tidak dikenal dan telah menyusup masuk ke dalamnya, seperti kesyirikan, pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah, atau penakwilannya, penolakan hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan akidah dan lain sebagainya.
2. Pemurnian fikih Islam dari segala bentuk ijtihad yang keliru yang menyelisihi Al Qur’an dan sunnah, serta pembebasan akal dari pengaruh-pengaruh taqlid dan kegelapan sikap fanatisme.
3. Pemurnian kitab-kitab tafsir Al Qur’an, fikih, kitab-kitab yang berhubungan erat dengan raqaaiq (kelembutan hati), dan kitab-kitab lainnya dari hadits-hadits lemah dan palsu, serta dongeng israiliyat dan kemungkaran-kemungkaran lainnya.
Adapun yang dimaksud dengan tarbiyah adalah pembinaan generasi baru muslim, di atas Islam yang telah dibersihkan dari hal-hal yang telah kami sebutkan, dengan sebuah pembinaan secara islami yang benar sejak usia dini tanpa terpengaruh oleh pendidikan ala barat yang kafir.
Konsep yang digagas oleh Syaikh Albani merupakan sebuah konsep yang mulia dalam rangka menyadarkan umat dan mengembalikannya kepada kejayaan Islam. Meskipun demikian, beliau merupakan sosok manusia yang tidak luput dari kesalahan.
Muhammad Ibrahim Al ‘Ali mencatat beberapa sikap yang keliru yang merupakan dampak dari konsep Albani. Di antaranya:
1. Sikapnya yang terlalu keras dalam menghadapi kalangan yang berbeda pendapat dengannya meskipun masih sesama dalam koredor manhaj salaf
2. Sikapnya yang keras dalam memandang kelompok-kelompok Islam kontemporer dan memandangnya sebuah bid’ah hal ini berbeda dengan ulama lainnya yang selevel dengan beliau .
Menimbang Konsep Tashfiyah dan Tarbiyah
Abdullah bin Mubarak berkata: “Dan tidak ada yang merusak agama melainkan penguasa, ulama su’ (ulama yang jahat) dan ahli ibadah (tapi jahil)” .
Penguasa akan menjadi baik tatkala mereka komitmen dengan ajaran Islam, menerapkan syari’at-Nya dan berlaku adil. Dan faktor yang menjadikan mereka rusak adalah tatkala mereka meninggalkan ajaran Islam dan tidak menegakan syari’at-Nya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sehingga wajar Abu Bakar As Shiddiq berkomentar: “Kalian akan tetap eksis (baik) jika para pemimpin kalian istiqamah dalam beragama” .
Ulama akan menjadi baik tatkala mereka menjelaskan yang haq dan yang bathil, membimbing manusia dengan menggunakan pedoman yang haq dan mengingatkan mereka akan bahaya hukum-hukum yang merusak. Dan para ulama akan menjadi rusak tatkala mereka berfatwa dengan dasar kejahilan, hawa nafsu dan merujuk kepada sumber yang rusak. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan .
Di antara yang termasuk ulama su’ adalah ulama sufi sesat. Dan di antara ulama sufi kontemporer yang sesat adalah Abdullah Al Habasyi yang bermukim di Libanon dan termasuk pendiri Jam’iyyah Al Masyari’ Al Khairiyah.
Umar Abu Umar salah seorang ulama Palestina menyebutkan, di antara pemikiran Abdullah Al Habasyi adalah mengkafirkan Ibnu Khuzaimah, Al Ajurri, Abdullah bin Ahmad bin Hambal, Ibn Taimiyah, Ibn Al Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab dan Sayyid Qutb.
Aliran sufi biasanya mengambil permasalahan iman yang bersumber dari sekte Murji’ah. Mereka menilai hakekat keimanan hanyalah hati atau hati dan lisan. Sementara amal jawarih bukan bagian dari hakikat keimanan. Sementara kaum muslimin telah sepakat bahwa komponen keimanan adalah hati, lisan dan amal. Atau dengan ungkapan lain, iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. Dan yang dimaksud dengan perkataan adalah perkataan hati dan perkataan lisan. Dan yang dimaksud dengan perbuatan adalah perbuatan hati dan perbuatan anggota tubuh .
Tegakan Negara Islam di Hatimu
Di antara bagian dari konsep tashfiyah dan tarbiyah adalah pernyataan Syaikh Albani yang sudah populer sebagaimana termaktub dalam mukadimah Silsilah Al Ahadits Ad Dhaifah Wa Al Maudhu’ah Wa Atsaruha as Sayyi Fi Al Ummah:
أقيموا دولة الإسلام في قلوبكم، تقم لكم في أرضكم
“Tegakan negara Islam di hatimu pasti akan tegak di bumi mu” .
Syi’ar seperti ini sudah menjadi ‘agama’ kaum salafi maz’um yang menyimpang baik dalam tulisan, ceramah, buku-buku, majalah dan blog-blog mereka.
Dalam pernyataan tersebut ada beberapa kritikan yang bisa penulis kemukakan di antaranya:
Pertama: Sebelum Syaikh Albani mengeluarkan pernyataan tersebut sebenarnya sering dilontarkan oleh salah seorang tokoh Al Ikhwan Al Muslimun, Ustadz Hasan Al Hudhaibi. Pertanyaannya adalah apakah kalangan salafi maz’um mau manhaj Albani disebut Salafiyatul Aqidah Ikhwaniyyul Manhaj (akidahnya salaf dan konsepnya Al Ikhwan Al Muslimun)?
Jawabannya jelas beliau dan para murid serta pengikutnya tidak mau diberi label demikian. Uniknya beliau dan para muridnya atau pengikutnya begitu mudah melabel yang tidak sepaham dengannya sesama manhaj salaf dengan sebutan; Qutbiyah (Kalangan yang tergagas oleh pemikiran Sayyid Qutb sekeluarga), Sururiyah (Kalangan yang tergagas oleh pemikiran Muhammad Surur Zaenal Abidin), Kharijiyun ‘Ashriy (Khawarij kontemporer) dan lain-lain.
Kedua: Dalam pernyataan tersebut ada paham sufi murji’ (sufiyah murji’ah). Beliau menjadikan hatilah yang bertugas untuk mendirikan Negara Islam. Padahal usaha menerapkan syariat dan mendirikan negara Islam tidak cukup hanya dengan hati akan tetapi harus dibuktikan dengan amal nyata.
Rupanya Syaikh Albani paham akan masalah ini sehingga dalam pernyataan lain beliau mengungkapkan: “Tegakan negara Islam di hatimu pasti akan tegak di bumi mu, ungkapan ini sangat baik sekali akan tetapi alangkah baiknya lagi jika dengan amal” .
Maka apakah kalangan salafi maz’um mau manhaj Syaikh Albani disebut dengan ‘Salafiyatul Aqidah Shufiyul Manhaj’ (Aqidahnya salaf dan konsepnya sufi) atau dalam istilah lain sufi berbaju salafi?
Ketiga: Dalam pernyataan tersebut ada paham murji’ah dan jabariyah. Dengan perincian sebagai berikut; Tegakan negara Islam di hatimu adalah paham murji’ah. Dan pernyataan pasti akan tegak di bumi mu adalah paham Jabariyah.
Keempat: Dalam konsep Syaikh Albani, senantiasa menekankan pentingnya pembenahan umat dari sisi internal. Konsep yang dipahami secara ‘kebablasan’ ini, akhirnya dipahami oleh para pengikutnya dari kalangan salafi maz’um secara keliru. Sehingga memandang perjuangan yang dilakukan umat Islam di Irak atau negara lainnya bukan termasuk bagian dari jihad dan memandang pada hari ini tidak ada yang namanya jihad.
Dalam konsep tarbiyah Syaikh Albani dan sebagaimana dipahami oleh para pengikutnya , seorang yang berjihad harus ditarbiyah dulu. Karena tarbiyah merupakan pase yang harus dilalui sebelum melakukan amal jihadi. Di sini bukan berarti tarbiyah tidak penting, akan tetapi pertanyaan yang harus diajukan kepada kalangan ini adalah apakah seseorang yang belum ditarbiyah tidak boleh melakukan shalat, puasa dan zakat?
Dalam ungkapan lain apakah mereka tidak boleh shalat, puasa dan zakat hanya karena belum ditarbiyah? Bukankah dalam shalat, puasa dan zakat ada unsur tarbiyah? Jika jawabanya adalah “Ya”, kenapa ada perbedaan sikap dalam amalan jihad? Bukankah dalam jihad banyak ditemukan unsur-unsur tarbiyah?
Kelima: Dampak negatif dari konsep tersebut adalah memandang remeh penegakan syariat. Tidak sedikit dari kalangan pengikut Syaikh Albani begitu mudah memponis ‘khawarij’ kepada siapa saja yang memandang pentingnya penegakan syariat.
Penutup
Syaikh Albani sosok alim dan mujtahid sehingga wajar jika beliau disebut sebagai salah seorang mujaddid pada abad ini. Beliau telah menorehkan banyak jasa bagi Islam dan umatnya. Meskipun demikian seorang alim terkadang keliru dalam menghukumi suatu perkara tertentu dari sekian banyak permasalahan. Hal ini adalah sesuatu yang akan terjadi dan pasti terjadi. Akan tetapi kasus tersebut tidak menjatuhkan martabat sang alim.
DR. Bakr Abu Zaid berkata: “Kalau saja kekeliruan seorang alim terus diteliti maka tidak ada seorangpun yang selamat dari kesalahan. Setiap kita bisa membantah dan bisa dibantah. Dan hanya para nabi dan Rasul Allah yang terjaga . Apa yang dikatakan Bakr Abu Zaid sebenarnya merupakan makna pernyataan Imam Malik, beliau berkata: “Setiap kita bisa membantah dan dibantah kecuali yang memiliki kuburan ini (Rasul saw)” .
Konsep tashfiyah dan tarbiyah yang beliau gulirkan jelas merupakan konsep yang brilliant. Akan tetapi dalam tataran praktek didapatkan adanya sebagian kekeliruan. Khususnya oleh sebagian para pengikutnya dari kalangan Salafi Maz’um. Jarang sekali mereka berbicara tentang pentingnya membela kehormatan kaum muslimin atau berjihad dan pentingnya berhukum dengan hukum Allah secara detail. Bahkan ada di antara mereka yang justru membela kalangan yang tidak berhukum dengan hukum Allah dan alergi dengan istilah jihad.
Wallahu A’lam
Filed under: Syubuhat wa Rudud, Tsaqofah, Wacana Dakwah Ditandai: | Albani, Tarbiyah, Tashfiyah
memangnya ente ilmunya sudah se level dengan syaikh albani?, jangan bicara dengan hawa nafsu lebih dahulukan perkataan Allah dan rasulnya
orng Syi’ah suka taqlid kepada imamnya. mrk pny keyakinan imamnya terjaga dari kekeliruan dan kesalahan…hal ini terjadi jg sama sosok sameone….tidak ada bedanya dg syi’ah.
klw Imam Syafi’i, Bukhari, Muslim dan deretan ulama panutan lainnnya dikritik kalangan ini membisu akan tetapi jk sosok Albani yg dikritik dunia seolah kiamat dan terjadi gonjang ganjing………tidak terima klw Albani dikritik…….dan para ulama yg mngkritik keilmuannya jg tidak diragukan….setiap manusia pasti ada kelemahan dan kesalahan demikain jg dg Albani.
Emangnya ente menganggap semua ulama ma’shum. Apakah perkataan ulama juga pasti setara dengan Rasulullah. Wal ‘iyadzu billah.
Bukankah penulis telah melakukan haknya, menunjukkan hujjah untuk mengoreksi tanpa merendahkan ulama tsb. Amat berbeda dengan perilaku kaum Salafi maz’um yg sgt membenci org2 yg berbeda pendapat dgn mrk meski dlm hal furu’ ijtihadiyah. Wallahu a’lam.
hujjahnya bener ngak sih mas ????
Yang paling memahami perkataan seseorang adalah orang tsb, kemudian murid-murid terdekatnya, bukan orang yg hanya baca satu-dua kitab dari ybs… Kalau mau tahu manhaj syaikh Al Albani yg sebenarnya, baca dulu seluruh/sebagian besar tulisan beliau ttg manhaj, demikian pula ceramah-ceramahnya yg terekam (yg ana rasa Syaikh Muh Ibrahim Al ‘Ali belum melakukannya). Tapi tulisan beliau di atas hanya dibangun di atas salah satu statemen syaikh Al Albani yg kebetulan sama dengan ucapan tokoh IM lalu ditafsirkan dari sudut pandang si penulis… wah, ini namanya penilaian yg subyektif. Apalagi sampai mencap beliau dengan sufi murji’ah (ente tau apa hakikat sufi dan murji’ah? coba terangkan…). Tashfiyah dan tarbiyah yg diajarkan oleh Syaikh Al Albani tidak seperti yg difahami oleh si penulis, justru hal itu berangkat dari hadits yg sangat terkenal bhw kalau hati sudah baik otomatis yg lain-lain akan jadi baik, dan baiknya hati ialah dengan tarbiyah yg mencakup ilmu dan amal, bukan cuma teori… tarbiyah itu ilmu dan amal ya akhi. Salah kalau nt hanya fahami tarbiyah sebagai teori saja… Syaikh Al Albani tidak mengingkari masyru’iyyah jihad, tapi yg diingkari adalah adanya sejumlah bentuk tindakan kekerasan dgn senjata yg diklaim sebagai jihad oleh sebagian kalangan, namun menurut beliau belum bisa dinilai sebagai jihad. Bedakan dong antara mengingkari suatu fenomena yg masih diperselisihkan oleh para ulama apakah itu jihad atau bukan; dengan mengingkari adanya jihad. Lha apa semua orang harus sependapat dgn si penulis yg menganggap apa yg terjadi di Irak itu jihad syar’i?
Lagi pula, siapa yg membatasi jihad sebagai ‘perang’ saja? Bukankah Allah menyebut tindakan membantah kaum munafikin dengan Al Qur’an sebagai jihad pula?
Agaknya antum tergesa-gesa memberi penilaian thdp Syaikh Al Albani secara khusus dan salafiyyin secara umu (yg antum cap maz’um itu)… wallaahi, jihad adalah bagian dari syari’at Islam, yg mengingkarinya adalah kafir, tapi jihad juga punya ‘aturan main’ alias syarat2 dan rukun, sebagaimana shalat, puasa dll. Tidak semua gerakan ruku’ dan sujud adalah shalat, sebagaimana tidak semua perang melawan orang kafir berarti jihad. Jihad itu wasilah, bukan ghaayah. Kalau jihad melawan AS dan sekutunya sebagaimana yg difahami oleh Al Qaeda, maka itu bukan jihad yg menjadikan kalimatullah tegak di muka bumi… tapi jihad yg menjadikan kaum muslimin jadi bulan-bulanan orang kafir, menewaskan ratusan ribu kaum sipil, memporak-porandakan Irak dan Afghanistan… terus ujung-ujungnya Amerika dan sekutunya tetap eksis. Ana heran sekali dgn cara berfikir mereka yg menyebut dirinya mujahidin tsb… mereka bangga tiap kali menewaskan beberapa gelintir tentara kafir, tapi berapa ribu rakyat sipil muslim yg tewas gara-gara kegegabahan mereka (Al Qaeda) yg mengundang datangnya koalisi salibis ke negeri mereka??
Nasehat ana bagi antum ya akhi, wallaahi ana uhibbul khaira laka kama ahbabtuhu linafsi… nt baca tulisan di link berikut:
http://www.assakina.com/book/6403.html
Abu hudzaifah….kekeliruan Syaikh Albani telah diakui oleh murid-murid seniornya dan termasuk oleh orang2 dekatnya seperti Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah dll. semua kalangan tau persis siapa syaikh Syaqrah dan perannya bagi sosok Syaikh Albani. kekeliruan Syaikh Albani adalah wajar…jgn smpai kita bersikap ghulu yang mengakibatkan kita buta hati dan menolak kebenaran dari pihak lain
Kekeliruan apa yg antum maksud? Apakah murid-murid seniornya menganggap guru mereka adalah murji’ seperti anggapan penulis blog ini dan yg sepemikiran dengannya? Ana tidak meyakini ada seorang pun yg ma’shum selain para Nabi, tapi jika seseorang telah dikenal sebagai ahlussunnah (apalagi kalau ulama ahlussunnah), maka saat dia mengatakan sesuatu yg muhtamil lil haqq wal baatil, kita harus membawanya kepada ihtimal yg haqq, liannal ashla annahu yuriidul haqq wa manhajuhu ‘alal haqq. Bukan justru dibawa ke ihtimal yg batil, fahimta ya akhi? Cara yg dilakukan penulis juga tidak fair, karena dia menarik kesimpulan berdasarkan pemahamannya yg terbatas terhadap perkataan Syaikh Al Albani, lalu menentukan bahwa ucapan tersebut berkonsekuensi begini dan begitu… padahal siapa pun yg tahu adab berdebat memaklumi bahwa laazimul qouli laisa qoulan. Konsekuensi dari suatu ucapan bukanlah suatu ucapan. Contohnya: Orang yg mengatakan bahwa siapa yg berhukum dengan selain hukum Allah adalah kafir, tidak berarti dia mengatakan bahwa orang yg berhukum dengan hukum Allah berarti muslim. Fahimtum ya akhi?
Abu Hudzaifah al-Atsary…
Pemakaian nama al-atsary sudah bikin mual. Nama bid’ah yang bernada sok, sombong dan genit. Emangnya kalau sudah pakai nama al-atsary terus apapun yang keluar dari kepala anda benar? Atau anda merasa sudah berada di jalan yang lurus? Lalu siapa yang tidak pakai nama al-atsary manhajnya batil? Dasar salafi genit bin gemblung.
Manhaj salaf itu manhaj tawadhu’, bukan manhaj pamer dan genit begitu. Generasi salaf berusaha menyembunyikan amalnya. makanya ada diantara mereka yang melakukan berbagai cara untuk menyamarkan bekas tangisan karena takut kepada Allah. sedangkan anda, begitu genit dan pamer pakai jabatan al-atsary.
kalau dimisalkan mengikuti atsar salaf shalih adalah jaminan kelurusan manhaj, maknanya anda mengaku alias menepuk dada dan menggelari diri dengan si manhaj lurus. Tidak ada takwil lain atas apa yang anda lakukan itu kecuali riya dan sum’ah. atau pamer bin genit. suka bersolek untuk mendapat aplaus dan pujian. orang yang melihat akan berdecak kagum.
tingkah anda menggelari diri dengan al-atsary tidak beda dengan genitnya habaib yang fotonya dipambang di baliho besar di berbagai perempatan di jakarta, dengan gaya narsis dan genit. pamer surban, wajah bersih, hidung mancung dan kewibawaan yang lahir dari penampilan. bedanya mereka genitnya dalam bab busana, kalau anda dalam nama. keduanya sama. bikin mual pengin muntah.
kalau pemakaian al-atsary itu dalam rangka memberi ciri khas manhaj lurus di tengah banyaknya manhaj menyimpang, ini merupakan bid’ah. pada zaman salaf sudah banyak manhaj menyimpang, tapi mereka tak pernah menggelari diri dengan as-sunni atau as-salafi atau al-atsary.
kalau orang lain yang menggelari itu lain hal. tapi dengan narsis dan genit menggelari diri sendiri, ini namanya bencong bin banci al-genity. saya sampai kehabisan kata untuk mengungkapkan muaknya saya terhadap mereka yang menamai dirinya sendiri dengan al-atsary.
atsar itu artinya bekas atau menapak tilasi atau mengekor. jangan-jangan karena anda suka mengekor saja kepada tokoh lain yang hanya karena mengobral nama salafi sehingga menyangka semua yang keluar dari mulutnya benar. kalau memang demikian, maka maksud nama anda adalah ABU HUZAIFAH AL-MENGEKORY. Atau ABU HUZAIFAH AL-BUNTUTY. lebih parah lagi ABU HUZAIFAH AL-mBEBEKY.
Tapi enak juga sih kalau jadi SOP BUNTUT dan BEBEK GORENG. ha…ha…ha…
Mohon maaf sebelumnya,,,mbok ya kalo komen itu yang ilmiah to……lha ente (wahai ….) kenapa make nama “Bejo” pede bangetz??? kalo ente konsekuen dengan apa yang ente sampekan pake dong nama “CILOKO Sampe MATI”……????
kenapa?? aneh ya…., ya itu… nama al atsary kan nisbah,yang maknanya doa/harapan??? kok bisa2nya ditafsirkan sapenake,trus orang yang nisbat ke “Assunni,assalafi” jg dianggap “pamer dan genit” dst..
kalo pengen jadi orang “bejo” itu jangan nilai sapenake dhewe,setidaknya KALAU anda tawadhu&sadar diri “GA BERILMU”,pake dong kaedah “khusnudhon” yang diajarkan ISLAM pada tempatnya(kalo bener kamu muslim)..
terima kasih
Afwan mazz rian… mungkin bahasa arab antum perlu dikoreksi lagi… bukan “khusnudhon” akan tetapi “husnudhon”… syukron
Kullu inaa-in bimaa fiihi yandhahu.
biasa antum kalah dalil… jadi DALILUT
kalah dalil gelut
Cukup sudah kami mengenal orang orang seperti kalian { BEJO }, dari dulu sampai sekarang dan sampai nanti kalian itu tidak akan pernah beradab dan punya sopan santun dalam membantah. Belajar yang benar dulu tapi sama ahlussunnah jangan sama ahli bid’ah. ok
mazz rian dan iwan …
paling susah memang menasehati salafi al-atsary yang begitu sengit kalau meluapkan tahdzir. Giliran diledekin nama al-atsary sama dengan al-mbuntuty marah besar. Kalau memang kalian gak mau dikasari, belajar juga dong untuk santun dalam mentahdzir.
Karena kalian semua gemar tahdzir dg kasar, berarti kalian adalah orang yang merasa paling benar dan angkuh. Ketika diajak diskusi baik-baik, kalian tolak, karena kalian tak mau duduk dengan ahli bid’ah. makanya saya pake bahasa preman ketika mengkritik kalian, biar menjadi shock therapy, bahwa ternyata kata-kata kasar juga menyakitkan. Ketika kalian merasa sakit dengan kata-kata saya, begitulah sakitnya mereka yang ditahdzir dengan kasar dan tanpa adab. itu namanya senjata makan tuan. ha…ha…ha…
Jadi kalian tuh begini ringkasnya…
Dinasehati dengan ilmu dan santun, gak kerasa dan dicuekin, karena kalian merasa paling pintar dan paling benar.
Diajak diskusi terbuka, kalian gak mau, alasannya karena tak mau duduk dengan ahli bid’ah.
Dikritik dengan bahasa kasar, kalian tersinggung dan marah.
Jadi kami harus bagaimana ? Coba jawab, kalian maunya diapain sih ?
Kembali ke persoalan pemakaian nama al-atsary di belakang nama kita, halal apa haram sih? kalo pilihannya halal dan haram, okelah jawabannya halal. Tapi masalahnya, ada beberapa pertimbangan yang mesti dipikirkan dengan dewasa, tidak kekanak-kanakan:
1. Nama itu kita sendiri yang menyematkan, bukan orang lain. Ini kan genit namanya. Menggelari diri sendiri dengan gelar yang berlebihan.
2. Kalau memang dimaksudkan sebagai do’a, sejak kapan orang memakai nama nisbat sebagai doa. sepanjang sejarah, tak pernah pemakaian nisbat dimaknai sebagai doa. Kalau memang doa, mestinya nisbat terbaik bukan al-atsary, tapi al-jannaty (semoga masuk surga), al-maghfury (semoga diampuni), at-taqiy (semoga taqwa), as-sholihy (semoga sholih) al-ghaniy (semoga kaya). Sepanjang sejarah manusia, nisbat itu bukan do’a, tapi pernyataan tentang sesuatu. Ketika disebut al-hanbaly, bukan doa menjadi pengikut Hanbali, tapi pernyataan bahwa ia pengikut mazhab Ahmad bin Hanbal. Paham gak kalian wahai al-atsariyun?. Saya gak yakin kalian paham !
3. Nama yang bermakna doa bukan pada nisbatnya. Misalnya nama anak kita Ahmad (terpuji), ini mengandung doa, agar menjadi orang terpuji, makanya dalam Islam nama tak boleh asal-asalan. Betul. Tapi nisbat bukan doa. Misalnya al-baghdady, al-bukhary, al-bashry, al-kufy dll, semuanya pernyataan bahwa yg bersangkutan berasal dari daerah tersebut. Demikian juga dengan mazhab, as-syafi’iy, al-hanafy, semuanya menunjukkan asal mazhab, bukan doa. Jika ada orang namanya Ahmad al-Baghdady, ahmadnya mengandung doa, tapi al-baghdady mengandung pernyataan bahwa ia berasal dari Baghdad. Kalau kalian namanya ahmad al-atsary, artinya ahmad bermakna doa, tapi al-atsary bermakna pernyataan kalian paling atsary, yang lain tidak. Sama sekali bukan doa. Makanya, ketika kalian mengklaim nisbat al-atsary adalah doa, jelas akal-akalan untuk menutupi pamer dan genit nan kekanak-kanakan. Paham gak…? Dasar gemblung bin dungu !
4. Jika pemakaian al-atsary ini baik, kenapa syekh bin Baz, syekh Utsaimin dll tak memakainya. Mereka tak pernah memakainya ketika menulis namanya sendiri. Kalau orang lain menulis namanya, biasanya ditambah dengan hafidhahullah (saat beliau masih hidup) dan rahimahullah (saat sudah wafat). kalau itu memang doa. tapi kan tidak dalam bentuk nisbat (al-mahfudhy = semoga dijaga Allah), atau al-marhumy (semoga dirahmati Allah).
Jadi kesimpulannya, memakai nama al-atsary itu tak bisa ditinjau dari aspek halal haram, tapi dari cita rasa berbahasa, tata pergaulan, budaya dan etika.
Kapan kalian bisa beranjak dewasa wahai al-atsariyun ar-roja’iyun ?
Kalian ini kelihatan pintar tapi kadang konyol. Aneh. Lucu.
Udah ah, kehabisan kata untuk menasehati kalian… Ra mudeng-mudeng. Gak paham-paham.
Matur nuwun kalian telah membaca komen ini wahai roja’iyyun… pasti kalian mangkel banget… ha…ha…ha…
mohon angkat tangan kanan, saya juga… yuk: TOS !
Eh sorry… salim aja deh, yang nyunnah.
Ga’ usah ributin nama lah… bantah aja secara ilmiah kalau memang punya bantahan. Emang haram pake nisbat al-atsary? Itu khan nisbat kepada atsar (baik hadits maupun perkataan para salaf). Kalau kalian ga’ seneng, ana ganti dengan yg lain juga ga’ masalah kok… mau al-mbebeki, al-mbuntuti, atau yg lainnya ga’ masalah… tapi tetap yg ana buntuti dan bebeki adalah atsar. Dan jangan lupa firman Allah (ولا تنابزوا بالألقاب).
Bung Abu hudzaifah Al Atsary
Saya mempersoalkan nama Anda karena banyak Roja’iyyun yang menggunakan nama itu secara genit. Maksudnya, tolong Anda teruskan kritik ini kepada teman-teman Anda yg pakai nama al-atsary.
Kalau Anda sendiri, saya sudah menduga kalau Anda memang sekedar mbebek ke orang lain. Ada orang pakai nama al-atsary, Anda ikut latah memakainya. Gak punya pendirian, hanya ikut tren, bangga kalau punya nama yang beda. Seperti anak muda gaul. Gak pede kalau gak beda. Khalif, tu’raf !
Sudah diterangkan panjang lebar, masih juga nanya: emang haram pakai nisbat al-atsary?. Capee dech !
Akhi Bejo, ana ingatkan sekali lagi (ولا تنابزوا بالألقاب). Kalau antum punya bantahan ilmiyyah, ya tulis aja… jangan mengalihkan pembicaraan ke topik lain yg tidak ada sangkut pautnya…
Ana tidak menjelek-jelekkan nama antum karena kehormatan seorang muslim itu haram… demikian pula jangan jelek-jelekkan nama/kunyah saudara antum se-islam lainnya. Tunjukkan sikap toleran saat berdiskusi… toh kalaupun kita berselisih dalam masalah ini, masih banyak masalah lain yg kita sependapat khan?
Perlu antum ketahui, ana tidak ada sangkut pautnya dengan Roja’iyyun… dan istilah ini baru pertama kali ana dengar, ana khawatir termasuk dalam tanabuz bil alqaab yg diharamkan Allah. Fattaqillaaha fii nafsik wa fii ikhwaanik ya akhi. Baarakallaahu fiik.
Ana berharap dari admin agar lebih cermat dan obyektif dalam menilai seorang ulama, apalagi yg terkenal jasa-jasanya seperti Syaikh Al Albani. Silakan mengritik, asalkan proporsional dan pada tempatnya, jangan sekedar terjemahkan tulisan orang yg tidak mengenal Syaikh Al Albani melainkan dari satu atau dua statemennya… ini tidak obyektif namanya. Apalagi sampai mencap beliau sebagai sufi murji’ah, na’udzubillah… ittaqillaha ya akhi. Kalau seorang ulama salafi mengatakan suatu perkataan yg mengandung syubhat (atau pengertian yg tidak benar), maka tidak boleh serta merta dibawa kpd pengertian yg keliru, namun harus dicarikan udzur baginya. Sebab pada dasarnya dia adalah salafiyyul manhaj. Contohnya ketika Imam Sufyan Ats Tsauri, Syu’bah ibnul Hajjaj, dan Waki’ ibnul Jarrah (yg semuanya adalah imam-imam ahlussunnah) memuji seorang perawi yg bernama Jabir bin Yazid Al Ju’fi, dan menganggapnya perawi yg tsiqah dan jujur. Para ulama tidak lantas mencap Sufyan, Syu’bah dan Waki’ sebagai syi’i. Padahal Jabir Al Ju’fi oleh mayoritas ulama hadits dinyatakan sebagai penganut syi’ah ekstrim (rafidhi), dan inilah yg dirajihkan oleh Ibnu Hajar dlm Taqribut Tahdzib, bhw si Jabir ini: (ضعيف رافضي) “Seorang syi’ah rafidhah yg lemah haditsnya”. Pun demikian, tidak seorang pun dari ulama hadits yg memvonis Sufyan Ats Tsauri dkk sebagai syi’i karena pujian tadi. Demikian pula mestinya kita menyikapi statemen2 syaikh Al Albani yg multitafsir (bisa ditafsirkan benar dan bisa keliru), mengapa kita tidak menafsirkannya dengan penafsiran yg benar?
ini juga DALILUT kalah dalil gelut
Abu Hudzaifah Al Atsary serang teruzzz aku dukung
Eh sorry… nama Paijo itu salah, yang benar Bejo. Salah ngasih nama.
kagak ngerti (garuk-garuk kepala)..kok malah jadi bahan perdebatan sih..malah saling menghina sesama muslim gara2 kagak sepaham… padahal islam itu agama yang satu agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah rasulullah..mending kembalikan lagi pada Al-Qur’an dan sunnah deh..nggak perlu menggunakan pemikiran masing2…
sudah pada sholat belum nih…, wes gak usah ribut.
islam itu rohmatan lil alamin.. gak usah ribut donkk.
ada yang tau hadits ini: mereka membaca alquran, namun tidak melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati mereka). di hadits lain: iman itu ada di qalbu/hati. maka cermatilah artikel ini, dari orang yang mungkin terkait dengan dua hadits tersebut. bagaimana anda penulis, bisa mengkritisi iman yang ada di hati (dalam hal ini adalah tegaknya khilafah mulai dari hati) sedangkan amalan butuh kepada ilmu yang ada di hati?
Anda bisa kritik syeikh albani berarti anda juga bisa kritik al hasan alhudaibi dan anda juga harus kritis terhadap usaha mereka kelompok2 islam yang mencoba menegakan khilafah tapi masih saja gagal malah yang ada banyak rakyat sipil yang menjadi korban atau anda sendiri yng menyebut ini adalah resiko perang menegakan khilafah?
Ana menyarankan daripada kita mengoreksi ulama tanpa tabayyun benar2 terhadap apa yang diucapkan atau mksudnya apa, mendingan koreksi pribadi kita masing2 jangan kita merasa paling islami dan paling sholeh sejagad sementara tetangga kita masih ada yang belum kenal tauhid. Atau kita masih malu untuk berda’wah di kampung kita sendiri sementara ditempat lain kita koar2….contohnya seperti itulah
Antum pasti paham bahwa setiap manusia tdk akan terlepas dari salah dan dosa tidak ada manusia yg makshum selain Nabi Muhammad SAW…….bila Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad juga tdk lepas dari kesalahan apalagi ulama kontemporer saat ini yg jarak hidup mereka dengan Turunya Risalah Tauhid 1400 tahun yg lalu…..kalau mau jujur pd diri kita sendiri lebih baik kita terima kritikan saudara kita karena boleh jadi itu memang bener2 terjadi pd kita tp kalo kritikan itu tidak benar mudah2n sbgai pengingat kita bahwa tidak ada manusia yg sempurna yg Maha aempurna hanyalah Alloh.
sebenarnya ketika nasehat telah kita sampaikan dan orang lain gak mau terima,maka kita berlepas diri dari mereka yang penting dah di sampaikan.benar atau salah pada masing masing pihak kan ntar ada pertanggungjawaban masing masing ketika di hisab dan cuma Allah yang maha mengetahui,kita ahlussunnah sama sama menyadari dong bahwa setiap kepala beda2 pikiran dan pendapatnya jd jgan egois yang penting sudah kita sampaikan hujjah.katanya kita dasarnya al quran dan sunah???apa ada di quran dan sunah nyuruh saling hujat,buka aib saudara,eyel eyelan dan merasa paling pinter???katanya ngikuti rosululloh??apa rosul gitu?? tidak!!!syaikh albani adalah ulama yang sangat berilmu jd ga pantas untuk di cela dan di caci,kalo anda tau kesalahannya cukup untuk anda jgan di sebar2in,bgitupun buat mereka yang terlalu ghuluw dengan syaikh,berlapanglah dada untuk menerima kritik,karena manusia memiliki kelemahan dan kesalahan.jangan ghuluw dan taqlid,kan ente tau hukum taqlid.knapa kita ributin masalah gituan,toh para syaikh jga nggak saling ribut yang penting telah di sampaikan hujjah,perkara mereka mau trima atau gak itu urusan mereka. adapun urusan nama,sah sah saja mau di kasih embel embel apa asal sesuai dengan kelakuan dan pemahaman terhadap agama serta mengamalkannya,jangan mentang mentang ada atsarinya lalu di cela salafy atau murjiah tapi hormati mereka,begitupun yang pake nisbat atsary,klo pengetahuan ente memang masih perlu banyak blajar dan ilmunya belum tinggi melainkan untuk pamer aja,ya mbok tau diri,nisbat seperti itu boleh tapi berat,lha kita baru blajar alangkah baiknya klo tdak menggunakan dulu.mari kita jujur pada diri,seberapa sih tingginya ilmu kita sampe2 kita sombong danmerasa paling pinter??? smoga bisa di renungkan.
alhamdulillah… semoga bisa jadi renungan yg terindah, sehingga kita semua semakin giat menambah ilmu dan amal guna meraih ridho dan jannah Allah… آمـــــــــــــــــــين
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
Kenapa ahlul bid’ah.. bila di sampaikan Sunnah.. dia berpaling….
AYO KENAPA ??????