Ada fenomena baru yang menarik di halaman masjid Salman ITB Bandung. Kini di sana, tiap hari Jum’at dan Sabtu, diadakan kegiatan semacam pasar kaget yang dinamakan Pasar Islam.
Pasar ini baru berupa tenda yang menaungi sekitar 40-an pedagang. Sudah berjalan efektif sekitar dua bulan ini. Pasar Islam didirikan untuk menghidupkan ekonomi Islam secara riil, yang terbebas dari barang haram, transaksi riba, kecurangan dan perjudian.
Ini merupakan kabar gembira bagi para muslim idealis, yang banyak mengeluh dengan praktek Bank Syariah yang cenderung longgar dalam menerapkan hukum syariat. Bank Syariah memang didirikan masih dengan paradigma bisnis yang terlalu kuat, mengalahkan kontrol syariatnya.
Berikut ini tulisan penggagas pasar Islam Salman ITB, Thoriq Gunara, yang dikirim ke email penulis.
Setelah libur lebaran (Idul Fitri), Alhamdulillah Pasar Islam Salman ITB mulai bisa dilaksanakan lagi. Minggu pertama diadakan tanggal 23-24 Oktober & minggu kedua tanggal 30-31 Oktober 2009. Insya Allah Pasar Islam Salman ITB ini akan dilakukan setiap hari jumat dan sabtu.
Dari respon para pedagang semakin baik, hal ini terlihat semakin banyaknya pedagang untuk ikut berpartisipasi dalam pasar Islam ini. Tenda yang disediakan yang hanya cukup menampung 20 pedagang, pada minggu kedua sudah tidak bisa menampung lagi sehingga ada beberapa pedagang yang ikut berjualan di luar tenda.
Memasuki minggu kedua pasar Islam, dilihat dari omzet pedagang semakin naik, meskipun dari pihak panitia sudah mewanti-wanti bahwa tujuan berdagang dalam pasar Islam itu bukan omzet tapi dakwah, menghindari riba dan menghidupkan sunnah yang telah mati.
Respon dari pengunjung pasar Islam, Alhamdulillah semakin baik. Hal ini terlihat dari animo pengunjung yang antri di tempat informasi, yang berbelanja dan dinar dirham fulus yang keluar, bahkan pihak panitia sampai kehabisan fulus di minggu kedua Pasar Islam dari siang hari pertama dan hari kedua untuk memback up transaksi di pasar Islam.
Kejadian menarik dari pasar Islam ini adalah beberapa pedagang sudah bisa menjelaskan langsung kepada pengunjung tentang dinar dirham dan pasar Islam, bahkan ada pedagang yang jalan-jalan membagikan brosur pasar Islam dan sambil menjelaskan kepada para pengunjung sedangkan dagangannya malah ditinggalkan. Ada pula pedagang yang membantu pedagang yang lain untuk menukarkan uang pembeli ke tempat penukaran.
Untuk meningkatkan keilmuan, para pedagang ditekankan untuk mengikuti kajian muamalah setiap hari Rabu. Kajian muamalah ini isinya membahas tentang riba, fiqih dagang, dinar dirham dan pasar Islam. Ilmunya dipelajari hari Rabu, sedangkan prakteknya hari jumat dan sabtu di Pasar Islam.
Para pedagang dijelaskan tentang bagaimana mengambil keuntungan dari harga jual, menawarkan barang kepada pembeli dengan memberi tahu cacat barang dan tidak memaksa pembeli sehingga harus terjadi transaksi tetapi berusaha untuk mencari solusi yang terbaik bagi pembeli sehingga tertanam kepercayaan di dalam benak konsumen.
Harga-harga barang di Pasar Islam harusnya lebih murah karena tidak dikenakan biaya sewa dan pajak. Insya Allah barang-barang di Pasar Islam juga terjaga dari hal yang melanggar syar’i. Sebagai bukti, pada minggu pertama Pasar Islam ada barang-barang yang ‘diamankan’ oleh muhtasib (pengawas pasar) dengan memberi tahu pedagang bahwa ada beberapa dagangannya yang melanggar syar’i sehingga dilarang dijual di Pasar Islam.
Semua barang dagangan dihargakan dalam dinar, dirham dan fulus sehingga terhindar dari inflasi. Maka Pasar Islam harusnya bisa menjadi solusi bagi kaum muslimin terhadap permasalan pasar yang terjadi sekarang ini.
Para pedagang pun dijelaskan agar tidak saling menjatuhkan antar pedagang bahkan harus saling bantu ketika pedagang di sebelahnya memerlukan bantuan. Alhamdulillah, antar pedagang sudah saling berinteraksi dan melakukan transaksi juga dengan menggunakan dinar dan dirham.
Pengunjung Pasar Islam, Alhamdulillah sudah mulai menyukai pasar Islam seiring dengan meningkatnya pemahaman mereka tentang Pasar Islam. Hal ini terlihat dari pertanyaan para pengunjung pasar, “Kapan Pasar Islam ada lagi?”. Tidak sedikit juga yang mengeluh karena harus menukarkan fiat money-nya ke dirham dan fulus dengan alasan ribet. Hal ini terjadi karena ketidakpahaman pengunjung tentang edukasi yang kita lakukan.
Pihak panitia selalu terbuka terhadap saran dan kritik baik dari pedagang maupun pengunjung. Kita sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan Pasar Islam ini. Tetapi setidaknya kita sudah mulai berusaha untuk menghindari riba dan menghidupkan sunnah yang telah mati. Atas dasar kecintaan kepada Allah dan Rasulullah Saw, kita berusaha melaksanakan dengan sekuat tenaga dan secepat mungkin. Permudahkanlah jalan kami ya Allah, Amiin.
Saya:
Bagi pembaca yang tertarik mengkloning konsep pasar Islam di kotanya masing-masing, silakan menuliskan alamat antum di lembar komentar di bawah.
Sebagai PR awal, silakan mulai membentuk kepanitiaan dan mencari tanah wakaf yang strategis untuk dibuat pasar Islam, sehingga pedagang muslim bisa terhindar dari biaya sewa dan berbagai pungutan liar yang menjerat leher.
Mari dukung Pasar Islam !
Allahu akbar !
Filed under: Ekonomi Islam Ditandai: | Ekonomi Islam, Ekonomi Syariah, Pasar Islam
wahhh menarik neehhh
semoga bisa meluas ke seluruh penjuru nusantara.
saya juga pengen
Ass. Wr. Wb…..Kami….DKM Masjid Asy-Syifaa – Vila Nusa Indah II – Jatiasih Bekasi tertarik dan ingin membuka pasar syariah. Apakah kami dapat melakukan studi banding ke Masjid Salman dan siapa pengurus yg dapat kami temui..? Wassalam.
Silakan hubungi penggagasnya, Bp. Thorik Gunara dg nomor kontak 02270700186 (flexi) . Sebelum ke Bandung, mohon konfirmasi dulu kepada beliau, sebab awal januari kemaren kegiatan pasar Islam diliburkan karena ada perbaikan tempat/lapak.