Renungan Jihad Kontemporer


Renungan Jihad

Pertarungan ini ibarat perjalanan panjang lintas generasi, bukan pertarungan satu generasi atau satu hari saja. Pertarungan yang melibatkan seluruh umat Islam, yaitu kaum muslimin secara keseluruhan dengan segenap ragam suku dan bahasanya dari Asia hingga Afrika, dari Mauritania di barat sampai Indonesia di timur. Mereka semua harus menjadi generasi pintar dan peka.

Rasanya sudah cukup eksperimen yang dilakukan para pendahulu. Kita hanya perlu melihat hasil eksperimen mereka, bukan membuat eksperimen baru. Oleh karenanya, kita tak sepatutnya menapaki kesalahan mereka, atau jatuh pada perangkap yang sama. Kita hanya mampu berharap, semoga Allah memudahkan jalan kita dan mengampuni kesalahan kita, serta mempertemukan kita dengan para pendahulu dalam naungan rahmat-Nya.

Kita dihadapkan pada masa depan yang harus kita rancang dengan apik dan kita  raih dengan sempurna. Masa depan yang tidak semata tentang cita-cita egoistis kita untuk mati syahid dan sukses melewati ujian dunia. Tapi masa depan yang akan diwarisi generasi penerus kita. Oleh karenanya kita wajib mengorbankan segenap jiwa dan raga kita untuk memastikan kelak generasi kita menikmati kekuasaan Al-Qur’an, bukan kekuasaan konstitusi manusia.

Jihad harus dibangun di atas sunnah kauniyah dan sunnah syar’iyyah.

Maksud sunnatullah kauniyah adalah politik meraih tujuan. Bukan politik kotor yang dipamerkan para penyembah dunia dengan cara mengaduk al-haqq dengan al-bathil, menyamarkan kebenaran atau mengurangi harga kebenaran. Tidak, sekali lagi tidak. Tapi yang dimaksud, politik yang kita baca dari cara Nabi saw mengelola urusan umat baik dalam masalah sosial, dakwah dan jihad di medan tempur. Politik yang bermakna mekanisme baku dalam menegakkan peradaban manusia. Jika kita melalaikan mekanisme baku yang berlaku secara global ini, kita hanya akan berputar tanpa ujung disebabkan kita tak mencontoh Nabi saw dan tidak menapaki sunnatullah kauniyah-nya: hukum alam sebab akibat.

Sementara sunnatullah syar’iyyahnya, bahwa jihad harus juga dibimbing dengan syariat Islam, dengan misi meninggikan kalimat Allah. Ada syarat rukun yang wajib dipertimbangkan, ada adab yang mesti diperhatikan, ada ada bekal ruhani yang dibutuhkan.

Maka mujahid yang hanya mencari mati syahid, adalah jihad yang semata melaksanakan aspek syariah, dengan mengabaikan aspek kauniyah. Jihad bertujuan untuk meraih kemenangan sebelum bertujuan meraih kematian. Jadi, tujuannya adalah kemenangan, tapi menyiapkan mental untuk menerima kematian jika resikonya memang demikian. Bukan dibalik, tujuannya adalah mencari kematian, sementara kemenangan tak usah dipikirkan.

Mujahid yang baik harus mengerti bahwa pekerjaannya boleh jadi akan menghabiskan umurnya dan hasilnya bisa jadi baru bisa dinikmati oleh generasi penerusnya. Oleh karenanya ia tak boleh terburu-buru memetik buah kemenangan, karena akibatnya bisa fatal: ia tak berhasil memetiknya, dan hasil kerjanya juga tak bisa diwariskan kepada generasi sesudahnya.

Mujahid harus tahu rambu-rambu sunnatullah pertarungan antara al-haqq melawan al-bathil.

Perlu kita potret lebih khusus soal mekanisme menimbang kekuatan musuh untuk dipilah dan soal mekanisme kemitraan. Persoalan ini demikian penting, kita tak boleh lalai darinya dalam menganalisa realitas agar kita bisa mengukur kekuatan musuh dan menentukan siapa menurut kaca mata militer yang akan dijadikan mitra dan siapa yang akan menjadi musuh.

Dunia internasional memandang bahwa perubahan (kekuasaan) tergantung pada kekuatan militer (kemenangan). Keberhasilan hanya diukur dengan kekuatan dan kemenangan. Bukan oleh kemajuan teknologi, kekuatan ekonomi, apalagi sekedar kemeriahan Demokrasi.

Saat ini, dunia internasional berkoalisi memerangi kita. Jika ada yang tidak ikut dalam koalisi ini, sejatinya bukan karena simpati kepada kita. Tapi lebih disebabkan keinginan untuk memperoleh bagian lebih besar dari ghanimah ini (kita semua adalah ghanimah bagi mereka).

Mereka yang tidak masuk dalam koalisi internasional ini berpotensi untuk dijalin kemitraannya dengan kita.

Tapi masalahnya, kita wajib mengutamakan mitra setia yang bersedia berkorban untuk kita, bukan mitra yang suatu saat akan mengkhianati kita. Dan, mitra itu adalah umat Islam sendiri.

Jelaslah, umat Islam menempati salah satu dari dua papan timbangan, sementara yang lain ditempati blok kafir dunia. Fakta ini dipahami dengan baik oleh Barat dan para penguasa dunia. Oleh karenanya, mereka selalu melakukan upaya sistematis untuk memisahkan kita (mujahidin) dengan umat Islam.

Sesunggunya sandaran hakiki mujahidin setelah kepada Allah adalah kepada umat Islam yang selalu merindukan tegaknya undang-undang Al-Qur’an dalam kehidupan mereka hingga mereka bertemu Allah. Kewajiban mujahidin adalah menjadikan umat Islam dalam barisannya, tak boleh meninggalkan mereka sekejappun karena akan dimanfaatkan para penguasa dan hukum kufur.

Berjihad dengan mental dakwah

Mujahid harus mendasari jihadnya dengan mental dakwah, sebab mental jihad sangat hitam putih, memukul atau dipukul, membunuh atau terbunuh. Tapi jihad kita adalah jihad yang dijiwai dakwah sehingga ada seni dalam muamalah dengan pertimbangan dakwah. Mental dakwah yang dibingkai hikmah. Cara untuk mengalahkan musuh sangat bergantung pada situasi dan kondisi, dengan racikan bumbu solusi yang pas.

Mental dakwah untuk memastikan, semua mujahid memiliki dua senjata sekaligus; Kitab dan Pedang. Jika ia hanya memiliki pedang, akan sangat berbahaya bagi teman seiring. Bila hanya memiliki Kitab, akan lemah dalam membasmi musuh.

Menjadi mujahid tak harus terpolarisasi dalam keangkuhan jihadi yang hanya asyik dengan perkara-perkara “besar”. Tapi juga harus tetap telaten dengan pernik furuiyah yang “kecil”. Atau keasyikan ubudiyah yang berhenti pada “hati”. Ada Islam politik, Islam ilmu syariat, dan Islam hati. Tapi harus semuanya diperhatikan secara berimbang.

Lihat Umar bin Khattab ra berikut ini:

لما جاء عقبة بن عامر رضي الله عنه يبشره بفتح الشام ، و قد ركب إليه أسبوعا من الجمعة إلى الجمعة حتى وصل المدينة ، و أخبره بالفتح ، فكبر لذلك و سر المسلمون من هذا النصر المؤزر .

ثم نظر عمر إلى خفي عقبة ، فقال له : منذ متى لبستهما ؟ قال : منذ أسبوع و أنا أمسح عليهما ! فقال له عمر : أصبت السنة(1) .

و الأثر صحيح كما يقول ابن تيمية(2) و غيره .

Uqbah bin Amir ra ditugaskan oleh komandan mujahidin di Syam untuk membawa berita kemenangan dari medan tempur Syam. Dia menempuh perjalanan sepekan penuh, dari Jum’at hingga Jum’at berikutnya untuk tiba di Madinah. Dia lalu menyampaikan berita kemenangan kepada kepada Umar bin Khattab ra yang kemudian disambut dengan pekik takbir. Umat Islam ikut bergembira dengan kemenangan ini.

Umar melirik sepatu yang dikenakan Uqbah, seraya bertanya, “Sejak kapan kamu memakainya?” Uqbah menjawab, “Sejak sepekan yang lalu, dan selalu saya membasuhnya saja (saat berwudhu tanpa melepaskannya)”. Umar menukas, “Anda melakukan amalan sesuai sunnah”.

Juga contoh berikut ini:

و حين كان أمير المؤمنين في فراش الموت كان همّ الخلافة من بعده مما يقلق باله ، و بال أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم ، و مسألة الخلافة مصلحة عامة جوهرية خطيرة ، لكنها – على أهميتها – لم تشغل عمر عن المباحثة و المفاهمة في بعض الجزئيات ، فكان مما فعل – و هو طعين – أنه دخل عليه غلام من الأنصار ، فأثنى عليه خيرا فلما خرج رأى عمر في ثوبه طولاً ، فقال : ردوا علي الغلام !! فردوه فقال له : يا ابن أخي ! ارفع إزارك فإنه أنقى لثوبك و أتقى لربك !!(1) .

و بعد لحظات التفت إلى من حوله من الصحابة فقال لهم : ما تقولون في مسألة إرث الجد مع الإخوة ؟ فتحدثوا ، فقال عمر : ” إني كنت رأيت في الجد رأياً فإن رأيتم أن تتبعوه فاتبعوه ! ” فقال عثمان رضي الله عنه : إن نتبع رأيك فإنه رَشَد ، و إن نتبع رأي الشيخ قبلك فلنعم ذو الرأي كان !!

Tatkala Amirulmukminin Umar bin Khattab ra terbaring menunggu ajal, yang dia risaukan adalah suksesi kepemimpinan umat Islam, sebagaimana hal ini merisaukan para Sahabat yang lain. Masalah khilafah merupakan perkara besar dan penting karena berkaitan dengan persoalan umat secara luas. Meski demikian, hal ini tak membuat Umar mengabaikan perkara yang tampak kecil.

Ketika ada seorang remaja Anshar masuk rumah untuk menjenguknya, saat beranjak pulang Umar melihat bajunya menjulur. Umar mengeluarkan perintah: Panggil dia kembali ke sini ! Setelah dekat dengannya, Umar berkata: Wahai anak muda, angkat (tinggikan) bajumu karena hal itu lebih menjamin kesucian bajumu dan membuatmu lebih taqwa kepada Allah.

Tak lama berselang, Umar bertanya kepada para Sahabat di sekelilingnya: Apa pendapat kalian tentang hak waris kakek bersama dengan saudara almarhum? Mereka diskusi, lalu Umar menyela: Aku memiliki pendapat sendiri tentang hak waris kakek, jika kalian suka silakan ikuti pendapatku. Utsman yang saat itu ada di sisinya menjawab: Jika kami mengikuti pendapatmu, itu baik. Dan jika kami mengikuti orang sebelummu (Abu Bakar) itu juga pendapat yang baik.

Inilah Umar, seorang Amirul Mukminin yang disibukkan dengan perkara-perkara besar yang bersifat keumatan, tapi tak membuatnya mengabaikan perkara furu’iyah. Inilah sosok mujahid yang kita inginkan. Mujahid yang bermental dakwah.

 


(1) رواه البيهقي (1/380) .

(2) الفتاوى (21/ 178) .

(1) رواه البخاري (3700) من حديث عمرو بن ميمون .

Satu Tanggapan

  1. As Salamu ‘alaikum
    Indonesia… negeri yang aneh.
    Jin gentayangan di peradaban manusia.
    Kenapa bisa begini?
    Siapa yang paling bersalah?
    Bisakah kita memperbaikinya?

    http://antimain.wordpress.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya.